Jumat, 30 November 2018

Pengalaman Antropolog Dalam Buku 'Beyond Romance'

Buku Beyond Romance | Dok. Pribadi

Halo, di kesempatan kali ini saya akan membahas secara ringkas sebuah buku terbitan tahun 2018 berjudul 'Beyond Romance'. Eits, jangan berpikir jika buku ini adalah buku percintaan yang menceritakan tentang romansa anak muda, bukan! Buku ini adalah sebuah antologi yang memuat pengalaman-pengalaman para antropolog ketika mereka berada di lapangan. Buku ini adalah refleksi bagi para antropolog muda yang hendak melakukan penelitian lapangan.
Oke, langsung saja. Pengalaman-pengalaman penelitian lapangan yang dilakukan di Sarawak, Malaysia, sebagaimana yang ditulis dalam buku Beyond Romance ini memberikan banyak gambaran tentang bagaimana seharusnya seorang peneliti ketika sudah berada di lokasi penelitian, bagaimana memulai untuk berburu data, bagaimana mempelajari situasi di lapangan adalah pertanyaan-pertanyaan yang terjawab dalam buku ini.
Menghadapi situasi yang tidak familiar dengan tekad untuk memahami masyarakat lokal di lapangan, bisa jadi dihadang oleh permasalahan-permasalahan seperti masyarakat lokal yang nampaknya tidak terlalu bersahabat hingga penyampaian informan-informan yang tidak selalu mendukung penelitian adalah segelintir diantara banyak aral yang dihadapi oleh para peneliti di dalam buku ini. Secara keseluruhan, sikap untuk bersentuhan 'intim' dengan masyarakat lokal adalah gambaran yang senantiasa ditampilkan oleh para penulis di dalam buku ini, yang mana kemudian menggeser tabu 'going native' yang sebelum ini menjadi batasan para antropolog pendahulu.
Kelvin Egay (2018: 4) meminjam pendapat Ley:
Ethnograpic fieldwork aims 'to make sense of the actions and intentions of people as knowledge agents... to make sense of their making sens of the events and opportunities confronting them in everyday'”.
Bahwa pekerjaan etnografer adalah memahami apa yang dipahami manusia, bagaimana perspektif dan perasaan mereka terhadap apa yang mereka kerjakan dan hadapi sehari-hari. Untuk mengetahui itu maka dibutuhkan pendekatan yang sangat intensif, termasuk untuk hidup (settling in) dan berbaur bersama masyarakat tersebut, mengatasi berbagai hambatan, misalnya bahasa secukupnya sebagai sarana knowledge sharing yang utama, strategi-strategi untuk keluar dari masalah-masalah seperti ini juga dijabarkan oleh Egay dalam cerita pengalamannya. Persoalan bahasa menjadi sangat penting bagi seorang antropolog ketika berhadapan dengan masalah penterjemahan beberapa istilah atau ungkapan-ungkapan. Setiap hari ia dikelilingi oleh ekspresi dan konsep-konsep kultural, yang bagi si antropolog adalah baru atau asing. Sejak sebelum ia ke lapangan ia harus mempelajari bahasa masyarakat. Suatu saat bisa terajdi, suatu istilah “x”, dalam bahasa lokal, diterjemahkan menjadi istilah “y’ seakan menjadi bahasa antropolog.
Untuk turun ke lapangan di samping berbekal konsep, seorang peneliti juga membekali diri dengan sikap mental, ketrampilan berkomunikasi, keterampilan menyesuaikan diri dengan budaya setempat, kesiapan memutuskan sesuatu dengan cara yang tepat dalam menggapai data merupakan keunikan tersendiri. Belantara sasaran penelitian, adalah ragam keunikan dan sekaligus tantangan. Di antara tantangan itu ada yang sifatnya mikro, yakni ada pada diri peneliti sendiri, dan yang bersifat makro adalah kondisi di luar dirinya, yang ikut mempengaruhi cara kerja penelitian.
Meski mempersiapkan diri adalah hal pertama yang harus diperhatikan sebelum turun ke lapangan, namun menurut Viktor T. King (2018: 32) jangan biarkan diri kita terpengaruh oleh teori-teori, paradigma atau konsep, biarkan ide dan isu muncul dari lapangan. Agar tidak buta mengenai situasi lapangan, dianjurkan untuk membaca manual ataupun literatur historis, geografis ataupun sosiologis yang menceritakan tentang keadaan lapangan yang akan menjadi lokasi penelitian kita.
Kadang-kadang problem juga muncul dari dalam diri peneliti/antropolog. Melakukan penelitian etnografi, memang memerlukan waktu yang cukup untuk sempurnanya sebuah penelitian. Seorang antropolog harus tinggal berlama-lama dengan masyarakat sasaran. Seakan menjadi bagian dari mereka, sehingga dalam kehidupan keseharian bergelut bergabung dan bersosialisasi. Sasaran masyarakat primitif di Sarawak misalnya adalah daerah yang terpencil dan dari keramaian, tentu saja peneliti akan menghadapi kejenuhan selama melakukan penelitiannya. Masalah ini tentu sering muncul, namun Jayl Langub memberikan tips kepada para antropolog untuk mendesain penelitiannya dengan cara yang menyenangkan, seperti halnya sebuah petualangan atau kegiatan jalan-jalan menjumpai dunia-dunia baru.
Secara umum, penulis di dalam buku ini menggambarkan pengalaman lapangannya sebagai sebuah masukan yang sangat berharga bagi para antropolog yang baru mulai melakukan penelitian etnografi, bagaimana memahami medan penelitian dan bagaimana mempersiapkan diri untuk sesuatu yang tidak terduga yang sewaktu-waktu akan mereka hadapi ketika telah berada di lapangan. Bagaimana mengatasi situasi psikologis yang menuntut seorang peneliti untuk segera mengambil keputusan di saat-saat genting yang dapat menjamin keberlangsungan penelitiannya, semuanya telah diceritakan secara tuntas di dalam buku ini.

Referensi
Egay, Kelvin dan Cheng Sim, Hew. 2018. Beyond Romance: Fieldwork in Sarawak. Petaling Jaya, Malaysia: Strategic Informatian and Research Development Centre (SIRD).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar