Selasa, 05 April 2016

Maluku Utara dan Euforia Kebangkitan Pasifik: Sebuah Afeksi Dari Seberang Samudera



 
Oleh:
MUHAMMAD GUNTUR
Dewan Pimpinan ARA (Aliansi Halmahera) & Fungs. Badko HMI Maluku-Maluku Utara

Suatu senja yang temaram, saya berjalan dengan beberapa teman di pusat kota Yangon yang berdiri beratus-ratus pagoda, pernah kudengar didalam forum beberapa rekan dari Jepang dan Korea Selatan bilang negeri ini adalah negeri dimana para pejabatnya mungkin tidak bisa membedakan antara huruf T dan F, sehingga tak mampu juga membedakan antara yang benar dan salah. Mungkin itu kenapa negeri ini dianggap sebagai yang terbelakang karena terjebak dalam kecamuk konflik kekuasaan dan pembantaian orang-orang Rohingya di sebelah barat negaranya.
Saya pulang ke hotel yang kualitasnya setara penginapan di Jakarta, dari balkonnya yang sederhana saya mulai berpikir sambil memandangi siluet-siluet pagoda yang warna emasnya telah dijajah oleh silau keemasan senja yang semakin menggenapi diri dengan kegelapan. Pikiran yang entah kenapa membawa saya jauh dari tempat saya berada pada saat itu, melewati samudera Hindia, melintasi Selat Malaka, terus lurus hingga berbelok di laut Banda menuju utara dan berakhir di Laut Halmahera, suatu hamparan biru yang megah, pula menghamparkan negeri-negeri dengan sejarah dan cita-cita besar yang masih tertanam lebih dalam dari yang mampu dicapai oleh akar-akar pohon pala dan cengkeh.
Saya, seorang lelaki kecil yang jauh dari tanah leluhur, tanah yang menjadi saksi perjuangan Baabullah Datu Syah menguasai 72 Pulau di pesisir selatan-utara Pasifik dan juga saksi perjuangan Nuku Muhammad Amiruddin menyatukan etnis Melanesia di seluruh wilayah Samudera Pasifik. Suatu negeri yang kini rakyatnya masih menganggap berkunjung ke Jakarta adalah suatu kemewahan tak berbatas. Suatu negeri yang di tahun 1200-an telah menjadi imperium kota-kota dagang besar nan ramai ketika Jakarta masihlah beberapa hektar rawa-rawa yang dihuni oleh buaya dan beberapa keluarga nelayan.
Dari negeri jauh, saya merasa semakin dekat dengan tanah yang oleh orang Eropa disebut sebagai Batucina de Moros, aroma pala dan cengkeh seakan mengendap diujung hidung, begitu pula aroma bunga Manuru dan Pandan yang bercampur dalam sebuah upacara sakral mengiringi syukuran khataman Qur’an di rumah petak kecil yang sederhana, kuingat dengan sangat detail di kepalaku. Negeri dimana saya bisa melihat jejak arus yang ditinggalkan oleh orang Tobelo-Galela ketika menebar kekuatan melalui ekspedisi Canga disepanjang peisir timur dan selatan Sulawesi. Yang beberapa ribu tahun lampau menjadi saksi atas penjelajahan nenek moyang nusantara membuka jalur Hindia hingga menemukan pesisir Afrika dan menjadi manusia pertama yang membuka isolasi ratusan tahun Madagaskar di sebelah Timur Kontinen Afrika.
Saya, seorang lelaki kecil yang hanya bisa merangkai beberapa ikat kata untuk memuja keluhuran peradaban yang telah dibangun oleh leluhur. Seorang lelaki kecil yang beberapa tetes darahnya mewarisi darah yang mulia Baab dan Kapita Baikole di utara, yang di masa kecilnya menjadi teman bermain bagi cucu-cucu Katarabumi, Nuku, dan Hamzah Tarafan Nur. Disini, dari suatu negeri yang jauh, pikiran ini kuhaturkan dengan segala penghormatan tertinggi, yang lebih tinggi dari Puncak Sibela.
Saya ingat, suatu ketika di tahun 2008bersama sahabat-sahabat kecil menikmati deburan ombak nan teduh di Teluk Galela, kami melihat jauh menembus keluar ke Selat Moro, itu adalah hari dimana suatu Kabupaten baru muncul di ujung pandangan kami. Mereka bilang kejayaan akan muncul dari sana, kejayaan yang mungkin akan lebih tinggi dari yang pernah dibangun oleh Baabullah Datu Syah ketika menganeksasi wilayah Selat Moro berabad-abad lampau. Beberapa hari kemudian, ditempat yang sama, bersama sahabat-sahabat kecil yang sama, kami dengar sebuah kabupaten baru akan muncul dari tempat kami, di tanah saat itu kami berpijak, mereka juga bilang bahwa kejayaan juga akan segera muncul ditempat itu. Ahh.. Kami masih hanya anak-anak kecil yang bahkan tidak tahu apa arti dari kata Kabupaten dan makna sebuah kejayaan. Kami hanya bisa tersenyum memandang laut.
Tepat di hari ketika seorang Jenderal kantor kelahiran Pacitan, sebuah wilayah yang terbentuk oleh hamparan batu karang kecil di pesisir timur Jawa diangkat menjadi pemimpin besar bagi wilayah yang dihuni oleh orang Melayu dan Melanesia, di perpustakaan kecil di sekolah saya untuk pertama kalinya melihat sebuah foto yang terpampang di buku usang kecil berwarna kuning, foto itu memperlihatkan beberapa orang pemuda membentangkan spanduk yang kurang-lebih bertuliskan; “Provinsi Maluku Utara, Pemekaran atau Referendum!” itu adalah foto yang diambil sepuluh tahun sebelum saya melihatnya. Saya kemudian membaca bagaimana geliat harapan pada saat itu, perjuangan menghabiskan darah untuk berpisah dari Provinsi Maluku di barat yang telah menjadi puluhan tahun sejarah yang membunuh peradaban besar The Real Maluku di Utara, bagaimana dan entah karena apa Ambon yang selama berabad-abad hanyalah sebuah wilayah administratif kecil dibawah Kesultanan Ternate yang diperintah oleh seorang Salahakan justru kemudian menjadi kota yang menginduki imperium Ternate. Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran seorang Soekarno sehingga dengan begitu kejinya menenggelamkan beberapa peradaban yang maha besar ini ke dasar sejarah hingga enggan dicatat dalam buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah masa kini.
Tahun 1999 adalah babak baru, begitu yang saya baca, sebuah era kebangkitan yang digadang-gadang akan menjadi pintu gerbang bagi kebangkitan periode pasifik dengan menjadikan tesis seorang akademikus barat bahwa; “Hindia adalah masa lalu, Atlantik adalah masa kini dan Pasifik adalah masa depan” sebagai sebuah acuan pembangunan. Provinsi Maluku Utara pun mekar dengan berdarah-darah, ribuan korban jiwa berjatuhan oleh perang komunal yang sebenarnya oleh Nils Bubandt dikatakan sebagai pertarungan memperebutkan kekuasaan dan memperkuat hegemoni. Nyatanya benar demikian, Ternate dibawah Alm. Mudhaffar Syah berusaha membangkitkan kekuatan dan hegemoni di masa lalu yang kemudian dijawab oleh beberapa elit berkepentingan dengan menghidupkan kembali Kesultanan Tidore yang telah vakum selama beberapa puluh tahun melalui pengangkatan Alm. Djafar Syah sebagai kekuatan bandingan, disinilah awal mula politik identitas itu muncul.
Kejatuhan kedaton kesultanan Ternate dalam perang putih-kuning di tahun 2000 menjadi saksi bagi berakhirnya hegemoni etnis Ternate dengan sejarah besarnya sebagai penguasa peradaban Maluku Utara. Etnis Tidore di sisi yang lain juga tidak mampu mengambil alih momentum tersebut. Proses politik selanjutnya secara mengejutkan justru diambil alih oleh dua poros utama, yakni; Etnis Tobelo-Galela dan Etnis Makian-Kayoa. Politik etnis ini kemudian bertahan sampai saat ini, yang oleh Nils Bubandt diramalkan sebagai Neotradisionalisme Regional yang akan berlangsung hingga beberapa generasi kedepan.
Tak berhenti disitu saya tertegun, perang komunal tahun 1999 yang membunuh hampir 10.000 jiwa orang-orang tak bersalah di daratan Halmahera dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, membuat pikiran saya dihantui oleh suatu kekesalan tak berujung. Bagaimana ribuan orang dibantai didalam masjidnya, bagaimana ribuan orang diberondong peluru kebencian didalam tembok gerejanya, anak-anak kecil diseret di jalan-jalan, perempuan diperkosa, orang tua dipenggal kepalanya. Mereka, pelaku-pelaku utama yang terlibat langsung dalam peristiwa itu tidak tersentuh pengadilan, mereka adalah penjahat perang yang justru diberikan kesempatan untuk tersenyum di podium kampanye politik dan menikmati empuknya kursi kekuasaan.
Saya mungkin hanya lelaki kecil yang bisanya hanya berdiri memandang hamparan kesunyian dari Tanjung Filonga, tetapi jiwa saya tidak akan pernah menerima melihat didepan mata bagaimana sebuah peradaban dengan hampir 2.000.000 jiwa rakyat dibunuh oleh kemiskinan, diperas tenaganya untuk memanjati ribuan batang pohon kelapa di kebun dan dibuat rapuh tubuhnya oleh terik matahari dilautan pasifik, Lalu ketika suatu pagelaran politik dilangsungkan, mereka dijadikan tumbal persaingan memperebutkan kekuasaan.
Seandainya bisa, saya ingin mengajak semua kepala di tanah itu untuk berpikir bersama, tentang slogan-slogan yang selama ini digaung-gaungkan, tentang kebangkitan era baru, tentang kejayaan yang akan direbut kembali. Dengan dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang kepalanya hanya menginginkan kekuasaan, bisakah kita membangkitkan kembali peradaban kita dengan euforia Pasifik, sementara di Samudera Hindia ide pembangunan Terusan Kra dalam Dwi-Dasawarsa digalakkan oleh China dan Thailand? Sementara di Pasifik semua negara MSG (Melanesian State Group) baru terkaget-kaget pada wacana statis tentang reunifikasi kebudayaan? Lalu bagaimana pula dengan rencana pembentukan Poros Pasifik Selatan oleh negara-negara Commonwealth?... Ahh.. Sulit rasanya mengajak orang tua dan teman-temankuku disana untuk berpikir seperti itu, mereka mungkin sudah berpikir di level yang lebih “tinggi”, yakni; Bagaimana meningkatkan produksi kopra dan kepada siapa harus dijual emas-emas yang tertanam didalam perut Halmahera.
Saya sadar, saya hanyalah seorang lelaki kecil dengan pengetahuan yang sangat kecil, menulis keluhan ini dapat membuat beberapa orang tua saya di negeri itu tersinggung dan mungkin akan membunuh pikiran kecil saya. Entahlah, setidaknya saya berani. Sebab saya adalah seorang lelaki kecil yang masa anak-anaknya tumbuh dan dibesarkan oleh letupan senjata dan desingan peluru. Yang leluhurnya dihadapkan pada pilihan antara memegang kitab suci atau parang-salawaku.
Disini, disuatu negeri yang jauh, di suatu waktu. Kepada negeriku di seberang samudera, negeri yang menjadi alasan bagi terbentuknya peradaban nusantara, negeri yang membuat orang-orang Eropa menjemput Renaisance dengan berkeliling dunia untuk mencari keberadaannya, suatu negeri yang selama ribuan tahun menjadi faktor kunci dalam membentuk peradaban Asia kecil di jalur sutera dimana orang-orang China keluar dan belajar menjadi pedagang. Kini, Yangon, sebuah kota yang sebenarnya bukan apa-apa, dengan berbagai kemunduran dan keterbelakangannya, aku mulai berhenti berpikir. Di saat yang sama ketika aku berharap negeriku itu segera mulai membangun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar