Kamis, 21 November 2013

Perempuan Ilalang, Seurai Filosofi Rasa



Ilalang itu menghampar, meluas di segala penjuru mata, mayapada. Hijau dan melambai-lambai. Sudah menjadi sifat tanaman itu, ia kuat di akarnya, tetapi rapuh di batang yang sekaligus adalah daunnya, membuatnya sangat mudah bergoyang sporadis, mengikuti kemana arah angin.
Dia masih menatapnya, tanpa berkedip walaupun sekejap. Ilalang itu membawa sesuatu, seperti sebuah kabar yang mengabarkan keburukan untuk semua orang, sebab sifat ilalang adalah sifat yang tak tetap, kadang bergoyang ke timur, ke barat, ke tenggara, ke selatan, tak ada yang bisa menebaknya kecuali angin.
Dan detik-detik waktu yang berdetak di hatiku pun mempertanyakan setiap adegan itu, tentang sesuatu yang betapa sangat tidak tetap di tempatnya. Ya, dalam kaitannya dengan perubahan dan stagnasi keadaan, semua peradaban pasti menginginkannya, tidak! Tapi ini soal sifat dan sikap, semua orang pasti tidak menginginkannya, baik itu pada dirinya sendiri, pun juga pada orang-orang yang dikenalnya. Orang yang memiliki sifat seperti ibaratnya ilalang, senantiasa tidak konsisten pada keputusan awalnya. Baginya tidak ada keputusan awal dan juga keputusan akhir.
Disini, di hamparan ilalang ini. Sketsa-sketsa itu tercipta dengan alur-nya yang rapi, yang bisa terbaca, yang bisa ditebak. Perempuan itu masih menatap ilalang-ilalang itu, yang bergemayu kemana-mana tertiup angin. Matanya menatap tajam ke arah tatapannya itu, dengan binar matanya yang berkilat mempesona, dengan bola mata yang agak gelap namun penuh arti; takjub.
Baru beberapa saat tadi perempuan itu memutuskan sesuatu padaku, sesuatu yang dipikirnya benar, diyakininya, ditetapkannya dengan prinsip yang tidak mungkin terusik. Aku tidak bisa apa-apa, meski di sebalik pikiranku apa yang ia tetapkan itu tidak benar, pula tidak berdasar. Aku tahu dia bisa berpikir, aku juga memahami akan kebenaran pikirannya itu. Hanya saja sangat aneh, sebab kenapa dia harus berpikir seperti itu.
“Mulai sekarang, kita harus menjaga jarak!”
Itu kata-kata yang diucapkannya tanpa sedikitpun rasa bersalah, ia berusaha membersitkan keyakinan didalam nada dan rima dari kata-katanya itu.
“Ini demi kebaikanmu, dan kebaikanku juga”
Lanjutnya, masih dengan keyakinan yang tadi, tanpa rasa bersalah.
Bukan hanya sekali ini dia begitu, beberapa waktu yang telah lalu, dia sudah pernah mengatakan itu, sudah berulang-ulang.
“Ta.. Tapi aku tidak merasa ini sebagai kebaikan untukku. Mungkin ini adalah kebaikan untukmu, tetapi tidak untukku..!”
Aku berusaha meyakinkannya, dengan ucapan yang tertahan.
“Bagaimanapun, kita tetap harus jaga jarak.. Kita sudah terlalu dekat, dan ini tidak bagus untuk kita..!”
Ia menegaskan pendirian yang telah tegak didirikannya. Matanya masih memandang jauh, menerobos panorama ilalang yang bergoyang-goyang ke segala arah.
“Tapi bukankah dengan semakin dekat kita, akan semakin bagus buat kita?”
Tak lelah aku berusaha meyakinkannya dengan kebenaranku.
“Tidak. Selama ini aku merasa tidak nyaman dengan itu..!”
Ia mematahkan argumentasiku, seperti sifat parasitnya ilalang yang tak membiarkan tanaman lain tumbuh di kawasannya tumbuh, sangat absolut. Ia tidak sedikitpun berniat memandangiku ketika mengatakan itu semua, ilalang-ilalang itu lebih menarik di matanya.
“Lantas kenapa kau pun turut membangun itu semua jika dirimu merasa tidak nyaman dengan itu?”
Aku bertanya padanya, mataku berkaca-kaca. Air mata berkumpul dan mengalir di sekitar bola mataku. Suaraku mulai melirih. Saat dimana aku merasa seperti orang yang tidak penting baginya. Dia bermain-main dengan perasaanku.
“Aku menyesal. Aku minta maaf..!”
Singkat saja. Kalimat itu keluar tanpa sedikitpun mengguratkan rasa bersalah. Semudah itu.
“Lalu bagaimana dengan aku yang tidak bisa jauh dari dirimu..? bagaimana diriku..?”
Suaraku semakin lirih, dengan intonasi seperti orang yang memohon-mohon. Tepat di belakangnya. Aku hanya melihat punggungnya,sementara wajahnya dan bagian depan tubuhnya tegap menengadah ke arah alang-alang. Pastilah ia tidak mendengarku, semua ucapanku tak akan digubrisnya.
“Jangan menyiksa diri sendiri..!”
“Aku tidak menyiksa diriku sendiri. Aku hanya tersiksa dengan keputusan ini...!”
“Bukan, bukan itu saja. Mulai sekarang aku ingin berubah..!”
Katanya singkat. Aku terhenyak. Dia punya banyak alasan untuk membenarkan keputusannya itu, dan alasan-alasan itu takkan terusik dengan argumentasi yang coba kuuraikan padanya, sudah seperti ilalang yang saat ini dipandanginya, kuat di akar, takkan terusik. Sementara aku hanya tertahan dengan perasaanku yang sangat menyedihkan.
Perempuan yang sedang memandang ilalang itu, dia telah kujadikan sebagai harapanku. Maka ketika dia memutuskan untuk menjaga jarak dengan diriku, itu seperti menjauhkan diriku dengan harapanku.
***
Perempuan ilalang itu, pada akhirnya aku dan dia terpisah oleh jarak yang dikendakinya. Melalui interval waktu dalam masa-masa itu, aku menjalani nafasku dengan ketidakpastian dan juga ketakutan. Takut jika jarak yang jauh ini dijadikannya untuk meninggalkanku, takut jika ia berubah tanpa aku mengetahuinya sementara aku berubah tanpa ia mengetahuinya.
Jika ia seperti ilalang, maka aku seperti anggrek, aku takkan bisa hidup tanpa inangku. Tentunya dua analogi ini punya perbedaan yang mencolok nyata, anggrek punya ketetapan yang sangat tetap, tidak berpindah-pindah ataupun bergerak kesana-kemari.
Namun begitu, selama kita membangun prinsip yang telah diusiknya itu, dengan sifat ‘anggrek-ku’ tak pernah sekalipun aku meresonansikan dirinya untuk mengikutiku, tidak pula aku memaksakan keputusan-keputusan serta meng-ostentatifkan kebenaran yang kuanggap benar sementara dianggapnya salah. Bagiku, kebenaranku adalah kebenaranku dan kebenarannya adalah kebenarannya, atas semua keyakinan itu semakin menyatunya diriku dengan dirinya adalah kebenaranku dan kebenarannya juga, bukankah itu keinginan semua orang yang saling mencintai..? Ahh... Tak tahu lagi bagaimana caranya untuk meyakinkan perempuan ilalang itu, bahwa kita hidup di dunia nyata dengan problem-problem yang jalan keluarnya tidak bisa dipaksakan, sebab itu melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan, membenturkan adab-adab normatif setiap manusia yang memiliki perasaan. Aku tak mampu lagi meyakinkannya bahwa kita tidaklah hidup di dunia dongeng ataupun cerita-cerita yang dikarang oleh para penyair; dia bukan ilalang, begitu pula aku; bukan anggrek.
Sebagaimana yang pernah diceritakannya padaku, ia mungkin telah terbiasa berbicara dengan dirinya sendiri, berdiskusi dengan dirinya sendiri untuk membuat suatu keputusan yang dianggapnya benar tetapi ternyata sepihak. Berbeda dengan diriku dan juga kebanyakan orang lain yang mendiskusikannya dengan orang lain terlebih dahulu untuk mendapatkan kebenaran yang serempak, mungkin cara itu yang menjadikan manusia menjadi lebih manusiawi, bukan malah menjadikan manusia sepertimana layaknya ilalang.
Ya.. Perempuan ilalang itu, dia senang membuat keputusan dan memaksakan keputusannya itu. Dia tidak tahu arti dari sebuah keputusan, bahwa keputusan akan menjadi bijak apabila disetujui bersama untuk diputuskan, bukan otoritarianis. Dia menetapkan kebenaran diatas ketidaktahuannya terhadap kebenaran itu. Dia begitu mudah berubah. Sebagaimana ilalang, dia yang kemarin, dia yang hari ini, dan mungkin dia yang esok, selalu tidak pernah sama. Di pikirannya mungkin semua yang sulit dapat dengan mudah diputuskannya, dan mungkin semua yang mudah bagiku terasa sulit baginya.
Kesemestian ini seharusnya tidak mesti. Akhh... Aku lupa mengatakan sesuatu padanya.
“Kau bukan Ilalang, perempuanku..!” ***

Catatan:
*Ilalang: Adalah semacam analogi oleh orang-orang mendiami daerah padang rumput di selatan wilayah Mongolia terhadap orang yang tidak memiliki pendirian yang tetap dan senantiasa berubah-ubah sesuai dengan keadaan hatinya.
**Kaktus: Oleh suku Inca di Peru dijadikan sebagai simbol pengabdian dan ketaatan terhadap orang yang memegang prinsipnya dari awal hingga akhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar