Kamis, 21 November 2013

Adegan-Adegan Ringkih Di Kala Hujan



Senja itu, baru saja adzan berkumandang lantang dari masjid yang tak jauh letaknya dari rumahku. Aku masih terpaku, enggan untuk berdiri dan mengambil air wudhu, seperti yang telah menjadi kebiasaanku apabila sedang hujan; sholat di rumah. Tapi senja itu terasa berbeda, aku masih terpaku, menatap jauh keluar jendela yang semakin kabur oleh uap air hujan yang semakin melebat. Hujan ini pulalah yang membuatku tidak menghiraukan rasa sakit yang sedang menjalari tubuhku, demam dengan suhu yang sangat tinggi sejak dua hari yang lalu. Akhh... buat apa mempedulikan rasa sakit yang mempertontonkan kelemahan ini? Lagipula hujan dan lamunan-lamunan yang berkelebat di benakku lebih menarik perhatianku, begitu pula dirinya; orang yang berada didalam lamunanku.
Aku sibuk dengan panggilan dari jiwaku sendiri, aku telah mengabaikan panggilan Allah, sesuatu yang rasanya tidak pernah kulakukan sebelumnya. Aku masih berpikir keras, sementara layar komputer masih menyala didepanku, dengan keyboardnya yang memerak karena tertimpa cahaya display. Rasanya aku ingin menulis surat cinta lalu kukirimkan padanya, tapi pergulatan di dalam batinku membuatku enggan melakukannya. Rasanya seperti berusaha mengalirkan air dari muara ke hulu, kemungkinannya sangat tidak mungkin.
Sekian lama aku telah mencintainya, sekian lama itu pula aku tak berani untuk mengungkapkannya. Aku berharap bisa segera memanfaatkan kesempatan ini, tapi situasi tidak memberiku kesempatan untuk memanfaatkan “kesempatan” ini. Ironis. Kadang embun harus berhenti menjadi aktor dari segala kesejukkan yang dipertontonkan pagi hari, begitulah diriku, ada saatnya aku harus menyerah pada rasa yang sekian lama telah bertakhta abadi di dasar hatiku. Tapi ada suara-suara yang mengatakan kalau aku tak boleh menyerah, atau setidaknya jangan sekarang, aku masih harus berjuang. Suara-suara itu, termasuk datang dari dirinya sendiri.
Telah lama aku mengenalnya, aku melihatnya dari jauh, memperhatikan senyumnya, melihat matanya, menyaksikan tingkahnya, kadang aku tersenyum, kadang aku tertawa pada diriku. Aku hanya bisa melihat jauh kedalam diriku, dan disanalah aku menemukan; bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah ibarat kabut bagi lereng-lereng gunung, aku hanyalah ibarat debu bagi lantai-lantai. Terlalu jauh tanganku untuk bisa menggapainya, terlalu rendah derajatku untuk bisa menyandinginya, terlalu buruk diriku untuk berdampingan dengan kebaikan-kebaikannya. Siapapun itu bisa menilainya, teori kepantasan mungkin berlaku disini.
Akhir-akhir ini aku bahkan tidak pernah bersujud tanpa sekalipun menyebutkan namanya, disamping tentu nama kedua orang-tuaku. Kabar buruknya dia sudah terlanjur menjadi metafora paling berharga didalam hatiku, saban waktu aku menanamkan prinsip untuk tidak segera mengungkapkannya. Toh, kalau jodoh, tentulah Allah pasti akan mempertemukan kita, entah kapan dan dimana. Namun kemudian aku berpikir, mungkin kata-kata atau prinsip seperti itu hanyalah hiburan bagi mereka yang menyerah dalam mengejar cintanya, memang benar jodoh di tangan Tuhan, tapi kita yang harus berusaha untuk mendapatkannya, itu yang oleh sebagian orang yang paham disebut sebagai ikhtiar, bagaimana mungkin kita bisa mencapai tujuan tanpa berikhtiar?.
Ya.. disinilah aku, terjebak dibawah atap rumahku, sementara miliaran butiran-butiran hujan tak lelah menerjang atap-atap yang kuat itu, sebuah simfoni tercipta, simfoni itu memiliki irama yang membawaku untuk terbang jauh bersama lamunan-lamunanku. Kadang aku merasa sedih, kadang aku merasa indah, kupikir mungkin inilah cinta, sesuatu yang telah ada dan bertahan sejak lama didalam hatiku.
***
Hujan masih menghujam atap-atap di rumahku, nampaknya mereka semakin merana, sebagaimana yang hatiku rasakan saat itu, sementara adzan maghrib telah jauh berlalu, mungkin saat ini adzan ‘isya sedang dipersiapkan. Aku masih tertegun, sementara hari sudah sangat gelap, aku terperangkap oleh ketakutan dan ketidakberanian yang luar biasa besarnya, aku semakin tersudut oleh perasaanku sendiri. Memang benar, sulit untuk memisahkan antara rasa cinta dan nafsu, tetapi dengan keyakinan, maka cukup bagi kita untuk memahami dimana kita berada, di wilayah nafsu, atau di wilayah cinta.
Mungkin keyakinan itu yang membawaku melangkah, melompati waktu yang banyaknya berjuta-juta detik, mempecundangi jarak yang jauhnya berhasta-hasta. Ada sebuah Qur’an yang telah lama tergeletak diatas meja belajarku, tepat disamping monitor, beberapa tahun silam aku membelinya diatas trotoar di wilayah Matraman, Jakarta, kitab suci itulah yang menjadi belanjaan pertamaku ketika pertama kali menginjakkan kaki di ibukota, aku baru membaca surat Al-Fatihah dari Al-Qur’an yang kubeli itu. Ya, meskipun dibeli diatas trotoar dan dengan harga yang sangat murah, tentu saja isinya tidak semurah itu, semua orang tahu, itu kitab paling berharga di muka bumi, dunia dan akhirat.
Malam itu, hujan masih mengguyur. Aku bersegera menyelesaikan empat raka’atku, setelah sebelumnya meng-qadha tiga raka’atku yang tertunda. Malam ini juga, aku harus menemuinya, bagaimanapun caranya dan apapun yang terjadi. Aku menyambar Al-Qur’an tersebut, membungkusinya dengan kain putih, lantas memasukannya kedalam tas selempangan-ku. Masih dengan baju sholat dan hanya dilapisi sweeter tipis yang tidak mampu menangkal dingin, aku keluar dari rumah.
“Pergi dulu ya Bih...” sambil lalu menembus rintik-rintik hujan yang tetesannya begitu menyakitkan ketika mendarat di permukaan kulitku yang sedang demam.
“Eiihh... Pergi kemana, masih hujan. Kan masih sakit. Biar nanti diantar pake mobilll... Heiii” Suara itu sayup-sayup, aku sudah menjauh dari rumah, dengan tubuhku yang basah, juga dengan hatiku yang semakin tidak menentu. Orang-orang rumah pasti khawatir dengan keadaanku.
***
Setelah menempuh jarak yang agak jauh, sampailah aku di depan rumahnya. Lantas kuhubungi nomornya, memintanya keluar dari rumahnya sebentar. Aku basah kuyup saat itu, dingin yang teramat sangat menjalar, menusuk hingga ke tulang-tulang. Aku berusaha mengumpulkan semua sisa-sisa kekuatanku, tapi kondisiku tidak memungkinkanku untuk berpura-pura kuat, rasanya aku ingin menangis saat itu. Kenapa hujan malam itu demikian menyiksaku.
Tak lama menunggu, dia pun keluar dari rumahnya. Aku dipersilahkannya masuk. Tapi aku enggan. Dia tidak tahu kalau aku basah kuyup.
“Basah..?” tanyanya.
“Lumayan..” kujawab se-santai mungkin, sembari berusaha menyamarkan rasa dingin dan sakit yang semakin menusuk.
Aku sudah sampai disitu, tepat di depannya. Sialnya aku hampir saja lupa tujuanku datang padanya. Aku menjadi orang paling bodoh pada detik itu, rintik-rintik hujan itu akhirnya memenangkan pertarungan dalam memperebutkan harga diriku yang hanya tersisa sebesar setengah zarrah.
Waktu mengalami jeda yang begitu panjang. Kini simfoni yang dihasilkan dari hujan yang jatuh dari atap rumahnya terdengar begitu berbeda, jauh berbeda dengan simfoni yang berasal dari atap di rumahku. Bukan karena jenis atapnya, tapi karena perasaanku. Aku tidak tahu harus memulai dari mana, sudah terlanjur. Aku memukul dahiku. Betapa bodohnya.
Aku memulai suaraku dengan ketakutan yang sangat besar, sambil menahan rasa sakit didalam tubuh yang semakin meningkat tak tertahankan. Ini adalah kali pertama, ini pula mungkin yang terakhir apabila aku beruntung. Hati memang sangat berharga, tetapi saat itu hatiku terasa begitu tak berharga, kalau saja tidak ada kulit dan tulang-tulang rongga yang membungkusnya, mungkin hatiku akan melompat keluar dari tempatnya, melarikan diri dari tubuhku yang sangat tidak berguna.
“Aku mencintaimu...” kataku lalu diam..
“Terimalah Qur’an ini apabila kamu menerima cintaku..” Lanjutku sambil mengeluarkan kitab suci yang terbungkus kain putih.
“Cintaku mungkin sangat buruk, tapi mungkin kebaikan yang ada didalam Al-Qur’an ini bisa membuatnya menjadi sedikit lebih baik..” Aku melanjutkan suaraku dengan sedikit lirih. Sementara dirinya hanya diam, terpaku, tak bergerak, seperti tidak percaya, bingung, kasihan, dan entah apa lagi. Aku merasakan itu disamping kesakitan yang kian membuncah dalam tubuhku.
Suasana hening. Lama sekali. Hujan sudah berubah menjadi gerimis basah, namun suaranya, simfoninya masih seperti tadi. Angin lalu ganti bertiup dengan hawa yang sangat jahat, mengelus-elus pelan kulitku yang basah.
Dan kesunyian dan keheningan itu pun berlangsung hingga saat ini. Pada akhirnya aku tahu bahwa pengorbanan terhadap cinta adalah tidak terbatas, bahwa cinta juga bergantung pada apa yang namanya teori kepantasan, bahwa cinta harus tetap dipertahankan, bagaimanapun dan apapun caranya. Dan melalui hujan-hujan itu, kisah klasik Khusrau dan Syirin melalui takdirnya yang maha-indah sempat berbisik padaku; “Jangan bersedih ya, buat apa kamu bersedih karena kamu tidak mendapatkan orang yang tidak mencintaimu. Yang harus bersedih itu adalah dirinya, sebab dia baru saja menolak orang yang sangat mencintainya..”. Akhh... Hujan telah membuatku terdampar jauh dari diriku yang sebenarnya, dan Al-Qur’an itu.***

Dimuat di SKH Malut Post (Group JPNN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar