Sabtu, 15 Juni 2013

Pada Malam Yang Kelam



Kipas angin tergantung lesu di langit-langit, terperangkap sarang laba-laba berputar lambat jelmakan bayangan muram merayapi dinding abu-abu kusam bangsal rumah sakit itu. Kulihat ada bercak-bercak merah di sekujur tubuh lelaki itu, sesekali mulutnya menyeringai menahan nyeri yang menyangkut di tenggorokan. Kucium bau busuk napasnya hingga ke tempatku berdiri. Noda-noda kuning bekas air seni telah meninggalkan noda karat di atas sprei, dan laki-laki itu tak lagi sangup mengerahkan seluruh persendiannya. Seolah terbaca pada wajahnya bahwa usia adalah angka-angka yang tak lagi punya makna.
Pikiranku terasa penuh seperti genangan air kemih dalam tempolong yang minta segera dibuang ke kakus, setelah lewat jaga jam pertama. Infus telah diganti beberapa kali dan laki-laki itu bahkan tak mampu membuka kelopak matanya sendiri. Dari ruang sebelah masih terdengar erangan dan sengal napas, juga keluh para perawat yang harus menghabiskan sisa malamnya, menyesali waktu yang tak juga kunjung usai. Sementara malam merambat demikian perlahan dalam pekatnya cangkir kopi di atas meja. Rutinitas bergulir dari detik ke detik merangkaki malam yang kian lengang, lorong-lorong makin terasa suram di bawah temaram cahaya lampu 10 watt.
Dalam gelisahku aku berjalan dari satu ranjang ke ranjang yang lain di bangsal ini, penuh dengan wajah-wajah kelabu yang kusam menyedihkan, sedang di luar bulan menitik pada malam yang kian pudar menembusi lubang-lubang di dinding, tetesannya jatuh ke atas wajah lelaki yang aku tungui, membuat wajah itu semakin pucat tenggelam dalam matanya yang cekung. Malam kian kelam dan mulut lelaki itu menganga membentuk rongga, tenggelam begitu dalam seperti lobang sumur gelap mengantar senyap. Ada goresan batu di atas keningnya mengalirkan manik-manaik cahaya menghiasi dahinya dengan keheningan. Laki-laki itu telentang dalam kesenyapan seperti sebuah arca yang beku. Tali hidupnya hanya sebatas desah napas perlahan yang nyaris tak terbaca. kedamaian seolah terlupa dari pembaringan itu seperti ada yang ingin segera pergi bersama daun-daun yang luruh di pekarangan rumah sakit ini.
Aku berasa bosan menunggu sendiri dan semut-semut merah serasa menjalari kaki, menggerumuti tubuhku sedikit demi sedikit dan tanganku bergetar setiap kali menangkap isyarat dari detak-detak jam di dinding di atas pembaringan lelaki itu. Pukul 11 lewat 15 menit masih beberapa puluh menit lagi sebelum waktuku habis. Jemu menunggu, aku jadi demikian tak sabar, padahal pekerjaan ini telah aku jalani berjuta-juta kali, tetapi setiap momen penantian selalu saja membuatku gelisah dan aku tak sanggup menafsirkannya mengapa.
Dingin malam terasa menggigit lebih dari biasanya, menusuk merembes lewat pori-pori dinding langsung menembus jubah malamku. Segera perasaanku tergoda untuk meminjam selimut lelaki itu karena kutahu ia tak akan memerlukannya sebentar lagi.
Aku dapat membaca pikiran dan kegelisahannya, sekali pun kabur seperti titik-titik embun dalam cadar kabut. Dunia laki-laki itu terperosok jauh ke dalam rumah-rumah gubuk di pinggir kali, gubuk-gubuk dari kertas karton dan papan kotak bekas, ada seorang bocah di sana, kulit dekil penuh koreng dengan mata kelereng yang bening barangkali itu satu-satunya mutiara yang dapat ditemukan di tempat busuk itu, dan juga seorang wanita dengan rambut acak-acakan sibuk oleh tumpukan kertas koran, kardus-kardus dan sampah. Kehidupan yang penuh dengan warna lumpur dan karat, sedang laki-laki itu berdiri saja di bendul pintu termangu untuk waktu yang sulit di duga.
Terlihat pandangan pasrah wanita itu, mungkin saja ia istri lelaki itu dan juga seorang bocah lelaki dengan tangan penuh koreng tengadah yang mungkin saja anaknya... mata-mata itu seperti mengharap sesuatu entah apa, namun yang pasti hanyalah sebuah tamparan di pipi dan tendangan di kaki yang mereka terima. Kabut yang suram seperti genangan keruh air kali tempat orang-orang membuang hajat, mandi dan gosok gigi. Dan bau busuk itu semakin keras tercium, di sini di atas pembaringan rumah sakit kelas kambing tempat laki-laki sekarat itu menahan pedihnya batu-batu yang merajam tubuhnya setelah sebuah usaha pencopetan yang gagal.
Aku jadi ingin bercakap dengan angin, “Maafkan aku kawan... sesungguhnya tak ada yang dapat kuperbuat untukmu sekarang, karena kau sendiri yang mencuri hidupmu.”
Kulihat air mata mengalir dari ujung mata lelaki itu seolah ia mengerti arti gumamku barusan, dan aku tahu ia tidak saja menyimpan kepedihan dalam bibirnya yang kelu, aku sadari dalam tiap peristiwa seperti ini selalu saja ada hal lewat yang harus di sesali. Laki-laki itu bukan saja telah kehilangan mimpi tapi ia juga telah kehilangan kesempatan. Tubuhnya jadi begitu dingin menyimpan luka-lukanya barangkali juga kepedihan dan kekecewaan hatinya, aku dapat merasakannya sampai jauh ke ulu hati, sedang di luar kudengar jeritan kelelawar dalam desah dingin malam.
Sesungguhnya aku tak begitu peduli, apakah dulunya lelaki itu cuma seorang gali atau seorang pencopet kelas teri yang akhirnya menemui nahasnya, ia tak lebih busuk dari orang-orang lain juga. Dunianya sungguh asing bagiku, karena aku lebih suka wangi kelopak-kelopak mawar dan kamboja yang luruh di terpa angin yang selalu membawaku kembali ke tempat ruh-ruh orang mati, dunia yang begitu tenang, jauh dari riuhnya peradaban, kebobrokan, dan kemunafikan manusia. Yang ada cuma jasad-jasad yang terbaring tenang dalam genangan waktu menunggu saat penghakiman tiba.
Dan laki-laki di atas pembaringan itu pun barangkali tak akan pernah menyadari bahwa aku sudah begitu dekat dengan dirinya hanya sebatas degupan jantung, hingga waktu itu pun tiba, pukul 11 lewat 55 tepat saatnya bagiku mengucapkan salam, mengecup kening laki-laki itu dan membawa arwahnya pergi.

Jakarta, Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar