Minggu, 16 Juni 2013

Ramadhan, Hadiah Kecil Sang Pujangga Semesta



Di pelupuk bumi kita berayun menyenandungkan dengus nafas, melarungkan segala tingkah, meluruhkan segala titah. Dalam setiap jengkal egoisme, kita langkahkan arogansi penuh percaya diri, bahkan dunia pun meluruhkan kebesarannya untuk kita yang serakah melawati setiap bentuk nafsu.
Alam, adalah sebenarnya ruang, yang ditafsirkan sebagai sarana pemenuhan geliat nafsu. Sebuah pemikiran absurd yang terlahir dari kedurjanaan, dunia mendewasai dirinya dengan kehancuran. Penuh dengan nuansa pelupaan, pada hakikat sang pencipta, pujangga semesta, Illahi yang bertakhta di Arsy, yang menetapkan, yang menepatkan, dan yang menitahkan segala alas dan aturan, dunia dan akhirat. Sehingganya manusia menjadi buta dan lupa, melampaui segala batas. Padahal alam senantiasa berpuasa, menahan segala hasratnya.
Bagaimana cara menghargai alam? Tak ada jawaban duniawi yang pasti untuk menjawabnya. Namun Berpuasa adalah kepastiannya, dengan begitu alam pun akan bersukacita, ia akan menjadi teman yang duduk disampingmu dalam merenungi dan memuji kebesaran-Nya.
Serasa imaji, ketika ditengah-tengah perbendaharaan kata yang melingkupi dunia dengan huruf-huruf nista akhirnya ditenggelamkan oleh arus cahaya yang perlahan berpendar menjadi sebuah sinar syurga, dari Illahi. Setelah selama hampir sebelas bulan dalam penantian, akhirnya bulan tanpa dosa itu pun tiba…
Ramadhan, kini Ia datang dalam perjalanan melampaui waktu…
Menghampiri setiap insan, maka ucapkanlah ‘Marhaban Ya Ramadhan’, selamat datang bulan kemuliaan, sudikah kiranya kureguk setetes kemuliaan-Mu? Untuk sekedar membuat aku dan dunia senantiasa merindui-Mu selepas Aidil Fithri nanti?, ketika waktu harus membawa kita menapaki jejak-jejak tanpa dengungan ayat-ayat peneduh jiwa, tanpa ramai jamaah tarawih bersujud mencium pangkuan-Mu.
Ramadhan, kini Ia kembali dalam perkelanaan pasti…
Saat dunia haus akan kesucian, saat dimana dunia membungkam mulutnya untuk ucapan syahadati. Ramadhan ulurkan tangan kemuliaannya, yang tanpa semu digapai realita dunia, maka lantunkanlah semerdu mungkin tadarus-mu, tahanlah se-ikhlas mungkin laparmu, dan usir jauh segala hasrat nafsu, Untuk penggenap kesuciannya. Mungkinkah Ia kembali lagi, menjamah hati yang gundah sepeninggal-Nya? Ramadhan, sayup kepergian-Mu telah membahanakan berjuta kerinduan, menerabas kesabaran semesta.
Ramadhan, kini Ia sudi melawat…
Sejenak dalam detik-detik penentuan yang kejap, namun melimpahinya dengan Lailatul Qadr, Selamanya dalam tahun-tahun penggapaian usia yang hakiki, Ialah malam seribu bulan. Pengantar ibadah menuju ridho Illahi, melampaui batas usia dan batas mampuku meramu waktu.
Ramadhan, akankah Ia kembali lagi? Meski perginya tanpa kata Sayonara, namun bekasnya telah tertanam lewat takbir, di lubuk hatiku. Senantiasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar