Kamis, 06 Agustus 2015

Jejak Yang Lenyap Di Sudut Tagulandang




Nisan Korban Duma


Sio… Tobelo dan Galela..
To belo de Galilea..
Pasir yang putih di Luari, bayangan gunung di telaga Paca..
Pasir yang hitam di Somola, riak-riak yang memukul teratai di danau Duma..
Salam kami, dari sini, yang tak kembali…


Air mata belum juga mengering, suara tangis masih mengiang di telinga, luka-luka yang digores peluru belum hilang perihnya, serpihan-serpihan granat masih menancap di penjuru tubuh tak sempat diangkat. Sementara harapan masih berkabut di pelupuk mata. Tak ada perjalanan derita lain yang mungkin melebihi perjalanan ini, sebab lari dari kematian adalah perjalanan yang paling lirih dari semua perih.
Ini tentang sebuah kisah yang gagah juga tragis dari penjelajah lautan bernama Cahaya Bahari, cerita yang tak sempat dicatat dengan gegap gempita sejarah, membawa 600 kehidupan yang lari dari ancaman kematian yang berserakan di Tobelo dan Galela, arena Perang Komunal Halmahera yang memperhadapkan dua keyakinan dengan kebenarannya masing-masing.
Disini, dari tanah berjuluk Batucina de Moros, satu yang terbesar dari rangkaian wilayah bernama Jaziratul Mulk, kisah ini adalah kisah yang terlupakan. Ia hanya tersirat pada replika yang terpampang disamping Gereja Duma, bersebelahan dengan ribuan nisan berlambang salib yang berjejer bisu, sebuah kenangan yang perih dikenang dari sisa-sisa pertempuran terakhir mempertahankan keyakinan.
Senin 19 Juni 2000, semuanya berhulu, Duma sejarah Galela bermula, ketika Franciscus Xaverius berabad-abad lalu memberi nama yang diambil dari danau Galilea, rumah dari sebuah keyakinan yang tak goyah oleh terjangan bertubi-tubi peluru yang keluar dari magasin, jiwa dari sebuah kekuatan yang tak gentar oleh gelegar suara granat. Ketika perang harus adil dengan slogan “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, Duma menanggungnya atas dendam terhadap pembantaian massal didalam Masjid Al Ikhlas, Popilo di Tobelo tujuh bulan sebelumnya.
Ya..! Gereja Duma adalah ironi yang menguras air mata, ketika ribuan kehidupan berakhir di ujung perjalanan sebutir peluru, kain putih yang diikat pada sebatang bambu sebagai tanda menyerah telah terlambat mencegah ribuan kematian pagi itu. Pengampunan adalah kematian yang lain, ketika iring-iringan pengungsi yang diselamatkan dari Duma menuju Tobelo, melewati pelataran masjid Popilo, entah apa yang terbersit di wajah-wajah itu, melihat sisa-sisa pembantaian dari seberang yang juga baru dialami oleh mereka.
Seperti tak cukup, cerita dan derita masih terus berlanjut. KM. Cahaya Bahari, ibarat kasih Tuhan yang akan mengangkut kepiluan itu menuju ke tempat pengungsian di Manado. 29 Juni 2000, malam, mereka yang selamat dari Duma dibawa bertolak membelah Selat Moro, menuju Manado dimana harapan katanya berada. Dari jauh, sayup-sayup masih terdengar suara bom dan rentetan senapan yang menyalak, api masih jelas membubung, menari-nari di setiap titik, juga di batas Tobelo dan Galela.
Ketika harapan perlahan menampakan wujudnya yang memburam, semuanya justru berubah menjadi suram. Disini, di keheningan laut Halmahera yang menepuk-nepuk punggung Cahaya Bahari, isyarat tak selalu berakhir dengan senyuman. Di perairan Tagulandang, batas laut Halmahera, Kedigdayaan Cahaya Bahari runtuh, hilang, ditelan kelam malam, diantara ganas gelombang, bersama 600 pencari harapan yang ada didalamnya. Tak ada sesiapa yang tahu bagaimana, Sepotong bangkai ataupun sehelai rambutpun yang menjadi bagian perjalanan itu, sampai detik ini tak kunjung mengapung.
Di sudut Tagulandang, sebagaimana jejak arus, ia tak dikenang, sebab ia hanya sekecil bagian dari beratus-ratus kabar duka perang Halmahera.
Kini, Cahaya Bahari, potret air mata, mengarung kembali. Abadi di tengah-tengah lembah Dokulamo, di pelataran gereja Duma. Dimana semuanya mungkin bermula.

*Pernah dimuat di Jogjanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar