Jumat, 30 November 2018

Bermain Futsal Melawan Tim Jepang

Berfoto Setelah Bermain | Dok. Pribadi

   Lama tidak bercerita, kali ini saya hendak membagi cerita yang menurut saya agak lucu. Jadi tiap hari minggu, kami penerima beasiswa LPDP UI memiliki agenda rutin bermain futsal di Jl. Margonda, saya sendiri kurang tahu kenapa teman-teman di LPDP UI yang semuanya adalah angkatan sebelumnya lebih memilih bermain di luar kampus dan membayar, padahal di dalam kampus banyak fasilitas lapangan futsal yang bahkan tersedia hampir di tiap fakultas.
   Singkat cerita, beberapa minggu ini kami bermain melawan tim Jepang, mereka adalah mahasiswa 'student exchange' yang menempuh studi satu semester di UI, saya sempat mengobrol dengan salah satu diantara mereka yang bernama Kota, dari situ saya tahu jika mereka berasal dari Saitama. Saya tidak begitu tahu banyak tentang Saitama untuk bisa menjadi improvisasi dalam percakapan tersebut, untungnya saya mengingat bahwa Saitama juga adalah sebuah nama stadion sepakbola yang sering muncul di tiap permainan PES yang sering saya mainkan.
    Berbincang dengan 'teman-teman Jepang' ini sejujurnya agak sulit, karena mereka tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik, bahkan penguasaan bahasa Indonesia mereka jauh lebih baik dari bahasa Inggris. Suatu ketika, saya diminta oleh teman-teman LPDP UI untuk mengajak mereka bertanding, karena saya satu-satunya yang memiliki kontak 'teman-teman Jepang' itu. Saya kirimkan sebuah pesan teks dalam bahasa Inggris tetapi malah dijawab dalam bahasa Indonesia.
   Bertanding dengan orang Jepang ini, menurut teman-teman LPDP UI sangatlah menyenangkan, kenapa menyenangkan? Karena kita bisa mencetak berapapun gol yang kita inginkan, kapan lagi coba menang telak lawan 'Jepang'!?. Eh, tunggu dulu, bukan karena tim Jepangnya yang lemah, tapi karena jatah pergantian pemain kita yang lebih banyak dari mereka. Mereka juga tidak mau diganti ketika bermain, jiwa petarungnya tinggi. Yaa, walaupun konyol kalau kemasukan begitu banyak gol. Haha..
Pertandingan Sebelumnya | Dok. Pribadi
    Lalu di mana peristiwa lucu seperti yang saya bilang di awal? Nah, setelah selesai bermain, kita patungan nih buat sewa lapangan futsalnya. Setelah dihitung-hitung, maka diputuskanlah jika tim LPDP UI membayar Rp. 65 K sedangkan tim Jepang membayar dengan jumlah yang sama. Butuh waktu yang sangat lama untuk membuat mereka paham, mereka tidak paham bahasa Inggris, kami coba jelaskan dalam bahasa Indonesia pun tidak dimengerti.
    Ternyata tim Jepang ini terbiasa patungan perorangan, jadi mereka pikir bahwa setiap dari mereka harus membayar sebesar Rp. 64 K. Mereka terlihat kebingungan, mungkin di pikiran mereka; "ini kok bayarannya jadi besar begini yaak!?" Lalu mereka saling melempar pandang. Akhirnya saya pun melihat mereka mulai saling meminjam uang rupiah, raut wajah mereka terlihat panik karena masing-masing mereka tentu tidak membawa uang 65 K.
    Lumayan lama tim Jepang ini statis pada problem mereka sebelum akhirnya kami berinisiatif untuk menggunakan 'Google Translate' ke dalam bahasa Jepang. "Kalian Bayar Per Grup" begitulah teriak kami ke hape yang kemudian ditranslasikan mbak-mbak google voice ke dalam bahasa Jepang yang langsung direspon oleh tim Jepang 'perasaan lega' karena tidak harus membayar 65 K per orangnya.
    Sebelum menutup cerita, saya ingin menyampaikan bahwa pengalaman menggelitik ini memberikan pemahaman baru kepada saya bahwa bahkan di Jepang pun, yang notabene tingkat pendidikan dan industrinya selevel dengan negara-negara barat, tidak serta-merta membuat penguasaan bahasa asing oleh warganya berada pada level yang lebih baik, entah karena mereka lebih menghargai bahasa mereka sendiri sebagai bahasa pengetahuan ataukah ada faktor yang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar