Selasa, 27 November 2018

Teritorialisasi dan Mental Maps

Perbatasan Meksiko-AS | via www.ecnmy.org
 
Tulisan ini adalah tugas mingguan mata kuliah Negara, Masyarakat dan Pasar, pada studi pascasarjana Antropologi Sosial, Universitas Indonesia. Kali ini membahas tentang tulisan Petter Vandergest dan Nancy Lee Peluso, Scott serta J. Migdall tentang konsep teritorialisasi dan mental maps.
Petter Vandergest dan Nancy Lee Peluso mengatakan bahwa negara modern menganut Strategi teritorialisasi ruang dalam mengatur warga negaranya. Teritorialisasi ruang adalah klaim yang dibangun berdasarkan patok-patok batas kewilayahan. Di sini, teritorialisasi dibangun sebagai definisi relasi antara pusat-pinggiran. Karakter lokal atau regional. Vandergest dan Peluso (1995: 387) mengatakan bahwa konsep teritorialisasi adalah pembagian wilayah berdasarkan zona-zona politik dan ekonomi yang kompleks dan kadangkala tumpang tindih, di dalam zona-zona ini penduduk diatur dalam unit-unit tertentu untuk kemudian dibuat aturan yang membatasi dan oleh siapa wilayah tersebut dimanfaatkan. Proses ini mengandalkan pembuatan peta (maping), sensus penduduk, penggolongan kawasan hutan, batas hutan dan jumlah pemukiman.
Teritorialisasi adalah upaya mempengaruhi atau mengendalikan orang dengan membatasi dan menegaskan kontrol atas wilayah geografis, tentang mengecualikan atau menganggap orang-orang tertentu termasuk ke dalam batas-batas geografis yang telah dibangun. Lebih jauh, teritorialisasi difungsikan untuk mengendalikan apa yang dilakukan orang dan akses mereka ke sumber daya alam yang berada di dalam batas-batas itu.
Vandergest dan Peluso juga mengangkat contoh kasus di Indonesia, di mana teritorialisasi terjadi pada batasan pengelolaan ekonomi, negara hanya mengendalikan orang dan hubungannya dengan sumberdaya berbasis lahan, di sini negara cenderung membangun legitimasi atas wilayah-wilayah yang secara fisik berada dalam penguasaannya. Implementasinya negara mengklaim hak kepemilikan sumberdaya alam yang mencakup wilayah air, bumi dan udara (di Pasal 33 UUD) sebagai milik negara dan pengelolaannya dikontrol penuh oleh negara. Problematika seperti inilah yang kadang-kadang memicu munculnya penolakan klaim teritorial oleh negara, seperti yang sering terjadi dalam kasus penetapan hutan lindung atau taman nasional atau area lingkar tambang. Meski di sisi yang lain negara telah meningkatkan kapasitas dan kemauannya untuk menerapkan cara-cara kekerasan untuk menegaskan kontrol penggunaan lahan tersebut.
Sedangkan James C. Scott dalam tulisannya Seeing like a State di chapter pertama lebih banyak mengulas tentang konsep kehutanan yang tidak sekedar dipandang sebagai sumber pendapatan negara melalui pengelolaan hasil hutan seperti kayu dan juga komoditas turunannya yang lain, hutan memiliki artian lebih dari itu, di mana negara hadir dengan kebijakan-kebijakan ekologis yang pada muaranya berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat sekitar hutan, sebab interaksi manusia dengan hutan adalah keniscayaan.
Di chapter kedua, Scott membahas tentang kota sebagai salah satu produk institusi negara modern, karena itulah kota dibangun dengan standar-standar ukuran ruang tertentu. Selain standar, orde atau keteraturan bentuk pun digunakan seperti jalan yang lurus, sungai-sungai yang lurus dan mengalir cepat, dan pola bangunan yang berulang. Dengan keteraturan arsitektural di kota itu, negara mencanangkan perannya dalam mempolarisasi bentuk pemukiman dan kehidupan yang berlangsung di dalamnya dengan lebih tertata, sesuai dengan bagaimana bentuk kota tersebut.
Sementara di bacaan yang lain, Virtual Checkpoint dan Mental Maps yang ditulis oleh Migdal mendefinisikan istilah geografis tersebut sebagai batas di mana orang-orang mengkonfigurasikan dunianya berdasarkan familiar tidaknya sebuah ruang. Migdal (2004: 5) menganalogikan batas (boundaries) sebagai sebuah hal di mana ketika 'kita' berawal dan 'mereka' dimulai. Sesuatu yang berada di dalam batas itu adalah kita dan yang di luar batas tersebut adalah orang-orang yang kita sebut mereka. Migdal mendefinisikan boundaries sebagai gabungan dua pemisah sederhana yaitu virtual checkpoint dan mental maps.
Virtual Checkpoint mengacu kepada situs dan praktik di mana separasi terjadi antara masyarakat yang satu dengan yang lain, di batas ini pula lah mereka dibedakan, dari apa yang dikenakan, dari aksen, bahasa hingga dari ciri-ciri yang senantiasa familiar ada di komunitasnya. Sebagai satu contoh, ketika Israel pertama kali berdiri, batas negara tersebut tidak hanya ditandai dengan tembok-tembok besar dan tinggi atau banyaknya frekuensi barikade yang diisi tentara, tetapi oleh keberadaan orang-orang Arab, di mana terdapat orang Arab maka disitulah batas negara Israel.
Sedangkan Mental Maps adalah boundaries yang dikonstruksi dan dipelihara dari pikiran masyarakat yang secara mental menseparasi mereka dengan hal-hal (orang atau sesuatu) yang oleh negara dianggap sebagai 'the others' atau yang di dalam tulisannya Migdal sebut sebagai 'Alien'. Mental Maps adalah sebuah konfigurasi spasial, loyalitas yang dipegang oleh orang-orang di suatu kelompok, emosi dan gairah yang dibangkitkan, dan ide-ide kognitif mereka tentang bagaimana dunia dibangun. Semua ini bertindak untuk membangun dan memelihara keterikatan orang-orang satu dengan yang lain, tetapi dalam melakukannya, di saat yang sama mereka menseparasi diri mereka dengan yang lain.
Untuk menyederhanakan pemahaman tentang Mental Maps, saya mencontohkan (jika tidak keliru) sebuah novel fiksi ilmiah berjudul Divergent, novel karya Veronica Roth yang telah difilmkan ini menceritakan tentang manusia dewasa yang diklasifikasi kedalam 5 faksi menurut karakter mereka masing-masing, yakni; Candor, Erudite, Amity, Dauntless dan Abnegation, masing-masing faksi saling melindungi anggota faksinya masing-masing dengan memperjuangkan sifat yang 'natural' di faksi tersebut, dari situ mereka menseparasi faksi mereka dengan faksi yang lain, terlebih kepada divergent (non faksi) yang bagi mereka harus dimusnahkan. Dalam Mental Maps, pembedaan terjadi pada point of view, yang dikonstruksi melalui tempat-tempat, kota, sungai atau gambaran-gambaran lain yang familiar dan seperti menjadi nature masyarakat tersebut untuk kemudian membedakan mereka dengan yang lain dalam aspek dari mana mereka berasal.
Secara aktual saya menawarkan contoh lain tentang bagaimana Mental Maps sebagai boundaries yang menjadi separasi antara masyarakat suatu negara dengan masyarakat negara yang lain, kita dapat melihatnya dalam lagu-lagu kebangsaan yang di dalamnya termuat lirik-lirik lanskap keindahan alam di negaranya, bahwa negaranya adalah tempat yang paling indah dibanding tempat lain, bahwa gambaran-gambaran tersebut ditransmisikan (dikonstruksi) untuk kemudian seperti mengatakan bahwa negeri kita berbeda dengan negeri mereka atau negeri-negeri yang lain.

Referensi
Migdal, J., 2004. "Mental Maps and Virtual Checkpoints: Struggles to Construct and Maintain Social Boundaries" dalam Joel Migdal [Ed.] Boundaries and Belonging: States and Societies in the Struggle to Shape Identities and Local Practices. Cambridge: Cambridge University Press: hal. 3-23.
Scott, J. 1998. Seeing like a State: How certain Schemes to Improve the Human Condition have Failed. New Haven: Yale University Press. Chapter 1 dan 2.
Vandergeest, Peter and Nancy Lee Peluso. 1995. Territorialization and State Power in Thailand. Theory and Society 24 (3): 385-426.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar