Rabu, 23 November 2016

Ternate, Mindanao dan Imaji Lelaki Bulan: Sebuah Konvergensi

oleh:
Muhammad Guntur
Menjemput pagi di Ternate (Indonesia, atas) dan Mindanao (Filipina, bawah)



Tarate sio Tarate, Tarate ruru masaya roriha
Tarnate sio Tarnate, Tarnate ri’uwa doka sosira
-Pantun, Tradisi Lisan Ternate

Aku ingat kali pertama aku menjejakkan kaki di Mindanao, hari itu angin bertiup kencang sekali, beberapa daunnya yang telah kering jatuh tak beraturan. Tetapi laut tetap tenang tanpa gelombang, tentulah ini sangat misterius. Sementara itu seorang lelaki kecil berpostur Sangir di kejauhan kuperhatikan sedang kebingungan mencerna kenapa laut tenang kala angin seperti membadai.
Itu juga adalah hari pertamaku di sebuah perkampungan nelayan kecil di pulau Samal yang berada tepat didepan kota Davao, ibukota Mindanao. Sebuah pulau yang hampir mirip luas dan bentuknya dengan pulau yang menjadi tanah kelahiranku; Ternate. Hanya saja pulau ini tidak bergunung seperti halnya Ternate dengan Gamalama-nya. Tidak ada yang istimewa dari pulau ini selain resort-resort mewah yang menganeksasi beberapa wilayah pantai berpasir putih lembut untuk memanjakan turis-turis, selebihnya di sisi-sisi lain pulau hanya perkampungan-perkampungan nelayan yang dipagari oleh pohon-pohon kelapa yang rimbun menjulang.
“Ulan..! Ulan..! Kamari” pemandu kami terlihat melambaikan tangannya ke arahku, bersamaan dengan turunnya beberapa tetes air hujan. Ia berteriak dengan bahasa Tagalog yang beberapa diantaranya kuketahui. Aku mengerti bahwa ia memanggilku.
“Okay.. Okay!” Balasku setengah berteriak, namun suaraku hilang dilarikan arus angin yang bercampur butir-butir air.
Sebelum bergegas, sekilas kulihat, lelaki kecil yang tadi kebingungan mulai mengumbar senyum menyambut jawaban yang turun bersama hujan yang semakin menderas, ia pun segera meninggalkan tempat itu bersamaan dengan semakin kasarnya liukan pohon-pohon kelapa yang berbaris disepanjang pantai.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, itu menjadi hari yang sangat menguras tenaga. Lelah tidak segera membawaku merehatkan diri. Hanya ada kekaguman membentang di penjuru sanubari, betapa sangat berkecamuk dadaku menginjakkan kaki di tanah yang ditegaskan dalam lirik Rorasa pada prosesi pelantikan sultan Ternate; “Mie gudu-gudu Sulu se Mindano”. Ya!, tanah ini dulunya adalah salah satu wilayah di utara terjauh yang ditaklukan oleh imperium Ternate sebagai perwujudan nazar Babullah Datu Syah yang menasbihkan diri sebagai raja Maluku (Tjandrasasmita, 2016: 66), sebuah fakta yang turut menjadi legitimasi betapa digdayanya negeriku itu di masa lampau.
Seperti angin yang menerbangkan daun-daun kelapa kering secara paralel ke arah timur-laut, pikiranku tiba-tiba terbawa kembali ke negeriku. Ternate, sebuah negeri yang besar, sebagaimana orang-orang disana menyebutnya; Gamlamo!. Aku kemudian bertanya-tanya, jika saja tidak ada Baabullah dengan tekad mengusir orang-orang Portugis yang berbuah kemenangan perdana perjuangan nusantara atas orang Eropa pada 26 Desember 1575 apa mungkin akan terjadi perentangan sejarah berupa kemenangan-kemenangan sejati bangsa-bangsa di kepulauan nusantara atas orang-orang dari Eropa? Jika saja pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Syzygium aromaticum) tidak pernah tumbuh di tanah itu, apakah mungkin seorang navigator Portugis bernama Vasco da Gama berhasil mencapai Tanjung Harapan dan menemukan jalan menuju ke ‘dunia baru’ pada tahun 1453? Apakah mungkin akan ada Indonesia seperti yang kita kenali kini?.
Pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang retoris, lalu kesimpulanku berkulminasi pada pernyataan; imperium Ternate adalah sebuah jembatan yang menghubungkan berbagai peradaban dengan sejarah besar dan masa depannya masing-masing. Ini sama seperti Kekaisaran Makedonia yang ‘melahirkan’ Romawi, begitu juga dengan Mongolia yang ‘melahirkan’ China pra-modern. Aku tertegun, tercengang pada sebuah fakta bahwa aku baru saja menginjakkan kakiku pada salah-satu negeri, dimana leluhurku dulu pernah menguasainya. Mungkin inilah kenapa aku menjadi peduli pada perjuangan para leluhurku itu menerjang ganasnya gelombang barat-daya lautan maha luas yang kemudian dinamakan oleh Ferdinand Magelhaens sebagai Mar Pasifico yang artinya; Lautan Teduh. Pada kenyataannya perjalanan mereka tak punya garansi pulang kembali ke tanah asal, sebab Mar Pacifico nyatanya adalah lautan dengan ombak dan badai paling brutal dan paling misterius yang ada di bumi. Badai yang menjemput kedatanganku di hari itu masih bukan apa-apa. Aku heran, kenapa pula si Magelhaens menamakannya ‘Lautan Teduh’.
Aku sempat berbincang dengan seorang peneliti, dia bilang orang-orang Mindanao lebih suka disebut sebagai orang Moro, bukan orang Filipina. Bagi mereka, Filipina memiliki sejarah penamaan yang menyakitkan hati sebab dinamai oleh orang-orang Spanyol untuk menghormati putera mahkota kerajaan Spanyol yang kemudian menjadi raja, dialah Phillip II.
“Lalu kenapa mereka disebut ‘Moro’, bukankah sebutan ‘Moro’ juga berasal dari orang-orang Spanyol?.” Aku bertanya.
“Ya benar!”
“Sebutan Moro berasal dari julukan orang-orang Spanyol sesaat ketika mereka berhasil merebut Al-Hambra dan menguasai kembali Andalusia dari kekhalifahan Islam yang telah berlangsung selama delapan abad. Istilah Moro dialamatkan kepada siapapun yang memeluk Islam”. Ia berhenti sejenak, seperti mencari-cari isi ingatannya.
“Kenapa orang-orang Mindanao senang dengan sebutan itu, karena bagi mereka ‘Moro’ adalah identitas yang menghubungkan mereka dengan saudara muslim mereka yang lain, seperti orang Moro yang terusir di Spanyol dan juga orang-orang Moro di Halmahera yang mendapatkan sebutannya dari Portugis”. Ia melanjutkan jawabannya.
Aku termenung sejenak, pada tahun 1760 hingga 1800 melalui sebuah aliansi tidak bernama, kelompok bajak laut Moro Mindanao (Balangingi) dan kelompok bajak laut Moro Halmahera (Tobelo-Galela) melakukan operasi bajak laut yang menciptakan instabilitas keamanan di kawasan (Vethoen, 2005). Ini seperti sebuah simfoni sejarah, penegasan kembali bahwa di masa lalu orang-orang di selatan Filipina ini memiliki keterikatan yang sangat dalam dengan negeriku, berada disini berasa seperti berada di negeriku pada masa lalu.
Ketika gelombang nasionalisme mulai bergerak menyusuri pulau-pulau dari ujung timur Samudera Hindia ke ujung selatan Pasifik, ide pokok tentang Indonesia muncul dengan semangat mempersatukan nasib dan derita dibawah penjajahan Belanda. Ternate saat itu bukan lagi sebuah imperium yang kuat, kolonialisme Belanda yang dimulai oleh VOC membangun garis demarkasi kekuasaan monopoli eksklusifnya, melalui Oktrooi 20 Maret 1602 mereka telah secara intuitif menjadikan seluruh Kepulauan Maluku sebagai bagian strategis penguasaannya.
Singkat waktu, tahun 1945, Republik Indonesia kemudian berdiri. Merasa sebagai bagian perjuangan, Ternate mengintegrasikan diri sebagai bagian yang integral dari Indonesia, berikut wilayah-wilayah yang dikuasainya. Maka sistem pemerintahan tradisional pun dikonversi kedalam sistem pemerintahan modern; sebagai Indonesia dan semua ide-idenya. Pikirkan, pada tahun 1500 Jakarta masihlah sebuah pesisir yang hanya dihuni oleh buaya muara, sedangkan Ternate sudah menjadi kota pelabuhan penting yang duaratus tahun lebih maju, pada 1945 (empat abad kemudian) Jakarta justru berbalik duaratus tahun lebih maju dari Ternate, dan saat ini justru sudah ribuan tahun lebih maju.
Sudah lebih dari seperdua abad, Ternate (beserta Halmahera dan sekitarnya) menjadi Indonesia, dan apa yang terjadi, imperium besar itu kini ‘hanya’ menjadi sebuah kota pulau kecil yang terus saja tertinggal dari segi pembangunan. Pada tahun 1958, oleh Soekarno; Ternate bersama dengan Tidore beserta sisa-sisa kekuasaan tradisionalnya dilebur kedalam Provinsi Maluku yang identik di selatan, ini sekaligus menandai berakhirnya era The Real Maluku bahkan ketika Provinsi Utara dibentuk pada 4 Oktober 1999, semangat Moloku kie Raha yang pernah berkobar tidak kunjung menyala kembali. Nasib Mindanao juga tidak lebih baik, hal ini berlangsung sejak integrasi sepihak yang dilakukan ketika negara Filipina dideklarasikan pada 4 Juli 1946 (Belwood dkk, 1995: 41). Sejak bersama Filipina, mereka terus hidup dengan konflik, sesuatu yang kemudian mungkin dirasakan oleh Ternate dan sekitarnya pada tahun 1999.
Tahun 1999 bagiku adalah tahun yang penuh dengan ironi, dimana sebuah perjalanan sejarah coba dibangkitkan dengan anomali yang berdarah-darah. Ternate modern bersama Maluku Utara adalah cita-cita yang baru dimulai tetapi harus dibangun dari puing-puing kehancuran. Aku ingat, suatu sore di waktu kecilku, tepat beberapa hari ketika perang Halmahera memulai hingar-bingarnya yang penuh dengan kematian. Dari pintu gudang kopra yang diubah menjadi kamp pengungsian orang-orang Galela, aku menyaksikan iring-iringan manusia berpakaian serba putih berbaris menuju garis depan peperangan, sebuah pemandangan yang mirip aliran sungai berwarna susu. Meriap-riap, sesekali senapan, sesekali tombak, sesekali parang, serta logam-logam senjata lainnya tertimpa cahaya senja. Beberapa kendaraan menyelingi seperti meringkik, entah menderu, entah menyanyi, entah mengerang, mewarnai senja merah. Lalu aku sadar pembunuhan sedang terjadi.
Suatu waktu, baru kemudian aku tahu, senapan-senapan otomatis yang berada di bahu pasukan-pasukan sipil itu selain dibuat sendiri, diambil dari sisa peninggalan Jepang, juga didatangkan langsung dari Mindanao, sebuah wilayah yang juga dirundung perang sipil berpuluh-puluh tahun antara orang-orang Moro melawan pemerintahan Filipina.
Entah bagaimana ini bisa terjadi. Bagiku, interaksi sejarah sedang berlangsung. Laut Pasifik kembali menjadi penghubung dari tiap daratan yang dulu pernah dipersatukan oleh Babullah, ini seperti pengulangan dari sebuah episode masa, dimana orang-orang Mangindanao yang mengasosiasikan diri dalam kelompok bajak laut Balangingi membangun koalisi antar-pulau dengan kelompok bajak laut Tobelo-Galela.
Entah kenapa, di tanah itu pikiranku justru tergiring kedalam bayang-bayang sejarah besar itu, mengadopsi sebuah fatamorgana sebagaimana tergambar dalam cerita “Lelaki Yang Membelah Bulan” yang entah dengan dasar apa dibentuk oleh Kusumawardhani dengan keanehan-keanehan yang mengagumkan. Suatu alasan tanpa korelasi yang membuatku menjuluki negeriku diseberang laut sebagai “Negeri dibalik Bulan” dan memperkenalkan diriku sebagai Lelaki Bulan, sama seperti orang Moro di Mindanao distigmatisasi oleh orang Spanyol sebagai pembunuh yang keluar di malam hari dan berperang hanya dibawah cahaya bulan (Giraldez, 2015: 99), yang klimaksnya Ferdinand Magelhaens pun mati ditangan atau ‘orang-orang bulan’.
Lalu hujan semakin deras, lelaki Sangir, bangunan resort kecil beratapkan daun rumbia, rintik yang mengacaukan formasi pasir dan kerikil pantai, serta Mindanao dengan hutan rimbanya yang berisik oleh desingan peluru dan suara senapan orang-orang Moro yang masih terus menyalak. Semua itu adalah antitesis dari imajinasi kompleks yang entah berapa ratus detik melintas di pikiranku; Lelaki bulan, dari Negeri dibalik Bulan dengan sebuah konvergensi; Ternate dan semua yang pernah dimilikinya.

Terjemahan Istilah/Bahasa Lokal:
1. Ulan: Hujan, 2. Kamari: Kemari, 3. Gudu-Gudu Sulu se Mindano: Yang Paling jauh Sulu dan Mindanao ,4. Gamlamo: Negeri yang besar, 5. Tarate sio Tarate, Tarate ruru masaya roriha. Tarnate sio Tarnate, Tarnate ri’uwa doka sosira:  Teratai wahai Taratai, Teratai hanyut kembangnya merah. Ternate wahai Tarnate, Ternate tidak seperti dahulu.

Referensi:
Tjandrasasmita, Uka. 2016. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Vethoen, Ether. 2005. Sailing in Dangerous Waters: Piracy and Raiding in Historical Context. IIAS Newsletter Volume 36.
Bellwood, Peter; Fox, James; & Tryon, Darrell. 1995. The Austronesians: Historical and comparative perspectives. Kanbera: Department of Anthropology, Australian National University.
Giraldez, Arturo. 2015. The Age of Trade: The Manila Galleons and The Dawn of The Global Economy. New York: Rowman and Littlefield.

3 komentar:

  1. Padahal Ambon ke Ternate tinggal lompat. Tp saya belum punya kesempatan buat nyambangi pulau ini, i wish next time harus ke sana.. Pengeeeeen banget ke sana, keliling Ternate melompat ke Tobelo, keliling Tidore melihat gurabunga ^^

    BalasHapus

  2. Bismillahir Rahmanir Rahmanir Rahim

    https://keep.line.me/s/9yByraYHzAECzHFQMiLZbeKfw0DgqfRoutB4EEtdJVI


    Salam dan renungan

    Web: almawaddah.info

    Kepada;

    Yang dihormati Para rektor universiti, para akademik dan para mufti.

    Tun, Tan Seri/Datuk Seri/Datin Seri/Datuk/Datin/tuan/puan.

    Perkara: "Akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah yang bertentangan dengan al-Qur'an dan ayat-ayat al-Qur'an yang bertentangan dengan akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah" sebagai kajian dan renungan. Diambil dari web: almawaddah.info

    1. Tidakkah al-Qur'an itu asas agama Islam yang diredai oleh Allah dan Rasul-Nya?

    2. Tidakkah Islam itu rahmatan lil Alamin?

    Terima kasih dan 'afwan.

    Daripada;

    Pencinta al-Qur'an sebagai asas agama Islam di Malaysia.






    BalasHapus