Kamis, 11 Desember 2014

Edukasi Pergerakan Dari Ikhwanul Muslimin Di Mesir



 
Oleh:
MUHAMMAD GUNTUR
Mahasiswa FS – Unkhair & Duta Bahasa Provinsi Maluku Utara

Beberapa hari ini dunia dibuat terhenyak oleh kudeta Militer Mesir (kalau boleh disebut begitu) terhadap Presiden yang terpilih dengan cara paling demokratis dalam sejarah negeri piramida, Mesir; Muhammed Morsi. Keadaan ini menjadi headline di berbagai media dan surat kabar di seluruh penjuru dunia. Sampai dengan ulasan ini ditulis, jumlah korban yang tewas telah mencapai 54 orang, 3 dari pihak militer, sedangkan sisanya dari pendukung Presiden yang dimakzulkan –kebanyakan kader Ikhwanul Muslimin− (Okezone.com/09/07/13). Menyangkut dengan pergolakan dan pergerakan ini, kelompok Ikhwanul Muslimin tidak bangkit dengan alasan bahwa Morsi merupakan tokoh yang berasal dari Ikhwanul Muslimin, tetapi mereka bangkit dan bergerak untuk berusaha kembali menegakkan demokrasi yang telah susah payah dirampas dari tangan rezim totaliter Husni Mubarak, ketika itu coba untuk dihancurkan oleh militer melalui kudeta pada bulan juni lalu. Fakta inilah yang kemudian dengan sendirinya membentuk citra penegak demokrasi didalam diri dan pergerakan Ikhwanul Muslimin.
Jika dilihat dari kacamata yang universal, tanpa menyangkut-pautkan dengan identitas gerakan Ikhwanul Muslimin yang agamis, kelompok pergerakan ini memiliki keunikan yang jarang ditemui dalam tubuh kelompok pergerakan Islamis yang lain, seperti misalnya Al-Qaeda, Al-shabab, dan ataupun Hizbullah di Lebanon, yang mana kelompok-kelompok pergerakan tersebut lebih memilih kotak peluru (perjuangan radikal) ketimbang kotak suara (perjuangan demokratis). Posisi yang diambil oleh Ikhwanul Muslimin seperti inilah yang membuatnya menjadi sebuah kelompok pergerakan ber-identitas moderat namun konsisten dengan tujuan-tujuan keislamannya, dengan cara inilah mereka berusaha menegaskan bahwa demokrasi bisa tumbuh subur dan bersebelahan dengan Islam. Menepis anggapan bahwa demokrasi adalah antitesa dari prinsip-prinsip Islam.
Untuk diketahui, Intisari tulisan ini tidak begitu menyoroti secara lugas persoalan politik di Mesir yang saat ini tengah menghadapi masa-masa kritis, yang bahkan oleh Presiden Rusia; Vladimir Putin, dikhawatirkan akan meluas menjadi perang saudara, ulasan singkat ini lebih khusus membahas sepak-terjang Ikhwanul Muslimin dengan semangat pergerakannya yang sangat tersohor di dunia Islam, hingga bahkan di dunia barat.

Perjalanan Panjang Ikhwanul Muslimin
Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Syekh Hasan al-Banna di Kota Ismailiyah, Mesir pada Maret 1928.  Ikhwanul Muslimin yang dalam bahasa Arab diseebut al-Ikhwan al-Muslimun didirikan untuk mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Islam, hidup dalam naungan hukum Islam, berpikir secara benar, kembali kepada akal dan fikrah, dan bekerja serta mengabdi kepada masyarakat dan umat. Pada perkembangannya tujuan-tujuan deklaratif dari pergerakan Ikhwanul Muslimin menyebar hingga ke seluruh dunia.
Masa-masa awal berdirinya Ikhwanul Muslimin, diwarnai dengan perjuangan menghadapi berbagai pergolakan politik yang terjadi di negeri Mesir, tak jarang pergerakan yang dilakukan di dalam negeri pun merembes keluar di kawasan Timur-Tengah. Pada tahun 1948 Ikhwanul Muslimin juga turut berperang melawan Israel, disaat yang sama Organisasi ini mulai berkembang dengan pesat. Pesatnya perkembangan Ikhwanul Muslimin ditandai ddengan semakin aktifnya organisasi ini masuk ke setiap lini kehidupan perpolitikan negeri Firaun, hal inilah yang kemudian dijadikan sebagai alasan Ikhwanul Muslimin dibekukkan oleh Muhammad Fahmi Naqhrasyi, Perdana Menteri Mesir saat itu.
Jelang satu tahun kemudian, tepatnya pada 12 Februari 1949, pemimpin sekaligus pendiri Ikhwanul Muslimin (Pemimpin Ikhwanul Muslimin biasa disebut Mursyid’an); Syekh Hassan al-Banna meninggal dunia secara misterius (diduga dibunuh), setelah kematian al-Banna, pemerintah (parlemen Mesir dibawah pimpinan Mustafa an-Nuhas Pasha) masuk kedalam tubuh Ikhwanul Muslimin dan merehabilitasi organisasi tersebut pasca pembekuan yang dilakukan oleh Naqhrasyi, dua tahun sebelumnya. Parlemen Mesir menganggap bahwa pembekuan terhadap Ikhwanul Muslimin tidak sah dan inkonstitusional, pada saat itu Ikhwanul Muslimin dipimpin oleh Hasan al-Hudhaibi. Kemudian, tanggal 23 Juli 1952, Mesir dibawah pimpinan Muhammad Najib bekerjasama dengan Ikhwanul Muslimin dalam rencana menggulingkan kekuasaan monarki Raja Faruk pada Revolusi Juli. Tapi, Ikhwanul Muslimin menolak rencana ini, dikarenakan tujuan Revolusi Juli adalah untuk membentuk Republik Mesir yang dikuasai oleh militer sepenuhnya, dan tidak berpihak pada rakyat. Karena hal ini, Jamal Abdul Nasir menganggap gerakan Ikhwanul Muslimin menolak mandat revolusi. Sejak saat ini, Ikhwanul Muslimin kembali dibenci oleh pemerintah.
Ketika Anwar Sadat berkuasa, anggota Ikhwanul Muslimin yang dipenjara, satu-persatu mulai dibebaskan. Hingga Anwar Sadat dijatuhkan oleh Hosni Mubarak, Ikhwanul Muslimin dibawah pimpinan-pimpinannya; Umar at-Tilmisani, Muhammad Hamid Abu Nasr, Mustafa Masyhur, Ma’mun al-Hudhaibi, dan Muhammad Mahdi memilih jalur pergerakan yang moderat dengan tidak bermusuhan dengan pemerintah. Baru ketika Muhammad Badie menjadi pemimpin Al-Ikhwan (sebutan lain Ikhwanul Muslimin) pada tahun 2010, arah pergerakan mulai berubah, Ikhwanul Muslimin yang sebelumnya telah menjadi oposisi aktif di parlemen Mesir, kini semakin gencar mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai otoriter. Gerakan oposisi aktif Ikhwanul Muslimin di periode kepemimpinan Badie mencapai puncak tatkala rezim Hosni Mubarak akhirnya runtuh pada tahun 2011 lewat gelombang unjuk-rasa besar rakyat Mesir, peran Ikhwanul Muslimin sangat besar dalam peristiwa ini. Hal ini disadari benar oleh rakyat Mesir, hingga setahun kemudian, pada 2012, melalu Pemilihan Umum paling demokratis dalam sejarah negeri Mesir, salah satu anggota terbaik Ikhwanul Muslimin; Mohammed Morsi terpilih sebagai Presiden Mesir, meski akhirnya dikudeta oleh Militer tepat setahun ketika memangku jabatannya, terpilihnya Morsi sebagai presiden Mesir merupakan sejarah emas, pencapaian terpenting dalam sejarah panjang pergerakan Ikhwanul Muslimin yang terus berjalan konsisten dengan tujuan-tujuannya yang futuristik dan modernis.

Belajar Dari Ikhwanul Muslimin
Sebagaimana yang menjadi kenyataan saat ini, Ikhwanul Muslimin tengah menghadapi hari-hari paling bersejarah, paling krusial, dan paling kritis dalam sejarah mereka, gerakan ini bukan hanya sekarang bertarung dengan kekuatan sekuler dan liberal yang menjadi antitesis dari pergerakan mereka, tetapi juga pihak militer dan kapitalis yang telah menjungkalkan tokoh dan pencapaian terbaik dalam sejarah pergerakan mereka. Pun demikian, pergerakan Ikhwanul Muslimin tetap berada pada jalurnmya yang dikenal sangat konsisten. Konsistensi inilah yang patut menjadi contoh bagi setiap kelompok dan organisasi pergerakan dimanapun itu dan apapun madzhabnya. Menilik pergerakan kelompok-kelompok dan ataupun organisasi pemuda yang terjadi di Indonesia yang cenderung tidak konsisten, nampaknya pergerakan Ikhwanul Muslimin dapat dijadikan acuan pragmatis (Hilmi, 2013).
Di Indonesia, pergerakan yang dimulai oleh angkatan muda sejak tahun 1928 yang ditandai dengan ikrar sumpah pemuda, revolusi 1966, hingga reformasi 1998, tidaklah konsisten antara tujuan dan hasilnya. Bagaimana revolusi 1966 kemudian menciptakan kekuasaan otoriter orde baru, serta bagaimana reformasi 1998 yang melahirkan situasi multi-kompleks seperti yang ada di negeri ini saat ini. Kenapa revolusi dan reformasi gagal? Karena tujuan dan hasil akhir dari Reformasi tidak saling konsisten. Dalam konteks ini kita harus banyak belajar dari dinamika pergerakan yang diusung oleh Ikhwanul Muslimin, meski pada akhirnya pencapaian dari perjuangan mereka dirampas oleh kudeta justru ketika mereka berusaha menerapkan tujuan akhir dari perjuangan mereka, itu adalah bagian dari koneskuensi yang telah mereka perhitungkan namun dengan sikap yang berani tetap untuk dijalankannya, hal ini tak lain karena konsistensi mereka terhadap tujuan dari pergerakan mereka, dan karena tujuan itulah maka sampai dengan detik ini mereka berusaha untuk mengambilnya kembali. Sesuatu yang patut diapresiasi, justru di saat-saat kalut seperti ini Ikhwanul Muslimin juga tidak melenceng dari tujuan dan prinsip awal mereka, meskipun sudah berpuluh-puluh dari anggota mereka yang terbunuh, mereka tetap konsisten pada jalur perjuangan kooperatif, lebih mementingkan cara-cara yang lazim dalam dunia demokrasi ketimbang mengangkat senjata dan menggaungkan kekerasan.
Sampai dimana pergerakan Ikhwanul Muslimin akan tetapt konsisten pada jalur-jalur yang telah ditetapkannya, akan terjawab nanti. Namun demikian, konsistensi gerakan adalah ihwal yang harus dicontoh oleh setiap kelompok pergerakan (movement) di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dengan inilah maka pergerakan ataupun pembaruan menuju angin segar demokrasi yang maju dan sejahtera dapat memiliki ruh-nya (al-jadid), antara tujuan awal dan khittah akan mendapatkan jalan penghubung yang dapat dipastikan, bukan hari ini bergerak untuk perubahan, justru esok kita sendiri yang merusak perubahan itu, sebagaimana situasi yang umum terjadi pada tokoh-tokoh pergerakan negeri ini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar