Selasa, 27 November 2018

Embedded Autonomy dan Bullshit Jobs

Bullshit Jobs | via www.boingboing.net
 
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas secara (sangat) ringkas, pikiran Petter Evans dan David Graeber, masing-masing dalam buku Embedded Autonomy dan Bullshit Jobs. Kedua buku ini intinya membahas tentang mekanisme pasar yang ditawarkan oleh negara-negara modern beserta implikasinya terhadap sistem sosial masa kini.
Di buku Embedded Autonomy, Petter Evans berargumen tentang pentingnya negara membina pembangunan, bagi Evans, birokrasi membutuhkan otonomi masyarakat untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Di sini, negara dan masyarakat bisa saling bersinergi untuk meraih hasil dari pengembangan ekonomi, melalui apa yang disebut sebagai lembaga swasta.
Evans melihat fenomena bangkitnya industri IT yang hampir semuanya dikelola oleh swasta yang memang sangat berkontribusi pada pembangunan ekonomi negara. Sebutlah 'silicon valley' yang menjadi andalan ekonomi Amerika Serikat, bagaimana urgensinya perusahaan-perusahaan tersebut bagi Amerika Serikat kemudian dilihat dan ditiru oleh Brazil, India dan China.
Sementara itu, di literatur yang lain, David Graeber menulis tentang bagaimana masyarakat melihat pekerjaannya sebagai apa yang oleh Evans dianggap sebagai kontribusi bagi pembangunan ekonomi negara. Tulisan ini berangkat dari esai yang ditulisnya di majalah STRIKE! berjudul 'on the phenomenon of Bullshit Jobs: A Work Rant' pada tahun 2013. Tulisan pendek yang terdiri dari empat belas paragraf tersebut dimulai dengan pertanyaan retoris dari apa yang pernah diprediksikan oleh John Maynard Keynes pada tahun 1930 yang nyatanya tidak terbukti. Graeber berpendapat bahwa ada jutaan orang di seluruh dunia yang bekerja namun merasa bahwa pekerjaan mereka adalah suatu omong kosong.
Graeber melihat fenomena kontemporer, di mana banyak orang berpikir bahwa pekerjaannya tidak benar-benar berarti dan tidak berkontribusi pada dunia. Bagi Graeber di dalam tulisannya adalah kritik terhadap ekonomi neoliberal (pasar bebas) yang berlangsung sejak zaman Thatcher dan Reagan, Graeber (2013: 21-22) menulis:
I had come to this conclusion because it seemed to be the only way to explain how those in power actually behaved. While neoliberal rhetoric was always all about unleashing the magic of the marketplace and placing economic efficiency over all other values, the overall effect of free market policies has been that rates of economic growth have slowed pretty much everywhere except India and China; scientific and technological advance has stagnated; and in most wealthy countries, the younger generations can, for the first time in centuries, expect to lead less prosperous lives than their parents did.
Graeber mengatakan bahwa retorika neoliberal adalah tentang melepaskan keajaiban pasar dan menempatkan efisiensi ekonomi atas semua nilai lainnya, efek keseluruhan dari kebijakan pasar bebas adalah bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi telah melambat di mana-mana kecuali India dan Cina; kemajuan ilmiah dan teknologi telah stagnan; dan di kebanyakan negara kaya, generasi yang lebih muda dapat, untuk pertama kalinya dalam berabad-abad, berharap untuk menjalani kehidupan yang kurang sejahtera daripada orang tua mereka.
Fenomena perusahaan yang berbasis teknologi yang 'memaksa' pekerja mereka untuk bekerja tanpa henti agar mampu bersaing di pasar IT adalah salah satu contoh. Di China, pekerja diupah secara murah dan dipaksa bekerja siang dan malam untuk memproduksi ponsel murah yang ditargetkan untuk menguasai pasar dunia. Fenomena ini adalah salah satu contoh dari apa yang dimaksudkan oleh Graeber sebagai 'bullshit jobs'.

Referensi
Evans, P. 1995. Embedded Autonomy: States & Industrial Transformation. New Jersey: Princeton University Press.
Graeber, David. 2018. Bullshit Jobs: A Theory. New York: Simon & Schuster.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar