Senin, 01 April 2019

Telaah Buku Witchcraft, Oracles and Magic Among the Azande

Buku Witchcraft........ by E.E. Evans-Pritchard


Pritchard dalam karya etnografi klasiknya ini mengambil setting pada orang-orang Azande yang mendiami Negara Sudan Selatan, Zaire dan Afrika Tengah di mana tulisan ini berkutat pada kepercayaan orang Azande tentang aktivitas ilmu sihir, sehingga hampir keseluruhan dari perilaku mereka berkutat pada kepercayaan tersebut. Pritchard (1937: 3) mengatakan bahwa orang Azande percaya jika kemampuan menjadi seorang penyihir adalah kemampuan yang diwariskan secara unilinear, di mana apabila penyihirnya adalah seorang laki-laki, maka diwariskan kepada anak laki-lakinya, sedangkan anak perempuan di keluarga tersebut tidak, demikian sebaliknya apabila penyihir tersebut adalah seorang perempuan, maka kemampuan penyihirnya hanya diwariskan kepada anak perempuannya.
            Orang Azande menurut Pritchard dalam buku ini senantiasa mempercayakan setiap aspek dari kehidupan mereka pada aktivitas sihir, tabib dan peramal. Pritchard banyak membahas dalam bukunya tentang bagaimana seorang penyihir memandang dirinya dan bagaimana orang-orang di dalam lingkungan social melihatnya. Para penyihir Azande menurut Pritchard, meyakini bahwa kemampuan mereka bersemayam di perut, kadangkala mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menyakiti orang lain melalui kemampuan sihir yang dimilikinya, inilah yang kemudian membuat lingkungannya selalu membentuk stereotipe terhadap orang-orang yang dicurigai mewarisi ilmu sihir, sehingga jika terjadi sesuatu yang ganjil kemalangan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional, maka penyihir lah yang disalahkan, di mana orang-orang Zande sebelumnya mereka meminta pandangan terhadap peramal yang menunjukkan jalan keluar melalui nubuat-nubuat tertentu.
            Dikarenakan orang Azande percaya bahwa sihir selalu ada, mereka pun sering menjalankan beberapa ritual untuk mencegah atau membatalkan kekuatan sihir yang ditransmisikan secara lokal, mirip seperti ritual tolak bala yang ada di Indonesia. Meski sihir dalam perspektif orang Azande tidak ditransmisikan melalui mantra-mantra tertentu, orang Azande percaya bahwa sihir dapat ditransmisikan melalui benda-benda tertentu melalui kekuatan psikis seorang penyihir. Hanya ada satu cara untuk menetralkan sihir, yaitu dengan nubuat dari oracle dan dukun yang juga mengerti bagaimana cara menangkal ilmu sihir dengan ritual-ritual tertentu.
Sebagai salah satu contoh dari betapa pentingnya ilmu sihir dalam kehidupan masyarakat Azande sehingga membentuk sistem hukum dalam tatanan sosial mereka adalah dengan melakukan pembuktikan terhadap kasus perselingkuhan dengan menggunakan ayam, yang mana dengan perlakuan tertentu terhadap ayam tersebut apabila ayam tersebut tetap hidup, maka perselingkuhan yang dituduhkan tidak pernah terjadi, namun apabila ayam tersebut mati, maka berarti telah terjadi perselingkuhan, dan dengan demikian maka perkara dikembalikan kepada oracle untuk menentukan hukuman apa yang pantas akibat pelanggaran tersebut.
Saya melihat bahwa karya etnografi Pritchard ini bukan saja mendeskripsikan kehidupan orang Azande dalam kaitannya dengan keyakinan mereka yang kuat terhadap aktivitas sihir, namun juga merupakan karya paling awal yang mendeskripsikan keyakinan dan ritus-ritus yang berkaitan dengan magis dan ilmu gaib dalam masyarakat non-Eropa, tentunya dengan konsepsi yang berbeda, karena sudut yang digunakan adalah bagaimana orang Azande melihatnya sebagai suatu bagian dari kehidupan dan keseharian mereka.
Pendekatan Pritchard dikemukakannya secara jelas dalam pengantar bukunya yang menunjukkan bagaimana keyakinan-keyakinan mistik dan ritus membentuk suatu “sistem ideasional”, dan bagaimana sistem ini diekspresikan dalam aksi sosial. Dia menganggap tidak ada gunanya mendeskripsikan aspek-aspek lain dari kehidupan sosial orang Azande. Oleh karena itu penekanannya bersifat intelektual, memfokuskan bagaimana ilmu gaib berkaitan dengan nasib buruk sebagai suatu bentuk penjelasan yang distereotipkan. Dalam konteks ini, maka hampir dipastikan bahwa sihir dan nubuat serta aktor-aktor yang ada di lingkaran tersebut merupakan sentral dari keyakinan yang membentuk tatanan sosial orang Azande.
Pritchard berpandangan secara tegas bahwa keyakinan orang Azande tentang sihir dan nubuat tidak dapat dipahami tanpa konteks sosial dan fungsi sosialnya. Sihir dan nubuat memainkan peran besar dalam memecahkan perselisihan antara orang-orang Azande sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya. Dalam hal ini Pritchard setuju dengan pandangan beberapa peneliti sebelumnya tentang konteks keyakinan yang didefinisikan sebagai agama, bahwa agama mereka juga memiliki aspek intelektual jelas. Keyakinan orang-orang Azande dalam ilmu sihir dan nubuat cukup logis dan konsisten setelah beberapa prinsip-prinsip dasar yang dapat diterima dari kepercayaan mereka.
Membaca karya Pritchard tentang keyakinan orang Azande yang tersentralisasi pada dunia sihir dan magis rasanya tidak lengkap tanpa membuat perbandingan dengan fenomena empiris dengan contoh kasus yang terjadi di Indonesia. Bubandt (2014: 143) yang menggunakan contoh dua kematian mendadak dalam masa-masa menjelang Pilkada di Maluku Utara mencoba menampilkan keyakinan masyarakat Maluku Utara tentang fenomena sihir dan magis yang digunakan dan dipercayai oleh masyarakat, di mana keyakinan ini tumbuh kuat dalam tatanan sosial masyarakat yang meyakini keberadaan aktivitas sihir ini. Di Maluku Utara, persis sama seperti orang-orang Azande, di mana kemampuan sihir diwariskan, pengobatan menggunakan dukun dan ‘orang-orang pandai’ yang didengarkan nubuatnya untuk keluar dari situasi-situasi seperti mencari tahu siapa yang mencuri dengan ritual yang dinamakan ‘mawi’ serta menangkal santet.
Tidak berhenti disitu, kemiripan yang terjadi sebagaimana yang dijelaskan oleh Pritchard tentang orang Azande juga merambah pada aktivitas ekonomi dan matapencaharian, di mana nubuat-nubuat diperlukan untuk menjaga kelangsungan panen dan mengatur cuaca. Warisan-warisan kuno pra-Islam yang menjadi kepercayaan masyarakat Maluku Utara ini juga memberikan gambaran mendalam tentang keyakinan masyarakat pada kekuatan magis yang menguat melalui aspek-aspek tertentu yang membuktikannya, inilah yang kemudian membentuk struktur keyakinan dan pengetahuan masyarakat tradisional tersebut pada aspek metafisik yang kadang-kadang, bertahan, berlanjut dan bertransformasi bahkan hingga saat ini.

REFERENSI
Bubandt, N. (2014). Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Indonesia Kontemporer. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Evans-Pritchard, E. E. (1937). Witchcraft, oracles and magic among the Azande (Vol. 12). London: Oxford.


Minggu, 06 Januari 2019

Sebuah Institusi Bernama Cinta


Ilustrasi | Via Pribadi
Cinta adalah penemuan paling tua di kehidupan, sebuah perasaan yang memungkinkan terjadinya penyatuan segala hal. Sebuah perasaan tanpa alasan dan juga tanpa penjelasan. Kita dapat melihat cinta dari bagaimana hujan menurunkan rintiknya, bagaimana ia membuat kehidupan mendapatkan definisinya yang universal. Kita dapat melihat cinta dari deburan ombak di tebing pantai, bagaimana tebing yang perkasa harus ikhlas menerima dirinya yang terus-menerus tergerus.
Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa cerita tentang cinta adalah cerita tentang keindahan, sebuah perasaan yang membuat mata kita berkaca-kaca ketika melihat dan menjalaninya. Pertanyaan pun muncul, apakah cinta hanyalah sebuah keindahan? Entahlah, bahkan Shakespeare pun tidak berani mengklaimnya, karena Romeo dan Juliet saja berakhir sedih dan memilukan.
Apakah ukuran-ukuran keindahan dalam cinta itu terukur dalam kesenyapan yang sederhana? Sepasang kekasih yang mendorong sepeda motor mereka yang kehabisan bensin di tengah guyuran hujan? Ataukah sepasang suami istri yang saling menguatkan dengan cara membelai kepala mereka masing-masing karena kelaparan? Seorang suami yang cemas ketika menunggu persalinan istrinya? Entahlah.
Bagi saya, cinta adalah sebuah proses untuk saling menempa diri, memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, menerima dan mengkonsepsikan masa depan. Sebuah perjuangan maha berat yang harus dilewati dengan cara-cara kita sendiri. Bukankah Adam dan Hawa saja harus berkeliling dunia untuk saling menemukan ketika mereka dilemparkan Tuhan masing-masing ke belahan dunia yang berbeda!?
Meski begitu, cinta bukanlah sekedar sebuah pencapaian, cinta adalah proses dari semua yang bermula tapi tak berakhir. Adalah sebuah kesalahan apabila saya berkata pada seorang perempuan dengan pertanyaan seperti; “Maukah kau menjadi pendampingku, sebagaimana Ainun pada Habibie yang membuat kisah cinta mereka jadi panutan sebuah bangsa?” atau “Maukah kisah kita indah seperti Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, yang monumennya dipuja dunia sepanjang masa?”. Kisah cinta tiap orang memiliki tonggaknya sendiri, punya jalan ceritanya yang akan tetap indah meski tanpa pencapaian apa-apa.
Apakah cinta hanyalah sebuah penerimaan, sebagaimana seorang lelaki yang menyapu dadanya untuk menguatkan hatinya ketika, menerima kabar bahwa perempuan yang dicintainya tak lagi memiliki kehormatan di masa lalunya? Ataukah seorang wanita kaya yang mengabaikan kemiskinan seorang lelaki pekerja ladang yang dicintainya? Tidak! Cinta bukan saja sebuah penerimaan, cinta adalah bagaimana salah satunya mengulurkan tangan ke yang lain untuk keluar dari jeratan-jeratan peristiwa segala masa. Mengangkat ketika jatuh, memapah ketika tak mampu, menguatkan ketika lemah. Itulah cinta.
Di Jepang, ada sebuah kisah di mana seorang pemilik rumah sedang berusaha merobohkan tembok yang terbuat dari kayu, sebagaimana umumnya rumah di Jepang, kayu tersebut memiliki celah berupa ruang kosong. Ketika tembok kayu tersebut dibongkar, si pemilik rumah menemukan seekor kadal yang terperangkap di ruang kosong tersebut karena kakinya melekat pada sebuah paku.
Si pemilik rumah merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?.
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Si pemilik rumah berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!
Si pemilik rumah itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya.
Si pemilik rumah merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta… Cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban, begitu banyak keajaiban.
Kisah kadal di Jepang bagi saya adalah sebuah pelajaran sederhana yang luarbiasa, bahwa cinta adalah sebuah praktik saling menghidupkan, seperti ruang di antara waktu. Tanpa keduanya, tak mungkin tercipta sebuah dimensi. Di manapun, kapan pun, cinta selalu punya cara untuk menegaskan dirinya dalam sebuah kesemestian yang paling sejati.
Cinta adalah sebuah institusi di mana senyum dan nafas bisa menjadi sebuah pelajaran tentang bagaimana kita menangani keinginan terhadap sesuatu. Bahwa mestinya cinta membuat kita paham untuk semakin kuat dalam bahagia maupun dalam sedih, dalam ramah pun dalam marah, serta dalam gelisah maupun yakin.
Sebagaimana kisah kadal Jepang, cinta adalah perjuangan. Ketika perjuangan tersebut berhenti, maka disitulah batas cinta. Sekejap saja ia berubah. Itu bukan lagi cinta. Sesederhana itu. Ahh… saya penasaran dengan perasaan kedua kadal itu ketika perjuangan mereka saling bahu-membahu melewati masa sulit selama 10 tahun akhirnya pungkas.

Selasa, 25 Desember 2018

Komunitas Sion dan Gereja Orang Kulit Hitam

Buku Melvin D. Williams | Dok. Pribadi


PENDAHULUAN
Melalui buku ini, Williams ingin menggambarkan secara lebih jelas bagaimana perilaku dan karakteristik keagamaan sekte kulit hitam dengan menjadikan perkumpulan sion sebagai titik berangkat komunitas yang menjadi tempat mereka bernaung. Bagi Williams, Gereja Sion telah menjadi unit penelitian antropologis yang dapat dikelola untuk menyelidiki sistem perilaku manusia yang dinaunginya. Baginya lebih lanjut, gambaran antropologis tentang sifat hubungan sosial dalam Sion ini mencerahkan dan heuristik untuk penelitian lebih lanjut. Williams membahas penelitian terdahulu tentang pantekostalisme yang umumnya berhipotesis bahwa kelompok-kelompok sektarian ini merupakan pelarian dari anomi dan upaya untuk membangun kembali "komunitas" di bawah kondisi keterasingan dan tidak adanya norma yang mengatur hidup mereka. Penelitian Williams pada dasarnya mencoba untuk menguji sifat kohesif dari hubungan sosial dan perilaku satu kelompok orang kulit hitam.
Faktor agama adalah variabel paling signifikan dalam perilaku orang kulit hitam yang telah diamati oleh Williams dan dicontohkan oleh sifat kohesi komunitas yang diciptakan oleh agama di antara ghetto Orang kulit hitam yang dianggap memiliki ikatan komunitas yang longgar. Dalam konteks religiuslah Sion mengembangkan definisi bersama tentang perilaku manusia. Williams mengatakan bahwa agama adalah salah satu cara paling signifikan di mana masyarakat saling menjamin kesediaan mereka untuk mengorbankan tujuan pribadi demi kepentingan bersama. Ini tidak berarti bahwa mereka sangat religius atau bermoral. Alih-alih, afiliasi keagamaan harus diambil untuk apa adanya — jaminan publik akan kemampuan seseorang terhadap masalah-masalah kelompok, apakah seseorang kebetulan "bermoral" atau tidak.
Di pembukaan tulisannya, Melvin D. Williams mengatakan bahwa memahami orang kulit hitam di Amerika Serikat menjadi tugas penting bagi para ilmuwan, sebab ketika pemahaman itu didapat, maka akan menjadi kontribusi penting terhadap pengetahuan kita tentang perilaku manusia. Williams berpendapat bahwa sejauh ini, sebagai pengamat fenomena manusia yang terikat oleh budaya, kita telah lalai untuk melindungi penelitian kita secara memadai tentang orang miskin perkotaan yang buruk dari karakteristik distorsif manusia pada umumnya. Menurut Williams, dengan kriteria pencapaian, pengakuan, status, prestise, kompetisi, kekayaan materi, kekuasaan, dan ya, kemiskinan, ilmuwan sosial yang menganalisa perilaku orang kulit hitam telah berulang kali gagal mengindahkan peringatan yang oleh Williams (1974: 3) disebut sebagai:
Important, however, as variety of information and interest doubtless are, one factor must take precedence in the scientist's equipment-the spirit in which he aproaches his scientific work as a whole. In this respect the point that would probably strike most european or, at all events, continental scientist is the rarity america of philosophical inquiries into the foundations of one's scientific position.
(Penting, bagaimanapun, karena berbagai informasi dan minat yang tidak diragukan adalah, salah satu faktor harus didahulukan dalam peralatan ilmuwan - semangat di mana ia mengesampingkan karya ilmiahnya secara keseluruhan. Dalam hal ini, titik yang mungkin akan menyerang sebagian besar Eropa atau, pada semua peristiwa, ilmuwan di seluruh benua adalah langkanya penyelidikan filosofis ke dalam fondasi posisi ilmiah seseorang.
Akibatnya, asumsi dasar kita telah secara konsisten mendistorsi kesimpulan kita. Kenyataan yang paling tidak substansial seringkali mengundang perhatian kita, sementara keindahan serta kebaikan yang hidup dalam gaya hidup adaptif orang kulit hitam yang miskin telah diabaikan atau disalahtafsirkan.
            Williams secara langsung mengkritisi hasil penelitian sebelumnya dengan secara langsung membandingkan dengan bagaimana ia memperlakukan penelitiannya ini. Sebagai seorang kulit hitam, Williams tidak sekedar memanfaatkan statusnya sebagai ‘bekal konfrontasi’ dengan penelitian sebelumnya, namun dengan keterlibatan aktif di gereja dan komunitas Sion, sebagai bagian dari komunitas kulit hitam namun berusaha menjaga jarak dengan objek penelitian, Williams menggali apa yang selama ini lalai digali oleh para peneliti terhadap orang kulit hitam.
            Secara metodologis, cara ini efektif untuk mengenal masalah inti dari suatu kelompok masyarakat. Minako Sakai (2017: 18-19) yang meneliti tentang identitas orang Gumay di Sumatera Selatan juga menggunakan metodologi yang sama dalam mengupas identitas dan masalah orang Gumay dalam perantauan mereka. Sakai menggunakan pendekatan kelembagaan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan membangun persepsi keingintahuan yang sama terhadap pertanyaan-pertanyaan yang juga dicari oleh kelompok masyarakat tersebut.
            Untuk menemukan masalah orang kulit hitam, Williams juga memberlakukan komunitas sebagai unit penelitiannya. Dengan kreatifitasnya, ia menerapkan strategi di mana ia turut serta dalam semua aktifitas formal dan non formal di Sion, Williams bahkan mengikuti acara piknik yang diselenggarakan oleh ibu-ibu rumah tangga anggota komunitas Sion. Keterlibatan aktif dengan apa yang dilakukan oleh infroman juga dilakukan oleh Nancy Lee Peluso ketika melakukan penelitian tentang penguasaan sumberdaya kehutanan di pulau Jawa. Peluso (2006: 364-373) mengatakan bahwa dengan keterlibatannya pada aktifitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat di beberapa pinggiran hutan yang ditetapkan sebagai otoritas Perhutani, ia dapat melihat dan merasakan secara langsung dari sudut pandang masyarakat, bagaimana persepsi mereka dalam merespon perubahan situasi dan bagaimana masalah yang ada di benak mereka.
            Keterlibatan menjadi kunci penting Williams dalam mencari tahu masalah orang kulit hitam yang selama ini dianggap kalah dalam kehidupan perkotaan utara. Ia menepis semua klaim peneliti sebelumnya berkaitan dengan metodologi yang mereka gunakan dalam meneliti orang kulit hitam. Para peneliti sebelumnya cenderung menggunakan jarak yang sigfinikan ketika meneliti orang kulit hitam karena penelitian mereka sudah terfragmentasi oleh bingkai yang menetapkan bahwa orang kulit hitam identik dengan persoalan kemiskinan, kejahatan dan lain sebagainya, hal yang membuat mereka mengabaikan akar masalah orang kulit hitam yang sesungguhnya.

SEJARAH RINGKAS ORANG KULIT HITAM AMERIKA
Williams memulai dengan gambaran historis orang kulit hitam di Amerika pasca perang sipil. Kebanyakan berasal dari Afrika, orang kulit hitam menjadi pekerja 'tidak berguna' di perkebunan Amerika. Mobilitas mereka berlanjut tatkala hukum perbudakan berakhir. Segera setelah Emansipasi, Orang Kulit Hitam bermigrasi ke kota-kota Selatan dalam jumlah yang lebih besar, secara proporsional, daripada orang-orang kulit putih. Selama sepuluh tahun berikutnya orang-orang kulit hitam secara bertahap pindah ke banyak kota di selatan. Sebelum 1916, sekitar 90 persen orang kulit hitam berada di Selatan, dan dari jumlah ini, 80 persen tinggal di daerah pedesaan.
Perang Dunia I mendorong migrasi massal orang-orang kulit hitam ke kota-kota di utara. Perang itu menciptakan permintaan besar bagi pekerja tidak terampil di industri utara dan sekaligus mencegah imigrasi normal pekerja tidak terampil dari Eropa. Migrasi dari Selatan didorong oleh banyak faktor - perampasan ekonomi, tuan tanah yang tidak bermoral, dan perilaku para pedagang yang eksploitatif. Setelah gelombang awal migrasi ini menurun, tetapi Kulit Hitam masih pindah ke kota-kota utara sampai Perang Dunia II, ketika mereka kembali tertarik dengan industri perang untuk memenuhi kebutuhan militer Amerika Serikat pada perang tersebut.
Sebagai akibat dari gerakan geografis yang konstan ini, di antara faktor-faktor lain, orang-orang kulit hitam jarang menemukan di Dunia Baru kombinasi dari faktor etnis, ekonomi, sosial, dan politik yang menciptakan dan memelihara komunitas. Mereka telah menjadi sejarah ketidakkekalan dan ketidakmampuan untuk mengendalikan nasib mereka sendiri.
Statistik tentang migrasi internal di Amerika tidak komprehensif. Sebagian besar informasi harus berasal dari data sensus tentang variasi populasi dari daerah ke wilayah dan dari dekade ke dekade. Bagaimanapun, menurut Williams, kita semua tahu bahwa pada tahun 1915 Migrasi Besar Orang Kulit Hitam dimulai di Amerika Serikat, dan terus berlanjut sejak itu.

GEREJA SEBAGAI ASOSIASI ORANG KULIT HITAM DI PEDESAAN SELATAN
Williams menjelaskan bahwa orang kulit hitam di pedesaan wilayah Selatan tidak bersaing dengan kulit putih secara sosial atau ekonomi. Orang kulit putih secara paternalistik memperlakukan mereka sebagai bawahan dan mendorong mereka untuk hidup sederhana, tidak kompleks. Kontak sosial mereka terdiri dari lingkungan dan kelompok keluarga besar yang bergantung pada anggota mereka sendiri untuk persahabatan dan dukungan dalam krisis ekonomi dan ketidakpastian.
Hubungan ini menciptakan suasana ekspresi bebas dan toleransi tanpa batas. Kepemimpinan sosial sementara dalam kelompok-kelompok kecil yang akrab ini biasanya berasal dari karisma, dan standar status sosial yang sangat cair. Jadi seorang anggota komunitas penduduk kulit hitam kecil di daerah pedesaan Selatan menemukan keamanan sosial, ekonomi, dan psikologisnya terikat pada kualitas hubungan ini, yang memberi penerimaan kepada identitas pribadinya sejak lahir sampai mati.
Ada sedikit tekanan pada pencapaian, daya saing, status, prestise, kekayaan, atau peleburan materi dalam komunitas kecil ini. Penekanannya adalah pada hubungan keluarga, ritus peralihan, dan berita dari mulut ke mulut yang menarik bagi keanggotaan. Komponen penting dari komunitas ini adalah keintiman, kebebasan berekspresi, kontak tatap muka, dan lingkungan sosial dan fisik yang akrab. Seperti yang dibahas oleh Williams, karakteristik yang sudah akrab ini adalah bahwa anggota Gereja Sion yang pindah ke Pittsburgh sebelum tahun 1919 berusaha untuk melestarikan agama mereka.
Williams mengatakan bahwa gereja adalah asosiasi paling penting bagi sebuah keluarga kulit hitam di pedesaan Selatan. Gereja dan keanggotaannya sering menentukan batas-batas komunitas pedesaan. Gereja adalah sarana ekspresi komunitas yang paling penting, dan orang-orang kulit hitam di pedesaan Selatan membuat pengorbanan finansial dan material untuk mempertahankannya. Gereja sering menjadi pusat kegiatan rekreasi, dan bangunannya sering digunakan sebagai gedung sekolah. Masyarakat pedesaan ini memiliki organisasi untuk saling membantu, terutama selama kematian dan penyakit menyerang mereka.
Gereja mengatur kehidupan pedesaan mereka menjadi 'normal' untuk bisa dikatakan lari dari situasi di mana orang kulit hitam di pedesaan pun hidup dalam keterbelakangan dibanding masyarakat kulit putih yang umumnya hidup di perkotaan. Meski begitu, orang kulit hitam yang hidup di pedesaan bagian selatan memiliki nilai-nilai hidup dan sistem kekerabatan yang cukup baik dan terjaga.

MIGRASI KE KOTA DAN PERUBAHAN SOSIAL
Migrasi ke kota-kota menciptakan krisis sosial, karena memisahkan penduduk kulit hitam dari gaya hidup pedesaan mereka dan menghancurkan organisasi sosial yang memberi makna bagi masyarakat pedesaan selatan yang memiliki andil dalam menyatukan mereka sebagai unit-unit sosial. Pada kenyataannya kota-kota di utara ternyata bukan "tanah perjanjian" yang dicari, tetapi bagaimanapun itu adalah perbaikan atas kondisi sosial merekadi selatan yang miskin, yang menjadi musabab mereka 'melarikan diri' ke utara. Rata-rata penduduk kulit hitam dari pedesaan Selatan ini tidak terampil, dan pekerjaan mereka pada umumnya terbatas pada pekerjaan-pekerjaan umum, seperti layanan rumah tangga, dan bagi hasil di perkebunan. Minimnya keterampilan membuat nasib mereka di perkotaan utara bahkan tidak lebih baik dibanding nasib mereka di Selatan.
Di lingkungan kota, keluarga orang-orang Negro dari daerah pedesaan tidak memiliki basis kelembagaan dan hanya disatukan oleh kerja sama untuk mencari nafkah atau simpati dan sentimen yang dihasilkan oleh hidup bersama di rumah yang sama, mereka nyaris tidak mampu bertahan dan sebagian besar dihancurkan oleh kerasnya kehidupan perkotaan di utara.
Dalam lingkungan impersonal yang begitu dingin di kota, institusi dan asosiasi yang telah memberikan keamanan dan dukungan untuk Negro (kulit hitam) di lingkungan pedesaan tidak dapat lagi dibangkitkan. Masyarakat tidak bisa lagi saling membantu bahkan untuk mengatasi krisis besar yang paling ditakuti orang-orang Negro. Bahkan, di daerah kumuh yang padat di kota-kota utara, tetangga dan persahabatan tidak lagi memiliki arti. Orang Negro tidak dapat lagi menemukan bahkan kehangatan dan simpati dari organisasi persaudaraan yang telah menjadi warna dan ornamen ketika berada pada situasi yang menjemukan di Selatan. Krisis lain yang signifikan dalam kehidupan migran kulit hitam adalah hilangnya gereja mereka. Gereja telah menjadi titik pusat kehidupan sosial mereka dan sampai batas tertentu telah memberi makna pada hidupnya, yang sebagian besar terisolasi dari mainstream Amerika dengan gaya hidup modern yang sangat kompleks.
Perasaan keterasingan membuat kekosongan di dalam kehidupan dan proses sosial mereka, hal yang sama digambarkan oleh Usman Pelly (1994: 13) dalam buku berjudul Urbanisasi dan Adaptasi, buku ini membahas tentang bagaimana masyarakat Minangkabau dan Mandailing mencoba untuk bertahan dari tantangan kehidupan di kota Medan, ketika manusia secara individu merasa jauh dari situasi di mana mereka telah terbiasa dengannya, maka akan terjadi kekosongan, kehidupan pasca migrasi benar-benar memperkenalkan mereka dengan kehidupan baru dan orang-orang baru, maka mereka di sisi yang lain harus mencari alternatif untuk keluar dari situasi tersebut. Satu-satunya cara adalah kembali melahirkan nuansa di kampung halaman ke kota perantauan, dan yang paling mungkin adalah berkumpul dengan orang-orang dari tempat asal.
Hal yang sama terjadi juga pada orang kulit hitam dari selatan seperti yang dibahas oleh Melvin D. Williams, mereka merindukan suasana selatan ketika harus dihadapkan pada masalah perkotaan di utara yang serba kompleks. Mereka tidak mampu mengatasi perubahan total yang begitu kencang di perkotaan, oleh karena itu mereka membuat rekayasa dengan melibatkan komunitas yang dapat membawa mereka pada suasana kehidupan di kampung halaman. Dalam hal ini, Sion menghidupkan kembali gambaran daerah pedesaan di Selatan serta asosiasi religius intim yang kondusif untuk menciptakan status sebagaimana yang mereka dapatkan di selatan.
Sebagaimana wilayah urban, ghetto penduduk kulit hitam di perkotaan secara kultur hidup dengan masalah seks bebas, kehidupan jalanan, pemerkosaan, prostitusi, perdagangan manusia, alkoholik, narkoba dan masalah sosial lainnya. Tetapi bagi orang-orang yang temperamen dan kecenderungannya tidak sesuai dengan orientasi-orientasi itu, isolasi seperti itu sangatlah mengerikan.
Selain itu, banyak orang kulit hitam telah dipaksa untuk mencari nafkah sebagai pekerja kasar dan rumah tangga. Dalam banyak contoh, struktur kehidupan mereka di lingkungan perkotaan belum memasukkan pola asosiasional yang bermanfaat, dan gereja-gereja dengan banyak ragam aliran telah datang untuk mewakili bagi mereka adalah bentuk kritis dari kehidupan sosial yang terorganisir, alih-alih menawarkan keintiman seperti yang mereka harapkan.
Gereja Kristus Suci (organisasi internasional gereja-gereja di mana Sion berada) memungkinkan ghetto Orang Kulit Hitam untuk mengatur kembali dan merevitalisasi ide-ide mereka tentang kultur, dunia, dan diri mereka sendiri. Karena itulah para anggota berusaha untuk mendirikan sebuah gereja yang secara intim milik mereka, sebuah gereja di mana mereka adalah para pemain daripada penonton.
Perasaan untuk merasa terlibat dalam proses sosial dibanding harus terpuruk dan termarjinalisasi adalah sumber depresi utama para migran. Alba dan Nee (2003: 57) mengatakan bahwa sumber dari masalah para migran adalah perasaan di mana mereka tidak terlibat dalam perputaran kehidupan di lingkungan barunya. Alih-alih terlibat, mereka justru termarjinalisasi dalam hal keterjangkauan terhadap akses-akses tertentu di lingkungan baru tersebut. Akibatnya, muncullah masalah-masalah sosial yang secara berkesinambungan menjadi prototype yang secara umum menggambarkan kehidupan para migran tersebut di lingkungan barunya. Mereka butuh dinamika, situasi di mana mereka juga menjadi ‘pemain’ dalam proses sosial.
Williams menggambarkan bahwa dinamika adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh orang kulit hitam, karenanya keintiman kelompok utama di Sion juga mengisi komunitas ini dengan kecemasan, tekanan, ketakutan, kecemburuan, dan persaingan yang diekspresikan dalam hubungan anggota-ke-anggota. Pada saat yang sama, ia memberikan cara hidup yang bermakna, menarik, memakan waktu, dan menyerap energi. Ambivalensi yang intens membuat hubungan ini sangat menarik bagi para anggota. Mereka mengekspresikan minat itu dan bereaksi terhadap dinamika kelompok melalui gosip, pembagian, dan ancaman perpecahan. Mereka melepaskan emosi yang dihasilkan oleh tekanan dan kecemasan dari hubungan intim ini melalui pembersihan pada ibadah gereja. Dengan demikian dinamika yang berpotensi mengganggu ini dipertahankan pada tingkat yang dapat ditoleransi oleh masyarakat.
Menurut pendapat Williams, bahwa dinamika yang intens dari hubungan-hubungan ini di Sion menciptakan suatu komunitas vital yang begitu menyerap minat anggota yang dapat mereka habiskan seumur hidup di Sion, dalam suatu subkultur yang mereka sendiri relatif terisolasi dari masyarakat yang lebih besar. Sebagian besar anggota dan semua anggota inti menghabiskan sebagian besar setiap hari untuk membahas, memikirkan, atau bekerja untuk Sion. Dengan demikian kualitas interaksi yang umum di antara orang-orang "miskin" ini diintensifkan di Sion untuk menciptakan komunitas yang layak dalam konteks urban yang aneh dengan cara kombinasi keintiman di daerah Selatan, doktrin cinta Alkitab, dan konsepsi yang diidealkan. peran dalam keluarga Amerika. Ini adalah dasar bagi subkultur mereka; ini telah menentukan struktur sosial mereka; ini pada dasarnya telah menciptakan komunitas. Jika dapat mendefinisikan komunitas sebagai interaksi yang terpola di antara kelompok individu yang digambarkan yang mencari keamanan, dukungan, identitas, dan signifikansi dari kelompok mereka, maka Sion adalah sebuah komunitas dan juga sebuah gereja.

KESIMPULAN
Williams mengatakan bahwa penelitannya mengkhususkan perhatian pada ghetto Pantekosta kulit Hitam miskin yang bermigrasi dari daerah pedesaan di Selatan, tetapi perhatian utamanya adalah pada perilaku manusia. Ia juga mengatakan bahwa ada Pertanyaan-pertanyaan yang diteliti dan dikhawatirkan belum sepenuhnya dijawab di buku ini, tetapi telah diklarifikasi dan digariskan sampai batas tertentu.
Williams prihatin tentang hubungan antara kehidupan kemiskinan, Kulit Hitam, ghetto dan masyarakat luas. Ia telah mencoba untuk menguji sifat interaksi yang menciptakan kehidupan yang hidup terlepas dari ekonomi dan apa yang disebut perampasan sosial. Williams berpikir bahwa dengan mencoba menggabungkan diri ke dalam pengalaman keanggotaan Sion dan menemukan bagaimana mereka berpikir dan apa yang mereka rasakan, ia akan menemukan beberapa petunjuk mengapa nilai yang diagungkan oleh masyarakat umum di luar Sion bukan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan manusia, dan mengapa sub-kelompok manusia di Masyarakat Amerika memiliki potensi untuk menentukan sendiri kepuasan khusus dalam hidup.
Tentunya semua komunikasi dan transmisi pesan-pesan subkultural akan memberikan indikasi perkembangan budaya yang unik dan proses sosial vis-a-vis proses Amerika pada umumnya. Sion tidak memiliki sistem nilai yang terpisah. Banyak cita-cita mainstream seperti pernikahan, stabilitas, pencapaian, mobilitas, pekerjaan, dll. dijalankan. Hirarki organisasi dan sistem penghormatan berdasarkan status, prestise, dan kepemilikan material adalah cara-cara Amerika pada umumnya, namun begitu yang membedakan adalah konten simbolis mereka.
Perspektif arus utama dan transvaluasi ini, ditambah dengan kekhususan Sion sendiri, memberi Williams beberapa bukti etnografi tentang subkultur apa yang ada di masyarakat modern. Ini mengarahkan perhatiannya pada pertanyaan tentang apa yang membuat Sion menjadi sebuah komunitas, Williams merasa harus ada pola interaksi yang mendukung konsepsi kelompok ini tentang diri mereka sebagai sesuatu yang unik, "berbeda," "aneh." Ia harus menemukan metode bagaimana mereka memotivasi dan menghargai untuk memahami bagaimana mereka mengabadikan komunitas ini selama lima puluh empat tahun. Bahkan setelah ia mengumpulkan banyak data, Williams masih ragu bagaimana itu menjelaskan fenomena sosial Sion.
Tugas Sion yang penting menurut Williams adalah untuk mengasimilasi jarak sosial yang biasanya menyertai mobilitas sosial dengan kasih, persekutuan, dan kesetaraan yang akan membangun dan memelihara kohesi Sion. Tugas ini menuntut upaya Sion yang gigih untuk memerangi jarak sosial dan mempromosikan kohesi di antara anggotanya.
Williams mengakui, mungkin ia telah menggambarkan fenomena ini secara cukup untuk membawa pembaca ke posisi yang telah ia capai dengan keterlibatan personal. Namun demikian, menurut Williams, dengan analisis perilaku manusia selalu ada risiko perspektif yang tidak cukup memperhitungkan semua variabel dan kemungkinan untuk menjawab semua pertanyaan ketika penelitian dimulai.
Dengan demikian, Sion adalah salah satu entitas sosial yang diciptakan oleh tekanan dan ketegangan orang-orang yang terkilir dari daerah pedesaan di Selatan yang menetap di daerah utara perkotaan. Sebagai komunitas kecil yang dinamis dan interaksional, ia tidak hanya memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan anggota aslinya, tetapi juga karena kemampuannya untuk menarik kaum kulit hitam miskin lainnya yang temperamen, karakter, kemampuan, dan perspektif hidupnya lebih cocok ke gereja ini daripada ke subkultur lain yang tersedia di ghetto kulit hitam di Pittsburgh.
Bagi Williams, kemiskinan bukanlah persoalan utama masalah orang kulit hitam, sebagaimana yang selama ini diklaim oleh para akademisi melalui publikasi hasil penelitiannya terhadap ghetto atau masyarakat kulit hitam Amerika. Kemiskinan hanya berperan kecil dari masalah penduduk kulit hitam yang serba menjadi 'senjata' dalam praktik politik Amerika secara umum. Bukan itu! Orang kulit hitam membutuhkan sebuah komunitas dan keintiman yang menjadi kehidupan mereka di selatan. Ini sangat berbeda dengan bagaimana orang Amerika umumnya.

REFERENSI
Alba, R., & Nee, V. (2009). Remaking the American mainstream: Assimilation and contemporary immigration. Harvard University Press.
Pelly, U. (1994). Urbanisasi dan adaptasi: Peranan misi budaya Minangkabau dan Mandailing. Pustaka LP3ES Indonesia.
Peluso, N. L. (2006). Hutan kaya, rakyat melarat: Penguasaan sumber daya dan perlawanan di Jawa. Simatupang L, penerjemah.
Sakai, M. (2017). Kacang Tidak Lupa Kulitnya: Identitas Gumay, Islam, dan Merantau di Sumatra Selatan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Williams, M. D. (1974). Community in a black Pentecostal church: An anthropological study. Waveland Press.