Minggu, 16 Juni 2013

Mengenang Reformasi Sebagai Periode Sejarah Bangsa



Sejarah bangsa memasuki masa kronisnya, sebuah keadaan yang cukup sulit untuk sebuah bangsa yang diperintah oleh seorang otoriter yang telah berkuasa selama hampir tujuh periode, sulit karena sebagai seorang pemimpin yang telah berkuasa selama itu tentunya memiliki tatanan pemerintahan otoriter yang telah mengakar kuat di berbagai sektor pemerintahan, pusat maupun daerah yang karenanya siapapun yang berdiri di barisan penentang maka dipastikan akan mendapatkan kesulitan yang besar dan tak terbayangkan sebelumnya, sulitnya situasi yang dialami ketika mereka bergelung dalam semangat revolusi pantaslah jika kita menyebut para penentang yang menginginkan terlahirkannya sebuah tatanan kehidupan bangsa yang baru sebagai para pejuang yang pemberani, yang namanya tidak tercantum didalam buku pelajaran sejarah kita, yang darahnya seakan seperti air yang tergenang percuma, dan yang nyawanya dianggap tumbal dari sebuah perubahan tak berarti.

Sisi Buram Sejarah Bangsa
Sebuah memori telah tersimpan, dapat dikenang di segala waktu meski tak pernah kita ingini namun sejarah telah mencatat abadi ketika bangsa ini bergolak, saat ketika memasuki pertengahan tahun 1998 yang sebelumnya tidak disangka akan diukir dengan darah anak bangsa, ironisnya ini terjadi ketika beberapa saat sebelum dunia menjemput awal abad millennium ketiga yakni sebuah zaman penuh dengan persaingan dan hegemoni percaturan politik dunia yang semakin keras. Semua berawal ketika krisis financial melanda Asia yang barakibat pada merosotnya neraca perekonomian Indonesia ke titik yang paling terendah ini ditandai dengan meluncurnya nilai tukar rupiah ke level Rp 17.000- per-dolar AS, sehingga rakyat yang pada saat itu berada dalam garis kemiskinan justru semakin melarat, kelaparan terjadi di mana-mana, pemerintah tidah mampu membendung membludaknya angka pengangguran, dan korupsi pun “jamaahnya” semakin banyak, dilanjutkan dengan ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Orde Baru yang dianggap sebagai biang keladi rusaknya perekonomian dan ataupun moral bangsa sehingga terjadinya krisis kepercayaan, yakni rakyat sudah tak percaya lagi pada pemerintah dan atau siapapun yang Pro-pemerintah, puncaknya  aksi unjukrasa pun membanjiri jalanan ibukota bahkan hingga ke pelosok daerah, penjarahan terjadi dimana-mana, sentiment etnis pun muncul dan mewarnai pembantaian yang sangat memiris hati, sehingga memicu terjadinya eksodus besar-besaran baik oleh Warga Asing maupun Warga Negara Indonesia keturunan yang terusir karena huru-hara masa yang brutal, dalam sekejap Indonesia pun menjadi perhatian dunia, setiap waktu muncul dalam headline surat kabar maupun elektronik dunia Internasional, sementara itu penguasa terus kukuh bertahan diatas tuntutan dan kebringasan rakyat yang semakin hari semakin memburuk tensinya, dengan dalih bahwa semua ini memiliki dalangnya, meski demikian dan seberapa pun kukuhnya Orde Baru mempertahankan keuasaan namun pada akhirnya mundur atas desakan berbagai pihak yang menghendaki tuntutan rakyat menjadi hadiah millennium bangsa ini. Pagi hari, tepatnya pada tanggal 21 Mei tahun itu, Soeharto sebagai penguasa Orde Baru akhirnya menyatakan pengunduran dirinya secara resmi, dan detik itu pula reformasi pun tercapai, setelah hampir seminggu gedung DPR/MPR diduduki oleh para mahasiswa yang sebelumnya telah melewati hari-hari dengan aksi demonstrasi yang memakan tak sedikit korban jiwa.

Makna Reformasi, Kini
Jika kita memutar kembali memori itu maka yang terkenang adalah betapa agungnya kekuatan rakyat yang mampu meruntuhkan sebuah tiang pemerintahan yang telah mengakar hampir seperdua abad lamanya, ini menyadarkan kita tentang betapa mahal harga sebuah reformasi yang olehnya harus dibayar dengan nyawa, membuat kita seharusnya lebih adil terhadap mereka yang terlahir di masa itu yang terpaksa harus berjuang untuk generasi bangsa yang tak lain adalah kita yang hidup di era Reformasi sekarang ini, yang lebih dipatutkan adalah mereka yang meregang nyawa demi Reformasi yang kita kecap, mereka yang jasadnya terpendam dalam seremoni kehormatan maupun mereka yang ditelan misteri kekejaman Orde Baru, yakni mereka yang menghilang (dihilangkan) dan tidak ditemukan hingga kini. Selain itu Juga mengharuskan kita untuk tetap mengawal jalannya reformasi tersebut, ianya agar ini tidak dirusak mereka yang berjiwa otoritarianisme atau jiwa-jiwa penindas yang lain, ini bukan sekedar konsepsi belaka, bahwa percaya atau tidak percaya tatanan bangsa saat ini masih jauh dari menjawab tuntutan reformasi, rakyat masih belum sejahtera, kemiskinan masih menjadi hantu sosial, dan korupsi hampir menjadi kewajaran yang kurang ajar. Ironis, telah Lebih dari sepuluh tahun saat bendera reformasi ditancapkan di tanah pertiwi, namun bangsa ini masih saja terlarut dalam kemelaratan, penindasan, dan kesewenangan  yang menyata, lantas dimanakah reformasi yang katanya disebut sebagai langkah pengambilalihan hak rakyat, pertanyaan besar bahwa kenapa rakyat makin tersudut di tepian zaman yang coba dibangun atas kekuasaan penguasa dzolim, apakah bangsa ini tidak cukup sekali bergolak dalam reformasi?, jika demikian maka pertanyaannya kapan reformasi periode II dimulai?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar