Minggu, 16 Juni 2013

Pertengkaran Musiman Dua Serumpun



Indonesia dan Malaysia adalah dua Negara di Asia Tenggara yang paling dekat hubungannya, baik itu kedekatan geografis, kedekatan budaya, bahasa, suku, ras, dan sebagainya. Itulah kenapa kedua Negara ini sama-sama menyepakati sebagai dua Negara yang serumpun. Namun begitu, julukan “Negara Serumpun” nampaknya tidak serta-merta membuat hubungan antara dua Negara ini menjadi semakin dekat dan erat, jauh dari itu, sering terjadi pereselisihan di antara kedua Negara ini, kalau boleh disebut dalam frasa: Serumpun tapi tak rukun.
Yang unik, Hubungan diantara dua Negara serumpun ini diawali dengan cara yang tidak baik, dimana Indonesia menyambut kemerdekaan Malaysia dengan politik konfrontasi di bawah pemerintahan presiden Soekarno, masa itu Soekarno dengan visi Indonesia raya-nya mendengungkan pekikan “Ganyang Malaysia..!”, lepas dari isu Neoliberalisme yang dihembuskan melalui propaganda militer Soekarno, sebenarnya Soekarno tidak setuju secara totalitas terhadap pembentukan Negara di semenanjung Malaya yang juga mematok wilayah di Kalimantan utara ini, sebab menurut pandangan Soekarno, wilayah itu termasuk kedalam wilayah Majapahit yang telah direncanakan oleh Orde Lama dalam strategi Geo-Politik kawasan untuk sepenuhnya masuk ke dalam wilayah NKRI. Konfrontasi antara kedua negera pun dimulai di tahun 1960-an, dimana Malaysia didukung secara militer oleh Australia, Inggris, dan Selandia Baru, sementara Indonesia mendapat dukungan dari blok Timur. Konfrontasi ini sepenuhnya berakhir ketika rezim Orde Lama beralih kepada kekuasaan Rezim Orde Baru, dimana strategi politik Indonesia atas Malaysia secara drastis melunak. Disinilah kemudian dimulai hubungan yang dekat antara kedua Negara.

Dari Sipadan-Ligitan Hingga Ambalat
Setelah mereda sekian lama, hubungan kedua Negara serumpun ini kembali memanas, hal ini ditandai dengan hasil keputusan Mahkamah Internasional (International Court Of Justice) pada 17 Desember tahun 2002 yang mengatakan kemenangan Malaysia atas sengketa pulau Sipadan dan Ligitan, dua pulau yang berada di selat Makassar ini sebelumnya disengketakan dalam waktu yang lama, bersamaan dengan ditetapkannya pulau sipadan dan ligitan sebagai bagian dari Malaysia, maka mulailah sentimen kebangsaan antara kedua Negara kembali mengemuka.
Tak cukup Sipadan dan Ligitan, Malaysia lantas kembali mengklaim wilayah perairan ambalat, yang notabenenya masuk jauh ke dalam area lau Sulawesi, yang merupakan wilayah NKRI. Di medio tahun 2005 hingga 2009, hubungan antara kedua Negara “panas-dingin”, Malaysia kadang melakukan provokasi, sementara Indonesia masih terus mencoba untuk bersabar. Masalah Ambalat ini jika dikaji secara historis berakar dari kesalahan penafsiran oleh Malaysia atas perjanjian tapal batas kontinental dan laut kedua Negara tahun 1969 dan 1970. Arogansi Malaysia semakin terlihat ketika saat itu diketahui telah memberikan hak pengelolaan wilayah tersebut kepada perusahaan minyak asing. Atas hal ini, Indonesia segera mengambil langkah, yakni mulai membangun mercusuar di sekitar karang unarang, serta mercusuar tapal batas di perairan ambalat, yang disengketakan. Saat itulah terjadi rentetan upaya provokasi militer antara kedua Negara, namun sejauh ini Malaysia tidak berhasil menduduki wilayah yang diklaim tersebut.

Dari Lagu Hingga Tarian
Tak hanya dalam bentuk fisik, Hubungan kedua Negara juga memanas oleh isu klaim kebudayaan yang dilakukan oleh Malaysia. Selain yang paling anyar; Tari Tor-Tor dari Sumatera Utara, diklaim oleh Malaysia, sebelumnya Malaysia telah mengklaim beberapa kebudayaan asli Indonesia yang notabenenya merupakan warisan kekayaan Intelektual bangsa Ini. Sebutlah Lagu Rasa Sayange dari Maluku, Angklung dari Sunda, Gamelan dari Jawa, Tari pendet dari Bali, Tari Piring dari Minang, Reog dari Ponorogo, dan masih banyak lagi yang lainnya coba diklaim oleh Malaysia.
Tak dapat dipungkiri, Malaysia saat ini tengah giat-giatnya mempromosikan sektor pariwisata mereka dengan semboyan “Malaysia Is Trully Asia” yang mengisyaratkan bahwa Negara mereka adalah asia yang sebenarnya, mereka berusaha untuk mengidentikkan diri kedalam semua suku bangsa di benua Asia, sebagaimana diketahui, mayoritas masyarakat Malaysia terdiri atas tiga etnis utama; Cina, India, dan Melayu. Upaya Malaysia yang lantas kemudian mengusik Negara serumpunnya Indonesia ini jelas sangat membuat marah Indonesia, sebab klaim atas kebudayaan ini akan berdampak kedepan, dimana Malaysia akan dapat mengambil keuntungan dari klaim ini, lebih-lebih dalam sektor pariwisatanya.

Memahami Hubungan Dua Serumpun
Tentu banyak yang akan bertanya, kemana slogan “Negara serumpun” yang selama ini coba untuk terus dijunjung antara kedua Negara. Ternyata jika dilihat ke belakang, hubungan antara kedua Negara telah berulang kali mengalami pasang-surut diplomasi yang unik, meskipun isu-isu klaim sering mengemuka, namun hubungan pemerintahan kedua Negara tetap erat terjalin. Kita lihat, ketika akhirnya Indonesia melakukan invasi atas Timor-Timur, Malaysia tampil sebagai pendukung Utama Jakarta, begitu pula pemberantasan kelompok separatis komunis di Sabah, militer Indonesia turut ambil bagian disana. Di lain sisi, kebanyakan masyarakat Malaysia melihat berbagai fenomena ketegangan antara kedua Negara lebih diakibatkan oleh intervensi barat yang tidak senang dengan hubungan antara dua Negara serumpun di Asia Tenggara ini (Lih: Republika, Mansoor Bin Puteh). Di sisi yang lain pula, ketegangan yang sering terjjadi antara kedua Negara lebih cenderung diakibatkan oleh penyampaian media (Indonesia) ketimbang isu yang berkembang, dimana sering terjadi kesimpang-siuran isu, sementara itu media di Malaysia adalah media yang masih berada di bawah kendali pemerintah, sehingga cenderung tidak kredibel dalam memberitakan perkembangan isu ditinjau dari Malaysia sendiri. Lepas dari semua itu, hubungan erat antara Indonesia dan Malaysia masih menjadi sebuah keharusan yang harus dijaga, kalaupun memang banyak permasalahan yang muncul maka sikap kooperatif perlu dikedepankan terlebih dahulu. Apalagi dua negeri ini adalah negeri Serumpun.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar