Kamis, 21 November 2013

Canga, Sebuah Etos Masa Lalu



Perairan Maluku dikenal sebagai perairan yang ramai oleh aktifitas perdagangan dunia, khususnya ketika bangsa Eropa mulai datang untuk menemukan langsung rempah-rempah dari tempat asalnya, Ternate dan Tidore sebagai salah satu pusat perdagangan juga sebagai pusat politik di masa itu pun menemukan kejayaan dari hasil perdagangan yang ramai di wilayahnya, dapat dikata hilir mudik pelayaran Internasional di perairan Nusantara masa itu berkiblat di perairan Maluku, rempah-rempah seperti pala dan cengkeh yang sebagai komoditi utama adalah bukti tak terbantahkan dalam menjawab pertanyaan tentang kenapa perairan Maluku disebut sebagai kiblat perdagangan dunia di abad pertengahan. Bahkan Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa jalur perdagangan di wilayah ini juga sudah cukup ramai oleh pedagang dari Cina, Arab dan dari Nusantara sendiri, dengan Pala dan Cengkeh yang juga sebagai komoditi utama.
Menelusuri Jejak Canga
Nuansa perdagangan yang begitu ramai di daerah ini, selain mendatangkan kejayaan beberapa kesultanan dan kerajaan di wilayah ini, juga turut mendatangkan kejayaan pada kelompok-kelompok kecil masyarakat yang beroperasi sebagai bajak laut, yang bahkan pernah sangat ditakuti di perairan ini, mereka berasal dari Tobelo dan Galela, yang menamakan ekspedisi mereka dengan sebutan “canga” yang secara kontekstual artinya membunuh, dalam perjalanan sejarah tidak ada yang tahu secara pasti kapan ekspedisi ini dimulai oleh orang-orang Tobelo dan Galela, kaburnya sumber sejarah yang menyelimuti membuat kita berkesimpulan bahwa kegiatan canga telah berlangsung sejak lama dan mungkin pernah menjadi bagian dari budaya masyarakat selama beberapa generasi di sepanjang abad pertengahan hingga paruh awal abad XVIII. Terdapat banyak pendapat berbeda mengenai awal munculnya kegiatan canga ini, semuanya adalah pendapat yang dapat dipertimbangkan kebenarannya secara ilmiah, setidaknya ada dua pandangan kuat yang menjelaskan awal kemunculan ekspedisi canga ini; pandangan yang pertama mengatakan bahwa awal mulanya canga yang dalam hal ini berarti ‘mengejar’, dimana awak perahu berlomba untuk saling mengejar dalam mencapai target untuk meraih hasil tangkapan berupa ikan di wilayah teritorial mereka, uniknya ada peraturan untuk tidak saling memasuki kawasan territorial orang lain, jika tertangkap maka akan nada sanksi berupa keharusan memberikan ngasi atau denda berupa hasil tangkapan yang didapat, budaya ini telah berlangsung jauh sebelum bangsa Asing mendatangi perairan Maluku khususnya wilayah Halmahera bagian Utara, semenjak kedatangan bangsa asing (Portugis) dikatakan bahwa budaya canga kemudian berubah orientasinya yang mulanya hanya merupakan budaya dalam mencari nafkah berubah menjadi operasi bajak laut, tak lebih dikarenakan kekhawatiran masyarakat terhadap menghilangnya wilayah territorial mereka, dan karena itu mereka mencari territorial baru dengan cara menjarah dan merampok apapun yang mereka temukan di laut, dari pandangan ini dapat disimpulkan bahwa operasi bajak laut yang disebut canga ini dimulai ketika memasuki awal abad XIV, seiring kedatangan bangsa Portugis yang menjadi pemicunya. Pendapat yang kedua sangat jauh berbeda, Dalam pendapat ini dikatakan bahwa pada mulanya Masyarakat Tobelo dan Galela adalah masyarakat nelayan biasa yang selalu mendapat teror oleh para bajak laut (lanun) dari Mangindanao dan Balangingi, keadaan inilah yang merubah pandangan masyarakat Tobelo dan Galela dari yang awalnya bersifat defensive sebagai nelayan biasa kemudian menjadi sangat agresif sebagai bajak laut, tidak pasti kapan munculnya operasi pembajakan terkait dengan pendapat yang kedua ini, namun pendapat ini juga adalah pendapat yang memiliki landasan yang kuat, dengan kesimpulan bahwa operasi pembajakan oleh masyarakat Tobelo dan Galela telah berlangsung sekitar abad XIV, pendapat yang satu ini adalah pendapat yang kuat, ini dilandasi dengan kata “canga” yang sebenarnya diserap dari bahasa suku Tobaru (pendahulu suku Tobelo dan Galela) sementara suku Tobelo dan Galela mulai ada/dikenal pada abad XV setelah kedatangan evangelis terkenal Franciscus Xaverius yang katanya sebagai orang yang memberi nama daerah Galela, nama “Galela” sendiri berasal dari sejarah Yesus ketika menyeberangi danau Galilea, berdasarkan hal ini maka dipastikan bahwa operasi bajak laut oleh suku Tobelo dan Galela telah berlangsung sejak sebelum abad XV dengan pertimbangan bahwa “Canga” adalah bahasa Tobaru yang artinya juang/berjuang, dan suku Tobaru sendiri dipastikan eksistensinya mulai menghilang/membaur pasca kedatangan Portugis, dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa Canga adalah budaya suku Tobaru, sebelum akhirnya membentuk beberapa anak suku termasuk suku Tobelo dan Galela yang melanjutkan kebudayaan itu.
Terlepas dari awal kemunculannya, bajak Laut dari Tobelo dan Galela pernah menjadi gerombolan yang paling ditakuti di wilayah perairan local, dengan ekspedisi “Yo Canga-Canga” daerah ekspansi mereka mencapai beberapa pulau besar seperti Bacan, Banggai, Obi, serta Buton, biasanya selain merampas harta benda para bajak laut cenderung menculik penduduk setempat untuk dijual sebagai budak ataupun dibawa ke Tobelo dan Galela untuk dinikahi (kebanyakan dari Banggai dan Buton), dari beberapa daerah yang disebutkan sampai sekarang terdapat komunitas suku Tobelo dan Galela (selanjutnya disebut TOGALE) yang jumlahnya tidak kalah banyak dengan penduduk local. Selain ekspansi di perairan sekitar Maluku Utara, Ekspedisi Canga juga mencapai Selat Makassar (salah satu buktinya adalah Legenda Tanjung Api). Kejayaan bajak laut Tobelo dan Galela mencapai puncak ketika memasuki abad XVII dimana wilayah ekspansinya meluas hingga ke pulau Jawa, sumber sejarah mengatakan bahwa pada bulan Oktober tahun 1850 sekelompok bajak laut Tobelo dan Galela berkekuatan sekitar 15 kapal berukuran besar berangkat dari Manggarai lalu mendarat di pulau Kangean, Madura dan menangkap para penduduknya untuk dijual sebagai budak di pulau yang diberi nama pulau laut (dijadikan markas dalam melakukan ekspansi ke wilayah perairan Jawa dan Flores), pulau ini bersebelahan dengan pulau Kangean, dalam ekspedisi Canga yang lebih luas ini dikatakan bahwa para bajak laut yang beroperasi di perairan Nusantara (Mangindanao, Balangingi, Makassar, Johor, dan Tobelo-Galela) membentuk semacam persekutuan namun didalam operasi pembajakan mereka melakukannya secara sendiri-sendiri (Koloniaal
Verslag 1850:18).. kejayaan bajak laut ini akhirnya melemah ketika memasuki akhir abad XVIII atau tepatnya pada tahun 1860, dan akhirnya lenyap sama-sekali ketika hampir memasuki awal abad XIX.
Canga, Dalam Konteks Kekinian
Entah karena malu ataupun enggan karena pendahulunya adalah seorang Bajak Laut, cerita mengenai nenek moyang suku Tobelo dan Galela yang pernah Berjaya sebagai bajak laut tidak begitu berkembang secara turun-temurun didalam kehidupan masyarakat Tobelo dan Galela kini, bahkan cerita mengenai Bajak laut hanya dianggap sebagai dongeng belaka, kata “Canga” sendiri tidak mendapat “tempat” didalam keseharian masyakat meskipun kebanyakan mereka mengenal kata “Canga” identik dengan bajak laut, namun lebih dari itu kata “Canga” tidak memiliki arti apa-apa karena perspektif masyarakat telah mengarahkannya kepada pengertian “Membunuh”, itulah kenapa pada konflik horizontal tahun 1999 silam kata “Canga” sangat populer di kalangan masyarakat yang bertikai, dalam perbincangan masyarakat sering terucap kalimat “ka o kia no ma canga li mana” (Apa yang mau kamu bunuh sekarang), ketika didalam perjalanan menemui orang yang memegang parang, tombak, pisau, dan sebagainya. Jika ditinjau secara historis, pandangan masyarakat tentang Canga ini adalah salah besar, baik dalam konsep bahasa maupun konsep kultur. Dalam konsep bahasa, kata “Canga” tidak bermakna sebagai “membunuh”, hanya saja pergeseran makna yang diserap kedalam bahasa Tobelo dan Galela mengartikan demikian, ini dikarenakan setiap ekspedisi Canga pada akhirnya pasti terjadi pembunuhan, namun begitu jika ditinjau dari asal katanya “Canga” adalah bahasa Tobaru yang berarti “Juang/Berjuang” (Yuiti Wada, Japan National Museum oj' Ethnology), dalam hal ini “Canga” merupakan bagian dari sebuah perjuangan masyarakat untuk mempertahankan wilayah teritorialnya yang pada saat itu kian terusik oleh kedatangan bangsa asing di perairan Maluku, khususnya Halmahera. Dalam konsep cultural, Ekspedisi Canga menurut pandangan masyarakat juga cenderung berkonotasi negatif, yakni sebagai penjahat di laut yang sepenuhnya bertingkah laku layaknya penjahat, padahal sebenarnya banyak hal baik yang dapat kita petik dari sejarah perjalanan pendahulu kita ini jika kita telaah secara lebih mendalam, salah satunya yaitu semangat persatuan yang tergambar jelas pada saat ketika hendak melakukan ekspedisi, dimulai dari membuat perahu hingga meninggalkan daratan yang diiringi dengan pekikan “Hotuuu….”, kemudian dibalas serentak dengan teriakan “yee…..”, yang memaknai semangat sekaligus symbol keberanian dalam mempertahankan harga diri hingga titik darah yang terakhir, selain itu sebuah Filosofi juga terlahir dari sini, yaitu haram bagi untuk menumpahkan darah antar sesama komunitas Canga baik di laut maupun di darat, sangat disayangkan ketika pantangan itu di obrak-abrik saat konflik sosial melanda daerah ini tahun1999 silam. Tidak dapat dipungkiri bahwa semangat persatuan masyarakat Tobelo dan Galela telah luntur terutama disebabkan oleh hegemoni politik daerah yang cenderung mengangkat isu Etnis bahkan agama, apalagi dengan keadaan sosial masyarakat yang telah membaur dan membentuk komunitas masyarakat yang Multikultur sekarang ini, yang olehnya semakin membuka jalan kebencian antar sesama masyarakat yang dulunya dikenal memiliki semangat persatuan yang tidak ada padanannya pada masa itu, semoga masyarakat dapat menyadari hal ini sehingga kemudian dapat berbenah untuk merajut kembali tali persaudaraan yang sempat terputus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar