Kamis, 21 November 2013

Cinta dan Metafora Angin



Pagi ini aku bangun seperti biasa, semalam aku tertidur tanpa bermimpi. Lalu kenyataan hari kemarin, aku berharap bahwa itu semua adalah mimpi, agar ketika aku terbangun maka semuanya akan segera berakhir, sama seperti mimpi-mimpi yang lazimnya. Ya..! Kemarin perempuan yang selama bertahun-tahun mengatakan bahwa dia mencintaiku, tiba-tiba saja mengatakan bahwa dia tidak mencintaiku, bahwa cinta yang dikatakannya selama bertahun-tahun itu, tak lebih hanyalah sebuah kekaguman yang tak mungkin dipaksakan lagi menjadi cinta. Padahal, kita sudah merencanakan semuanya, kita akan menikah, membangun keluarga kecil yang sederhana, mendidik anak-anak kita agar kelak memiliki akhlak, moral, dan masa depan yang baik, aku dan dia sudah sangat jauh berikhtiar untuk menata kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Untuk itu, maka hari ini sudah kurencanakan, aku akan menemui Rumi, guru yang mengajariku tentang makna kehidupan. Dia dulunya adalah seorang pengembara, dia mencari realitas dan angan-angan di setiap sudut hati manusia, dia lalu menganalisa setiap yang ditemuinya untuk dijadikan sebagai nasihat dan diajarkannya kepada murid-murdinya, termasuk; aku.
Aku beranjak bangun, matahari sudah begitu tinggi, menyinari dengan begitu terik hampir setiap sela-sela pepohonan, mengusir embun-embun yang dengan kesejukannya membuat orang-orang menjadi malas dan terus bermimpi. Aku lalu berjalan menyusuri arah timur, di sepanjang pesisir dimana tak ada kehidupan, di ujung arahku inilah aku akan bertemu dengan Rumi. Aku ingin segera bertemu dengannya, aku ingin menanyakan padanya bagaimana cara menghilangkan rasa gelisah karena cinta, bagaimana caranya untuk tetap tersenyum ketika cinta dengan seluruh tenaganya berusaha membuatku menangis. Ya. Kemarin aku bahkan menangis dalam tidurku yang tanpa mimpi. Aku baru saja disakiti oleh cinta.
Rumi adalah bekas pengembara, sementara aku adalah pengelana, kita bertemu bukan di separuh perjalanan, tetapi di akhir perjalanan. Aku tahu, Rumi pasti tahu apa yang sedang terjadi pada diriku. Sembari menyeka air mata yang deras menetes dari dua mataku yang semakin memerah, aku terus meniti arah pantai ini. Di saat itu, aku memiliki hati yang tidak bisa merasakan apa-apa lagi, aku juga memiliki pikiran yang tak mampu memikirkan apa-apa lagi, yang ada hanyalah rasa sakit dan keinginan untuk segera bertemu Rumi.
***
“Sakitkah dirimu...? Ahhh.. Aku tahu, kamu sedang sakit...!” Suara itu seperti menyeloroh.
Aku berhenti sebentar, mengamati hampir setiap arah mata angin. Tidak ada seseorang atau apapun. Apakah aku sudah bertemu Rumi..?
“Tidak perlu mencariku..! Aku tidak ada...!” Kembali suara itu muncul, aku berputar-putar, pusing lalu terjatuh, terjerembab diatas butiran-butiran pasir yang sedang menertawakan kegilaanku.
“Nak... Aku tahu kau tidak punya apa-apa lagi, kau tidak punya masa lalu, masa kini, dan juga masa depan...” Suara itu datang lagi, kali ini dengan nada prihatin.
“Si.. siapa kamu..?” Dengan sedikit keberanian dan sisa-sisa tenaga aku mengangkat lidahku dan mengeluarkan pertanyaan itu. Aku merasa semakin gila, butiran-butiran pasir dibawahku bersorak girang-gemirang.
“Aku adalah ketiadaan... Aku berbicara dari kekosongan hatimu...!” Suara itu terdengar lagi, kali ini dengan nada seperti sedang mencoba meyakinkanku.
“La.. lalu.. Apa yang terjadi pada diriku wahai ketiadaan...?” Sepertinya aku mulai merasa yakin diantara keragu-raguanku. Lalu aku mulai bertanya.
“Kau tidak mengerti makna cinta... Lalu kau sekarang menuduh cinta telah menyakitimu..!” Suara itu menuduhku.
“Lalu apa itu cinta menurutmu..?” Aku mulai berani bertanya.
“Cinta adalah keyakinan yang tidak pernah kau duga. Kadang terasa hambar, lalu kau dengan mudah membuat keputusan..!” Suara itu santai menjawab, sangat singkat.
“Aku tidak dapat memahaminya..”
“Kau sebenarnya paham ketika kau mengatakan tidak paham..” Katanya, menyambungku yang semakin membungkuk, air mataku tumpah, wajahku tak mampu lagi menampungnya.
“Kau pernah mendengar kisah Samara dan Khandis di sebelah utara gurun Sahara..? Mereka adalah dua orang yang saling mencintai, pernah mereka berpisah hanya karena didalam hubungan mereka yang penuh warna dirasuki oleh rasa hambar.. Letak kesalahannya adalah ketika mereka berdua terlalu cepat mengambil keputusan” Ia menjelaskan, dengan suara yang semakin santai terdengar. Air mataku urung terbendung.
“Lalu apa hubungannya denganku...?” Aku bertanya, terisak-isak.
“Kesalahanmu adalah kamu terlalu cepat membuat keputusan untuk menanggapi keputusannya.. Kau tidak mencoba untuk berpikir kenapa dia bisa seperti itu padamu..!” Dia menyelaku, sok tahu..
“Ta.. tapi.. Aku sudah melakukannya, berjam-jam aku berpikir apa yang sebenarnya terjadi, beribu-ribu tetes air mataku telah habis untuk itu..!” Aku memprotesnya.
“Kau tahu.. Kebodohan manusia adalah ketika dia tidak menerima apa yang seharusnya diberikan untuk dirinya...” Dia mengejek kecil, terkekeh, lalu berdehem. Aku bingung.
“Lalu aku harus bagaimana...?” Aku bertanya lagi.
“Aku tahu, cintamu tulus.. Aku tahu kalau kau juga merasa bahwa dia juga mencintaimu, sama seperti kau mencintainya... hanya saja dia mungkin punya perbandingan-perbandingan lain yang tidak kau ketahui. Dan aku yakin bahwa perbandingan-perbandingannya itu adalah sesuatu yang keliru.. Dia tidak benar-benar paham arti cinta, begitu juga dengan dirimu..!” Suara itu berpetuah tanpa jeda.
“Lalu apa artinya semua ini, awalnya dia bilang mencintaiku, lalu dia bilang lagi kalau ternyata dia hanya mengagumiku..!” Aku menyesakinya dengan pertanyaan-pertanyaan memilukan itu.
“Kamu terlalu bodoh.. Siapakah manusia yang bisa membedakan antara kekaguman dan cinta..? Cinta adalah pembauran dari setiap rasa, lagipula kekaguman tidak akan membawamu sejauh itu.. Dia mengambil keputusan diantara kebingungannya, dan kau menanggapinya dengan segala kebingunganmu.. Kalian berdua sama-sama bodoh..” Aku tersentak, jauh didalam, rasa sakit itu juga ikut menyentak, seperti sebuah penyesalan yang meninggi.
“Kamu seperti seorang pengemis yang sedang memaksa ketika meminta. Alangkah baiknya, kamu menjadi pengemis yang menengadahkan tanganmu padanya, biarlah dia berada di tempat yang nyaman dengan pergolakan hatinya, apakah dia adalah seorang dermawan yang ikhlas dan tulus untuk memberimu sesuatu, ataukah dia adalah seorang kikir yang hanya memikirkan dirinya sendiri..” Suara itu melanjutkan petuahnya lagi. Aku mendengarnya dengan seksama, kata demi kata.
“Kau tahu..  Kamu mungkin terlalu mendesaknya dengan rasa yang bertakhta di hatimu..!” Suara itu kembali mengira-ngira.
“Lalu aku harus bagaimana..?”
“Kau tahu, rasa tulus dan ikhlas adalah pilihan yang bisa diciptakan didalam hati manusia. Dia bisa menciptakan keikhlasan dan ketulusan didalam hatinya, tetapi dia tidak mau melakukannya. Kau hanya perlu berusaha meyakinkannya sekali lagi..!” Dia menyarankanku.
“Ta.. tapi.. Dia sudah menutup harapan untukku..!” Aku menyela.
“Dia keliru, hakikat dari kehidupan adalah selalu ada harapan. Ingat, dimana ada kehidupan, disana ada harapan. Hanya kamu yang merasa tidak memiliki harapan..” Suara itu kembali tertawa kecil, seperti sedang mengulum pikirannya. Tangisku berhenti.
“Kau tahu.. Kesalahanmu adalah terlalu mencintainya. Dan kesalahannya adalah tidak mau mencintai orang yang mencintainya. Dua kenyataan ini yang mengusik keseimbangan di alam kehidupan.. Dunia menjadi semacam parodi ketidakadilan yang dimainkan oleh orang-orang yang tidak punya hati. Lalu mereka yang memiliki ketulusan justru tersingkir ke tempat yang tidak bernafas, yang tidak memiliki perasaan malah merasa benar dan nyaman menjalani perjalanan kehidupannya, lalu mereka mati juga dalam keadaan yang tenang, seperti tidak terjadi apa-apa..” Suara itu berpetuah lagi, berpanjang-panjang lebar, berlaksa-laksa makna.
“Kau tahu.. Cinta adalah awal dari segala kehidupan, Tuhan menciptakan kita semua karena cinta-Nya, kamu terlahir karena cinta orang-tuamu, tumbuh-tumbuhan, mereka tumbuh dengan cinta yang datang dari akar mereka, langit memayungi bumi dengan cintanya yang sangat biru, lalu ombak-ombak dan tebing-tebing itu, bergelombang dan menjulang, dijamin oleh cinta.. Bahkan aku berbicara kepadamu saat ini, itu terjadi karena cinta..” Suara itu menyambung kembali petuahnya. Aku semakin terdiam, termenung. Mulutku terkatup. Lidahku kelu.
“Beginilah hakikatnya, cinta itu rumit dijelaskan, hanya saja yang sering terjadi adalah cinta itu ada saat seseorang menyukai seseorang yang lain, dan tidak ada tatkala seseorang tidak menyukai seseorang yang lain..” Aku masih termenung, mendengar suara itu. Aku mencernanya.
“Hanya ada dua pilihan untukmu; terus bergabung dengan mereka untuk terus hidup di dunia yang tidak adil ini, ataukah menyingkir ke tempat yang tidak memiliki kehidupan. Kuharap kau tidak memilih keduanya, tapi kau pasti akan sangat tersiksa untuk itu..” Suara itu melanjutkan, lalu dengan gema yang merendah, dan lalu menghilang. Aku merasakan ketiadaan itu sudah tidak ada.
Gerimis kecil turun membasahi pesisir itu, lalu air mataku kembali tumpah, mengalir deras, bergabung bersama butiran-butiran hujan yang menelan tubuh kecilku yang tidak berdaya. Sedikit kabur, sisa-sisa penglihatanku menangkap Rumi yang sedang berjalan menuju ke arahku, dia tersenyum, wajahnya anggun, matanya penuh dengan keyakinan, rambutnya berayun, mengikuti irama terjangan butiran-butiran gerimis yang menggigil.
Di depanku, dia menatapku sebentar, senyumnya masih mengembang, seperti sedang berusaha mengajakku ikut tersenyum. Lalu dia menyeka air mataku, membelai-belai kepalaku.
“Ini semua hanya angin, apa yang kau dengar tadi juga hanyalah angin..., Cinta itu tidak ada teman.. Cinta itu tidak ada..”
Rumi lalu memapah tubuhku, menuju ke arah timur. Tempat dimana tidak ada kehidupan.***

*Dimuat di SKH Radar Halmahera (Group JPNN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar