Jumat, 28 Agustus 2015

Surat Terbuka Untuk Pimpinan Universitas Khairun




Oleh:
MUHAMMAD GUNTUR
Ketua Umum UKM PENA Universitas Khairun

Dengan segala hormat, Pimpinan Universitas Khairun, surat terbuka ini adalah segelintir harapan dari mungkin banyak harapan lain yang masih terpendam di kepala para mahasiswa atau pun juga elemen civitas akademika lain yang menjadi bagian dari nafas kehidupan kampus. Belakangan kita semua disuguhkan oleh kabar-kabar baru mengenai situasi dan perkembangan kampus, ada kabar yang baik pun juga ada kabar yang buruk, ada yang membanggakan pun juga ada yang membuat miris, mulai dari kabar akan dibukanya Fakultas Kedokteran yang membuat kita semua bergembira, hingga kabar mengenai persoalan korupsi dan pemberian sanksi skorsing secara massal di beberapa fakultas yang membuat kita sedikit mengernyitkan dahi.
Dengan segala hormat, para pimpinan Universitas Khairun, surat terbuka ini lebih mengkhususkan topik pada persoalan yang terakhir; tentang rekan-rekan mahasiswa yang harus mendapatkan secarik kertas berisi vonis berupa skorsing yang membuat dirinya kehilangan haknya sebagai mahasiswa Universitas Khairun untuk beberapa waktu. Sebab agaknya terlalu kompleks kita berbicara mengenai kasus korupsi yang kini merongrong kampus yang kita cintai ini, bisa-bisa malah besok kami yang akan dijatuhkan sanksi skorsing apabila membicarakannya.
Dengan segala hormat, para pimpinan Universitas Khairun, surat terbuka ini ditulis setelah kami mendengar keluhan yang disampaikan langsung oleh mereka yang telah diskors dan terancam diskors dengan persoalan yang hampir sama di masing-masing fakultasnya; bertentangan dengan kampus. Mereka berjumlah sekitar delapan (8) orang, rata-rata memang berlatar belakang sebagai mahasiswa yang berorientasi pada jalur gerakan (yang kemudian diartikan oleh pimpinan sekalian sebagai anarkisme). Delapan orang dalam kacamata kami dan juga mungkin kacamata para pimpinan adalah angka yang kecil dalam komparasinya dengan ribuan mahasiswa lain yang patuh dan dapat diatur di kampus ini.
Sembilan orang ini bukan sekedar angka yang membuat palu keputusan menjadi ringan dan mudah diketuk di saat rapat senat. Sembilan orang ini adalah indikator kearifan para pimpinan sekalian dalam menjalankan tampuk di kampus yang kita cintai ini. Apakah para pimpinan sekalian sudah mempertimbangkan dampak dari keputusan skorsing tersebut yang rasanya mungkin lebih ringan disamping sanksi pemecatan? Apakah pimpinan sekalian sedikit berpikir tentang betapa hancurnya perasaan para mahasiswa tersebut yang harus menunda rencananya merayakan wisuda di tahun yang ditetapkan didalam cita-citanya? Dan mungkin yang lebih buruk lagi, jika kekecewaan tersebut membuat mereka tidak bersemangat lagi dan kehilangan motivasi untuk melanjutkan studinya.
Dengan segala hormat, para pimpinan Universitas Khairun, kami, menyadari bahwa aturan tetaplah aturan, tindakan selalu mempunyai konsekuensi, sebab hal-hal itulah yang menjadi cermin atas keseharian kita di kampus. Atas hal tersebut mereka semua menyadari kesalahannya tentu dengan penyesalan dan tekad untuk tidak mengulanginya di masa mendatang. Tetapi semuanya itu mungkin tidak berguna sebab Surat Skorsing harus datang lebih dulu dari surat teguran, ruang pengampunan seperti ditutup dalam upaya pimpinan sekalian menertibkan segala tindakan anarkis di kampus. Hal ini membuat semua punishment yang dijatuhkan cenderung seperti memberikan ‘pelajaran’ ketimbang pembelajaran, dalam konteks ini kampus seperti sedang melepaskan diri dari tanggung-jawabnya dalam membina dan memperbaiki sebagaimana yang tersirat dalam poin pertama Tri Dharma Perguruan Tingga sebagai lembaga pendidikan yang tugasnya mendidik, surat skorsing yang terlalu dini menurut hemat kami sifatnya lebih sebagai ganjaran.
Dengan segala hormat, para pimpinan Universitas Khairun, kami menyadari bahwa hanya melalui media inilah kami menyampaikan keluhan secara lebih halus dan beradab, biar bagaimanapun juga kami berharap agar sanksi tersebut jangan dijadikan sebagai pedoman solusi atas persoalan yang kronologinya multikompleks. Kami percaya bahwa pimpinan sekalian tentu mempunyai solusi lain dibanding langsung melayangkan surat skorsing. Kami percaya bahwa pimpinan sekalian adalah orang-orang yang bijak, terlebih didalam lembaga ini, yang namanya diambil dari nama seorang pejuang gigih nan bijaksana, pemimpin yang disegani di masanya karena terkenal cerdas dalam menyelesaikan setiap masalah; Sultan Khairun.
Melalui surat terbuka ini, kami berharap agar hal ini yang pelan-pelan menjadi polemik besar dapat segera diselesaikan dengan lebih manusiawi dengan catatan-catatan yang harus dipatuhi, bagaimanapun setiap kita berhak untuk mendapatkan kesempatan yang lain. Semoga saja keluhan ini dapat menjadi sedikit pertimbangan pimpinan sekalian dalam mengumpulkan kita semua dalam suatu situasi yang adil dan dapat diterima oleh semua pihak. Semoga.

Disampaikan di Harian Malut Post

1 komentar:




  1. https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWMkJvbFpZejBQZWM/view?usp=drivesdk


    Salam


    Kepada:

     

    Redaksi, rektor dan para akademik


    Per: Beberapa Hadis Sahih Bukhari dan Muslim yang Disembunyikan


    Bagi tujuan kajian dan renungan. Diambil dari: almawaddah. info

    Selamat hari raya, maaf zahir dan batin. 


    Daripada Pencinta Islam rahmatan lil Alamin wa afwan


    BalasHapus