Rabu, 07 Mei 2014

Tentang Kesunyian

Ilustrasi Kesunyian
Lambat laun kesunyian itu mulai menghilang, namun suara tak kunjung datang. Sebuah fragmen yang harus menjadi pigura hidupku.
Terkadang seseorang harus melewati kesunyian yang mengepung dirinya, sendirian, tanpa teman, tanpa suara yang menjadi pewarna bagi indera pendengaran.

Apa definisi sunyi?, Saya selalu berpikir tentang pertanyaan yang satu ini, berharap menemukan jawaban yang benar-benar sesuai untuk memenuhi hasrat keingintahuanku. Jauh di alam bawah sadarku, aku selalu mendefinisikan secara argumentatif bahwa sunyi adalah ketiadaan rasa yang membuat hati kita berwarna. Padahal lebih dari itu, kesunyian sesekali membuat orang merasa terasing dari dunia, merasa sendiri di tengah kehidupan yang dihuni oleh lebih dari 7 Miliar manusia.

Kemana-mana aku selalu bertanya tentang apa sebenarnya definisi dari kesunyian itu, namun sulit menemukan jawaban pasti. Definisi orang-orang yang mengatakan bahwa 'sunyi' adalah tidak ada keramaian, bagiku itu hanyalah pernyataan yang bersifat kontradiksi untuk memenuhi rasa keingtahuan manusia tentang "sunyi".

Saya teringat kembali, dulu ketika saya masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar, saya membaca buku tentang kisah para nabi dan rasul, disana pengetahuan saya terisi tentang kisah nabi Muhammad yang mendapatkan wahyu pertama nun jauh dari kota Mekkah, di Gua hira yang gelap dan sunyi. Maka saya mulai berpikir, kesunyian adalah kegelapan. Namun lambat laun pemikiran saya itu kemudian pudar, kenyataan yang ada sekarang, kegelapan ternyata tidak selalu identik dengan kesunyian.

Bertahun-tahun saya terperangkap dalam pertanyaan yang hanya satu itu saja, apa sebenarnya arti dari kesunyian? Apa hakikatnya? Entahlah. Apakah kesunyian adalah rasa yang sesekali terpatri pada jiwa seseorang ketika tidak ada lagi sandaran bagi jiwanya. Entah. Sulit menemukan makna sebenarnya dari "kesunyian"

Dan ternyata, kesunyian adalah ketika kita merasa jauh dari sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar