Senin, 29 Februari 2016

Transformasi dan Gerakan Kontemporer HMI: Konteks Peran Global




Oleh: Muhammad Guntur
(Artikel ilmiah ini meraih juara II Nasional LKTI Milad HMI ke-69)




Motto:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S Al-Baqarah: 148)

Abstrak:
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa Islam dengan tujuan mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah subhana wa ta’ala. Semenjak terbentuknya 69 tahun lalu hingga saat ini, HMI terus memperjuangkan terbentuknya suatu tatanan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan. Dengan prinsip-asas keislaman dan keindonesiaan, HMI telah mengawal perjalanan bangsa Indonesia sejak masih ‘bayi berumur dua tahun’, sejalan dengan semakin dewasanya Indonesia didunia, HMI juga semakin mengokohkan eksistensinya dalam konfigurasi gerakan pemuda Islam dunia melalui ide-ide dalam pembangunan umat dan bangsa. Kini ditengah situasi global kontemporer yang penuh dengan persaingan dan ketidakpastian, HMI dituntut untuk bertransformasi menjadi organisasi pemuda Islam dengan garis perjuangan yang lebih luas. Terbentuknya tatanan masyarakat dunia yang saling terintegrasi secara digital adalah tantangan terhadap HMI untuk segera menemukan bentuk gerakan kontemporernya, sehingga kedepan HMI lebih dapat menunjukkan peran globalnya.
Kata Kunci: Himpunan Mahasiswa Islam, Transformasi, Gerakan Kontemporer, Peran Global.

Pendahuluan
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa Islam yang sampai saat ini masih memegang gelar sebagai organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Dengan jumlah kader yang begitu banyak, HMI telah dan terus menunjukkan pengaruhnya bagi pembangunan bangsa.  Pengaruh besar ini tentu tidak terlepas dari jaringan berikut anggota dan kadernya yang meluas ke seluruh Indonesia. Dimana ada PT (Perguruan Tinggi) formal, muncul HMI di sana. HMI juga “berpengaruh”, karena kiprah alumni-alumninya yang tersebar dimana-mana serta sepak-terjang dan perjuangan pengurus, kader, dan anggotanya di sepanjang sejarah organisasi ini. Pendapat tadi bukan klaim sepihak dari internal HMI semata-mata, melainkan juga diafirmasi (dibenarkan) oleh pihak di luar HMI (Azis, 2016).
Semenjak berdirinya pada 5 Februari 1947 (14 Rabiul Awal 1366 H) HMI telah melalui berbagai fase pendewasaan yang kesemuanya dapat dilalui dengan menempatkan HMI semakin kuat baik dari segi gagasan, pemikiran dan gagasan. Saat ini, HMI telah memasuki fase perjuangan baru yang disebut oleh sejahrawan internal HMI sebagai “Fase Tantangan jilid II” yang dimulai sejak Reformasi 1998 bergulir, pada fase ini HMI masih berkutat dengan persoalan internal dan perjuangan struktural (Malik, 2002). Tokoh-tokoh muda HMI pada fase ini tidak begitu banyak muncul di panggung-panggung pembangunan baik itu di panggung politik, intelektual dan lain sebagainya, terakhir adalah Anas Urbaningrum. Situasi eksternal didalam negeri juga berkembang dengan sangat cepat, gerakan Islam radikal, Liberal, Fundamentalis, hingga sesama moderat semakin gencar dan dalam beberapa kesempatan memunculkan persaingan memperebutkan pengaruh secara ideologis, hal serupa juga terjadi secara global. Itulah kenapa di Fase Tantangan Jilid II ini HMI segera dituntut untuk bertransformasi dan segera menemukan bentuk gerakan kontemporernya, keharusan ini bukan berarti HMI harus meninggalkan metode gerakan tradisionalnya.
Gerakan Kontemporer HMI yang dimaksud bukan sebatas melakukan kontra-situasi sebagaimana yang saat ini sedang terjadi dan dilakukan oleh banyak kelompok dan organisasi berlatar Islam, sebab berbicara mengenai dunia Pergerakan Islam kontemporer bukan saja dimulai pasca Peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat, dimana gerakan yang muncul cenderung responsif dan tidak memiliki ide dasar yang jelas, alhasil semakin banyak gerakan Islam berhaluan radikal dan cenderung contra-modernism karena barat terlanjur dianggap sebagai musuh yang harus diperangi dalam kondisi apapun.
HMI sebagai organisasi mahasiswa yang menghimpun intelektual-intelektual muda Islam terpelajar sebenarnya telah lama menganut paham modernisme, ini tentu bertolak belakang dengan apa yang menjadi prinsip pergerakan beberapa kelompok gerakan Islam lain yang berhaluan radikal dan fundamentalis. Dalam aspek ini HMI selangkah didepan, sebab pada dasarnya Islam merupakan agama sekaligus acuan komponen sosial yang kompleks dalam upaya mengarahkan suatu tatanan masyarakat progressif-modern. Modernisasi tak selamanya harus identik dengan barat, sistem, beserta paham-pahamnya. Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah kebenaran terbukti mampu menorehkan tinta emasnya sebagai tokoh revolusioner umat manusia sepanjang zaman, dari model sistem sosial ortodoks Jahiliyah hingga pada akhirnya Beliau mampu menggiring umat manusia berada pada jaman keemasan dengan segala kemakmuran dan keberagamannya. Masyarakat makmur dan beragam inilah yang disebut dengan stabilnya kondisi keumatan yang modern (Ramzy, 1993).
Kelemahan HMI adalah ketidakpekaannya terhadap isu-isu kontemporer dimana seharusnya bargaining HMI dibutuhkan, sebutlah misalnya isu-isu global tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), kelaparan di negara-negara miskin lainnya, hingga konflik tidak berkesudahan yang dialami oleh umat Islam di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Iraq-Suriah, Rohingya, Uighur, Kashmir, Pattani hingga Mindanao. HMI lebih cenderung terjebak dan sibuk hanya pada isu domestik sedangkan kelompok pergerakan lain menunjukkan perhatian dan aksi nyata dalam isu-isu global seperti ini sembari juga berperan penting dalam menyikapi isu-isu domestik. Sehingga kesimpulannya dapat dikatakan HMI telah berpikir modern tetapi dalam tindakannya masih bersifat tradisional. Pada kondisi selanjutnya, gerakan HMI menjadi semakin tidak menarik di kampus-kampus yang notabene sudah mulai diwabahi wawasan dan pengetahuan berskala internasional, sehingganya HMI semakin sulit bersaing dalam mendapatkan kader-kader berkualitas.

Transformasi Gerakan HMI: Menemukan Kekinian
Berbicara mengenai gerakan HMI tidak terlepas dari gerakan mahasiswa pada umumnya, gerakan ini memanfaatkan semangat kaum muda terpelajar dalam mendobrak realitas sosial yang tidak sesuai. Secara historis Gerakan Mahasiswa mulai memainkan peranan dalam sejarah sosial sejak berdirinya universitas di Bologna, Paris dan Oxford pada abad Ke-12 dan abad Ke-13. Semboyan mereka saat itu ialah Gaudeamus Igtiur, Juvenes Dum Sumus, artinya: "Kita bergembira, selagi kita muda." (Vellela, 1988). Di Indonesia, gerakan seperti ini dimulai pada tahun 1928, klimaksnya adalah kemerdekaan Republik Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan periode 1966, 1974, hingga 1998.
Dalam pusaran sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia, HMI memegang peran penting di setiap periodenya, bahkan di periode revolusi fisik, kader-kader HMI juga masuk hutan naik-turun gunung menyandang senjata api dan berperang mempertahankan NKRI, fakta ini juga mencirikan HMI sebagai Patriotis-Nasionalis selain sebagai Gerakan sosio-religius yang dilandaskan pada tujuan besar diwujudkannya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhana Wa Ta’alla. Tujuan ini adalah manifestasi yang tidak pernah berkesudahan, sederhananya gerakan yang dibangun oleh HMI adalah jenis perjuangan dengan tujuan yang abadi, sebab tidak hanya untuk kesejahteraan manusia di dunia tetapi juga untuk kesejahteraan di akhirat.
Dalam konteks pergerakan tidak lepas dari situasi sosial, dimana dewasa ini transformasi sosial masyarakat dunia berlangsung dengan tempo yang sangat cepat, hal ini dipengaruhi oleh semakin gencarnya upaya mengintegrasi masyarakat dunia kedalam cyber community, arus informasi yang sedemikian cepat menyebar dari suatu tempat ke tempat yang lain memungkinkan terbentuknya main opini ditengah masyarakat global dengan sekejap (William, 2009). Pengaruhnya di dunia pergerakan kontemporer telah ditampilkan oleh beberapa gerakan yang dipelopori oleh mahasiswa dalam revolusi dan suksesi kekuasaan di beberapa negara totaliter, seperti; Arabic Spring yang menjatuhkan rezim Ben Ali di Tunisia dan rezim Hosni Mubarak di Mesir hingga revolusi di Georgia dan Ukraina, dimana pola baru gerakan pemuda terlihat jelas dalam mendorong terjadinya transformasi sosial di negara masing-masing.
Fakta dan situasi kekinian seyogyanya mendorong HMI untuk segera menemukan “kekiniannya” sehingga HMI yang modern dapat terwujud tidak hanya dari segi pemikiran tetapi juga dari segi aplikasi. Sebab selama periode pasca reformasi ini HMI terlihat eksklusif dalam garis perjuangannya, HMI seakan tidak menyadari bahwa zaman telah berubah sehingga mau tidak mau pola gerakan pun harus berubah untuk kepentingan yang strategis. Salah satu contoh dimana kelemahan HMI dapat terlihat jelas adalah hiruk-pikuk Kongres ke-XXIX di Pekanbaru beberapa waktu yang lalu, di HMI dinamika kongres yang diwarnai dengan perselisihan dan perdebatan yang berujung konflik fisik sudah dianggap lazim dan hubungan silaturahmi antar kader akan kembali terjalin setelahnya, tetapi tidak demikian halnya pandangan masyarakat awam dan orang luar HMI, hasilnya adalah pandangan yang negatif ditujukan kepada HMI, baik itu melalui media massa dan media sosial. Disini HMI tidak mampu menangkis arus informasi dari media yang terus-menerus memberitakan berbagai hal buruk yang tidak semuanya terjadi di karena kongres, begitupun juga opini-opini negatif yang mengalir deras di forum-forum daring dan media sosial. Ini menunjukkan secara lugas bahwa HMI masih belum menjadi organisasi dengan pola gerakan kontemporer.
Untuk menemukan kekiniannya, maka HMI harus segera bertransformasi. Secara umum, ada tiga langkah dasar yang harus dilakukan oleh HMI; Pertama, Harus ada Empower Action, dimana HMI harus mampu mengatasi secara efektif rintangan-rintangan kecil yang timbul sehingga dapat memantapkan pengalaman dalam mengelola perubahan yang dapat meningkatkan kepercayaan diri organisasi dan kader. HMI perlu mengerahkan segala daya-upaya (resources) yang dimiliki secara memadai agar semua kader merasa perlu bertindak untuk mencapai visi (Kotter, 1997). Kedua, harus menumbuhkan Sense of Urgency, dimana HMI harus memiliki kepekaan atas isu-isu dengan urgensi tinggi seperti pelanggaran HAM, konflik yang tidak berkesudahan, narkoba, gelombang suaka, pendidikan, dan masalah-masalah sosial-ekonomi lainnya baik secara domestik maupun global. Ketiga, adalah Utilizing Modernism, dimana HMI harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya berbagai instrumen dan ide-ide modern untuk tujuan strategis organisasi kedepan, contoh pemanfaatan instrumen modern yang sangat berhasil ditunjukkan oleh kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) dalam penggunaan media sosial sebagai alat proganda dan kontra-propaganda untuk kepentingan negatif mereka (Bilger, 2014). Tiga langkah dasar tersebut secara sistematis akan membentuk kultur organisasi yang siap menghadapi tantangan kekinian.

Peran Global, Manifesto Rahmatan Lil Alamin
Ahli Filsafat Jeremy Bentham menggulirkan istilah “internasional” pada tahun 1780-an untuk menunjukkan telah terjadi suatu realitas yang mendalam yaitu The rise of nation-states and cross border transactions antar negara-bangsa. Orang-orang belum bicara kata internasional sebelum waktu itu, karena sebelumnya masyarakat tidak terorganisasi dalam lingkup kedalam komunitas negara teritorial (Abdullah, 1995). Dua ratus tahun kemudian, tepatnya 1990-an, bersamaan dengan berakhirnya Perang Dingin, bicara globalisasi dan isu-isu global (global issues) menjadi hal yang lumrah.
Belakangan komponen-komponen didalam civil society di seluruh dunia mulai melihat isu-isu internasional sebagai wacana dan ruang yang lebih luas dimana mereka akhirnya menempatkan perannya (Frederick, 2007). Itulah kenapa menjelang tahun 2000 semakin menjamur organisasi-organisasi dan LSM yang sebelumnya concern pada isu-isu domestik menjadi lebih trans-nasional. Perluasan ruang yang dilakukan oleh organisasi domestik selain untuk mengambil peran yang lebih besar juga menegaskan tujuan universalnya.
Didalam Islam konsepsi global/mondial sebagaimana yang dimaksud disini dikenal dengan istilah rahmatan lil alamin, yakni Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Secara definitif ini juga berarti bahwa seorang muslim harus bermanfaat bagi umat muslim lainnya (Bahi, 1995). Didalam firman-Nya konsepsi ini ditegaskan Allah dalam surah Al-Anbiyaa ayat 107 yang berarti: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
HMI sebagai organisasi perjuangan telah menetapkan tujuan dasarnya yakni terbentuknya masyarakat ulul albaab yang baldatun thayibatun warabbun ghafur, di awal terbentuknya pendiri HMI tidak menetapkan batas garis perjuangan yang berarti bahwa garis perjuangan HMI adalah universal, bukan hanya kaku dan mengikuti patok-patok batas wilayah Republik Indonesia. Peran global HMI yang selama ini termanifestasi dalam ungkapan Build Nation , build world (Membangun Bangsa, Membangun Dunia) perlu digeser kecenderungannya dalam konteks memberikan aksi nyata dan turut serta dalam ide dan gagasan menyelesaikan persoalan-persoalan global seperti; Pelanggaran HAM, Narkoba, Terorisme, Diaspora Muslim Timur-Tengah, Kelaparan, Isu Nuklir dan lain sebagainya.
Selama ini hanya segelintir organisasi Islam terideologis dari Indonesia yang menunjukkan peran globalnya yang kebanyakan bergerak di bidang kemanusiaan, misalnya MER-C (Medical Emergency Rescue) dan Bulan Sabit Merah Indonesia yang berjuang dalam memberikan bantuan tenaga kesehatan di wilayah konflik tidak hanya di Indonesia tetapi juga berbagai belahan dunia. Beberapa organisasi berhaluan islam yang menggunakan semangat kaum muda dalam memperjuangkan tujuannya dari segi ideologi misalnya Ikhwanul Muslimin di Mesir, Liga Pemuda Muslim Inggris (Young British Muslim) di Inggris, dan KAMMI di Indonesia sudah lebih dulu menjadi organisasi domestik yang gencar dalam menyikapi isu-isu internasional dan turut serta menggalang kekuatan didalam negerinya dalam memperjuangkan isu-isu global tersebut.
HMI sejauh ini berada pada posisi pasif, selain disibukkan dengan agenda-agenda politik dalam negeri, HMI juga sibuk dengan diskusi-diskusi tak berujung mengenai formula menjawab tantangan global, inilah yang membuat HMI terlihat eksklusif dalam jalur perjuangannya, padahal menjawab tantangan global haruslah dilakukan dengan cara “keluar” dan menyelesaikan semua masalahnya. Oleh karena itu transformasi HMI dan gerakan kontemporernya haruslah berorientasi pada upaya berjuang menyelesaikan persoalan global kontemporer. Sementara di sisi yang lain juga semakin meningkatkan fokus pada persoalan-persoalan keumatan secara domestik.
Saat ini HMI dapat dikatakan adalah organisasi mahasiswa Islam dengan jumlah anggota terbesar di dunia. Secara ostentatif HMI merupakan organisasi kader yang memiliki infrastruktur kaderisasi yang paling lengkap di seluruh Indonesia bahkan tersebar di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia. Kaderisasi dilakukan sangat rutin mulai dari level Komisariat (Jurusan/Fakultas), Korkom, Cabang, Badko hingga PB. Alumni HMI eksis di hampir semua instansi dan kekuasaan: DPR, Kementrian, BUMN, PEMDA, LSM, Media Massa, OKP, Pengusaha dan seterusnya. Sebagai organisasi yang secara kuantitas sangat besar, ratusan ribu kader aktif di seluruh Indonesia dan jutaan alumni, HMI telah menjadi “warna” dominan di Indonesia. Apalagi kader HMI ditunjang oleh Sumber Daya Manusia (SDM) dari berbagai latar belakang, seperti; kedokteran, geologi, hukum, IT, fisika kimia, psikologi, sosial, seni budaya dan lain-lain. Sumberdaya ini sudah tentu lebih dari cukup untuk memantapkan peran global HMI.
Dari segi struktur di HMI ada lembaga-lembaga profesi dan kekaryaan yang terdiri dari kader-kader dengan intelektual tinggi di bidangnya masing-masing, tentu saja ini juga dapat menjadi sumberdaya yang bisa dikerahkan untuk berperan secara global. HMI dengan sejarah besarnya ditambah dengan pemikirannya yang moderat tentu akan mudah diterima secara internasional, terlebih Ikhwanul Muslimin yang sejak dulu dijadikan simbol gerakan pemuda Islam dunia saat ini dibungkam oleh rezim militer Mesir, jika dimungkinkan HMI bisa tampil dan mengisi posisi tersebut. Pada kondisi selanjutnya upaya perjuangan yang berorientasi pada konsepsi rahmatan lil alamin akan terwujud tanpa kecenderungan eksklusifisitas geografis (Asghar, 1993).

Kesimpulan
Sepanjang lebih dari 69 tahun berdiri, HMI telah menampilkan peran dan kiprah bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. HMI tidak hanya telah melahirkan banyak alumni yang tersebar di berbagai bidang kehidupan bangsa, tapi juga turut mewarnai sejarah modern Islam Indonesia. Namun demikian sejarah emas itu hanyalah bagian dari masa lalu, tantangan besarnya adalah mempertahankan sejarah emas tersebut untuk cerita di masa depan.
Kemunduran HMI sekarang adalah kurang peka dan beradaptasi dengan realitas gerakan kontemporer dimana masyarakat dunia telah beranjak dari isu domestik ke isu trans-nasional. Fakta ini sendiri sudah diprediksikan oleh cendekiawan HMI, Nurcholish Madjid, dengan mengatakan bahwa tibanya zaman ini, umat manusia tidak lagi dihadapkan pada persoalan lokal-kultural secara terpisah dan berkembang secara otonomi dari yang lain, tetapi terdorong membaur ke dalam masyarakat jagad (global). Karena dimensi pengaruhnya yang global dan cepat, kondisi ini memaksa setiap orang harus menerima modernisme barat dalam adaptasinya (N. Madjid, 1995).
HMI adalah salah satu dintara banyak organisasi yang pasif dengan perubahan zaman sebagaimana yang digambarkan oleh Cak Nur, Oleh karenanya transformasi gerakan HMI perlu menemukan kekiniannya dan peran global HMI harus mulai dibangun dalam konteks memberikan aksi nyata dan turut serta dalam ide dan gagasan menyelesaikan persoalan-persoalan global seperti; Pelanggaran HAM, Narkoba, Terorisme, Diaspora Muslim Timur-Tengah, Kelaparan, Isu Nuklir dan lain sebagainya. Ini juga membuktikan bahwa garis perjuangan HMI tidak hanya pada persoalan domestik tetapi juga lebih luas dari itu, sebab tujuan HMI adalah tujuan yang universal yang mencakup seluruh umat manusia, dimana hal tersebut adalah pengejewantahan dari konsepsi rahmatan lil alamin.

Referensi
Abdullah, M. Amin. 1995. Falsafah Kalam di Era Post Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Asghar, Ali. 1993. Islam dan Pembebasan, terj. Hairun Salim & Imam Baehaqy. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azis, Harry Azhar. 2016. Himpunan Mahasiswa Islam dan Kesejahteraan: Konteks Indonesia. Jurnal Insan Cita Edisi 1, February 2016
Bahi, Muhammad. 1995. Pemikiran Islam dan Perkembangannya (terj). Jakarta: Risalah.
Bilger, Alex. 2014. ISIS Annual Reports Reveal a Metrics-Driven Military Command. London: ICW.
F.P.William. 2009. Social networking sites: How To    Stay Safe Sites: Multi-State Information Sharing & Analysis Center (MS-ISAC) http://www.msisac.org,Stay Safe So October 6, 2010 by Sorav Jain, (40 Most Popular Social Networking Sites of the World)
Kotter, John P. 1997. Leading Change (Terj). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Majid, Nurkholish. 1995. Islam, Agama Peradaban. Jakarta: Paramadina.
Malik, Kholis. 2002. Konflik Ideologi: Kemelut Asas Tunggal di Tubuh HMI. Yogyakarta: Insani Press.
Naufal Ramzy (Editor), A. 1993. Islam dan Transformasi Sosial Budaya (Cetakan Pertama). Jakarta: Deviri Ganan.
Vellela, Tony. 1988. New Voices: Student Activism in the 80s and 90s. Boston: South End Press.
W. Powwel, Frederick. 2007. The Politics of Civil Society: Neoliberalism Or Social Left?. Bristol: Policy Press.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar