Selasa, 25 Desember 2018

Komunitas Sion dan Gereja Orang Kulit Hitam

Buku Melvin D. Williams | Dok. Pribadi


PENDAHULUAN
Melalui buku ini, Williams ingin menggambarkan secara lebih jelas bagaimana perilaku dan karakteristik keagamaan sekte kulit hitam dengan menjadikan perkumpulan sion sebagai titik berangkat komunitas yang menjadi tempat mereka bernaung. Bagi Williams, Gereja Sion telah menjadi unit penelitian antropologis yang dapat dikelola untuk menyelidiki sistem perilaku manusia yang dinaunginya. Baginya lebih lanjut, gambaran antropologis tentang sifat hubungan sosial dalam Sion ini mencerahkan dan heuristik untuk penelitian lebih lanjut. Williams membahas penelitian terdahulu tentang pantekostalisme yang umumnya berhipotesis bahwa kelompok-kelompok sektarian ini merupakan pelarian dari anomi dan upaya untuk membangun kembali "komunitas" di bawah kondisi keterasingan dan tidak adanya norma yang mengatur hidup mereka. Penelitian Williams pada dasarnya mencoba untuk menguji sifat kohesif dari hubungan sosial dan perilaku satu kelompok orang kulit hitam.
Faktor agama adalah variabel paling signifikan dalam perilaku orang kulit hitam yang telah diamati oleh Williams dan dicontohkan oleh sifat kohesi komunitas yang diciptakan oleh agama di antara ghetto Orang kulit hitam yang dianggap memiliki ikatan komunitas yang longgar. Dalam konteks religiuslah Sion mengembangkan definisi bersama tentang perilaku manusia. Williams mengatakan bahwa agama adalah salah satu cara paling signifikan di mana masyarakat saling menjamin kesediaan mereka untuk mengorbankan tujuan pribadi demi kepentingan bersama. Ini tidak berarti bahwa mereka sangat religius atau bermoral. Alih-alih, afiliasi keagamaan harus diambil untuk apa adanya — jaminan publik akan kemampuan seseorang terhadap masalah-masalah kelompok, apakah seseorang kebetulan "bermoral" atau tidak.
Di pembukaan tulisannya, Melvin D. Williams mengatakan bahwa memahami orang kulit hitam di Amerika Serikat menjadi tugas penting bagi para ilmuwan, sebab ketika pemahaman itu didapat, maka akan menjadi kontribusi penting terhadap pengetahuan kita tentang perilaku manusia. Williams berpendapat bahwa sejauh ini, sebagai pengamat fenomena manusia yang terikat oleh budaya, kita telah lalai untuk melindungi penelitian kita secara memadai tentang orang miskin perkotaan yang buruk dari karakteristik distorsif manusia pada umumnya. Menurut Williams, dengan kriteria pencapaian, pengakuan, status, prestise, kompetisi, kekayaan materi, kekuasaan, dan ya, kemiskinan, ilmuwan sosial yang menganalisa perilaku orang kulit hitam telah berulang kali gagal mengindahkan peringatan yang oleh Williams (1974: 3) disebut sebagai:
Important, however, as variety of information and interest doubtless are, one factor must take precedence in the scientist's equipment-the spirit in which he aproaches his scientific work as a whole. In this respect the point that would probably strike most european or, at all events, continental scientist is the rarity america of philosophical inquiries into the foundations of one's scientific position.
(Penting, bagaimanapun, karena berbagai informasi dan minat yang tidak diragukan adalah, salah satu faktor harus didahulukan dalam peralatan ilmuwan - semangat di mana ia mengesampingkan karya ilmiahnya secara keseluruhan. Dalam hal ini, titik yang mungkin akan menyerang sebagian besar Eropa atau, pada semua peristiwa, ilmuwan di seluruh benua adalah langkanya penyelidikan filosofis ke dalam fondasi posisi ilmiah seseorang.
Akibatnya, asumsi dasar kita telah secara konsisten mendistorsi kesimpulan kita. Kenyataan yang paling tidak substansial seringkali mengundang perhatian kita, sementara keindahan serta kebaikan yang hidup dalam gaya hidup adaptif orang kulit hitam yang miskin telah diabaikan atau disalahtafsirkan.
            Williams secara langsung mengkritisi hasil penelitian sebelumnya dengan secara langsung membandingkan dengan bagaimana ia memperlakukan penelitiannya ini. Sebagai seorang kulit hitam, Williams tidak sekedar memanfaatkan statusnya sebagai ‘bekal konfrontasi’ dengan penelitian sebelumnya, namun dengan keterlibatan aktif di gereja dan komunitas Sion, sebagai bagian dari komunitas kulit hitam namun berusaha menjaga jarak dengan objek penelitian, Williams menggali apa yang selama ini lalai digali oleh para peneliti terhadap orang kulit hitam.
            Secara metodologis, cara ini efektif untuk mengenal masalah inti dari suatu kelompok masyarakat. Minako Sakai (2017: 18-19) yang meneliti tentang identitas orang Gumay di Sumatera Selatan juga menggunakan metodologi yang sama dalam mengupas identitas dan masalah orang Gumay dalam perantauan mereka. Sakai menggunakan pendekatan kelembagaan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan membangun persepsi keingintahuan yang sama terhadap pertanyaan-pertanyaan yang juga dicari oleh kelompok masyarakat tersebut.
            Untuk menemukan masalah orang kulit hitam, Williams juga memberlakukan komunitas sebagai unit penelitiannya. Dengan kreatifitasnya, ia menerapkan strategi di mana ia turut serta dalam semua aktifitas formal dan non formal di Sion, Williams bahkan mengikuti acara piknik yang diselenggarakan oleh ibu-ibu rumah tangga anggota komunitas Sion. Keterlibatan aktif dengan apa yang dilakukan oleh infroman juga dilakukan oleh Nancy Lee Peluso ketika melakukan penelitian tentang penguasaan sumberdaya kehutanan di pulau Jawa. Peluso (2006: 364-373) mengatakan bahwa dengan keterlibatannya pada aktifitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat di beberapa pinggiran hutan yang ditetapkan sebagai otoritas Perhutani, ia dapat melihat dan merasakan secara langsung dari sudut pandang masyarakat, bagaimana persepsi mereka dalam merespon perubahan situasi dan bagaimana masalah yang ada di benak mereka.
            Keterlibatan menjadi kunci penting Williams dalam mencari tahu masalah orang kulit hitam yang selama ini dianggap kalah dalam kehidupan perkotaan utara. Ia menepis semua klaim peneliti sebelumnya berkaitan dengan metodologi yang mereka gunakan dalam meneliti orang kulit hitam. Para peneliti sebelumnya cenderung menggunakan jarak yang sigfinikan ketika meneliti orang kulit hitam karena penelitian mereka sudah terfragmentasi oleh bingkai yang menetapkan bahwa orang kulit hitam identik dengan persoalan kemiskinan, kejahatan dan lain sebagainya, hal yang membuat mereka mengabaikan akar masalah orang kulit hitam yang sesungguhnya.

SEJARAH RINGKAS ORANG KULIT HITAM AMERIKA
Williams memulai dengan gambaran historis orang kulit hitam di Amerika pasca perang sipil. Kebanyakan berasal dari Afrika, orang kulit hitam menjadi pekerja 'tidak berguna' di perkebunan Amerika. Mobilitas mereka berlanjut tatkala hukum perbudakan berakhir. Segera setelah Emansipasi, Orang Kulit Hitam bermigrasi ke kota-kota Selatan dalam jumlah yang lebih besar, secara proporsional, daripada orang-orang kulit putih. Selama sepuluh tahun berikutnya orang-orang kulit hitam secara bertahap pindah ke banyak kota di selatan. Sebelum 1916, sekitar 90 persen orang kulit hitam berada di Selatan, dan dari jumlah ini, 80 persen tinggal di daerah pedesaan.
Perang Dunia I mendorong migrasi massal orang-orang kulit hitam ke kota-kota di utara. Perang itu menciptakan permintaan besar bagi pekerja tidak terampil di industri utara dan sekaligus mencegah imigrasi normal pekerja tidak terampil dari Eropa. Migrasi dari Selatan didorong oleh banyak faktor - perampasan ekonomi, tuan tanah yang tidak bermoral, dan perilaku para pedagang yang eksploitatif. Setelah gelombang awal migrasi ini menurun, tetapi Kulit Hitam masih pindah ke kota-kota utara sampai Perang Dunia II, ketika mereka kembali tertarik dengan industri perang untuk memenuhi kebutuhan militer Amerika Serikat pada perang tersebut.
Sebagai akibat dari gerakan geografis yang konstan ini, di antara faktor-faktor lain, orang-orang kulit hitam jarang menemukan di Dunia Baru kombinasi dari faktor etnis, ekonomi, sosial, dan politik yang menciptakan dan memelihara komunitas. Mereka telah menjadi sejarah ketidakkekalan dan ketidakmampuan untuk mengendalikan nasib mereka sendiri.
Statistik tentang migrasi internal di Amerika tidak komprehensif. Sebagian besar informasi harus berasal dari data sensus tentang variasi populasi dari daerah ke wilayah dan dari dekade ke dekade. Bagaimanapun, menurut Williams, kita semua tahu bahwa pada tahun 1915 Migrasi Besar Orang Kulit Hitam dimulai di Amerika Serikat, dan terus berlanjut sejak itu.

GEREJA SEBAGAI ASOSIASI ORANG KULIT HITAM DI PEDESAAN SELATAN
Williams menjelaskan bahwa orang kulit hitam di pedesaan wilayah Selatan tidak bersaing dengan kulit putih secara sosial atau ekonomi. Orang kulit putih secara paternalistik memperlakukan mereka sebagai bawahan dan mendorong mereka untuk hidup sederhana, tidak kompleks. Kontak sosial mereka terdiri dari lingkungan dan kelompok keluarga besar yang bergantung pada anggota mereka sendiri untuk persahabatan dan dukungan dalam krisis ekonomi dan ketidakpastian.
Hubungan ini menciptakan suasana ekspresi bebas dan toleransi tanpa batas. Kepemimpinan sosial sementara dalam kelompok-kelompok kecil yang akrab ini biasanya berasal dari karisma, dan standar status sosial yang sangat cair. Jadi seorang anggota komunitas penduduk kulit hitam kecil di daerah pedesaan Selatan menemukan keamanan sosial, ekonomi, dan psikologisnya terikat pada kualitas hubungan ini, yang memberi penerimaan kepada identitas pribadinya sejak lahir sampai mati.
Ada sedikit tekanan pada pencapaian, daya saing, status, prestise, kekayaan, atau peleburan materi dalam komunitas kecil ini. Penekanannya adalah pada hubungan keluarga, ritus peralihan, dan berita dari mulut ke mulut yang menarik bagi keanggotaan. Komponen penting dari komunitas ini adalah keintiman, kebebasan berekspresi, kontak tatap muka, dan lingkungan sosial dan fisik yang akrab. Seperti yang dibahas oleh Williams, karakteristik yang sudah akrab ini adalah bahwa anggota Gereja Sion yang pindah ke Pittsburgh sebelum tahun 1919 berusaha untuk melestarikan agama mereka.
Williams mengatakan bahwa gereja adalah asosiasi paling penting bagi sebuah keluarga kulit hitam di pedesaan Selatan. Gereja dan keanggotaannya sering menentukan batas-batas komunitas pedesaan. Gereja adalah sarana ekspresi komunitas yang paling penting, dan orang-orang kulit hitam di pedesaan Selatan membuat pengorbanan finansial dan material untuk mempertahankannya. Gereja sering menjadi pusat kegiatan rekreasi, dan bangunannya sering digunakan sebagai gedung sekolah. Masyarakat pedesaan ini memiliki organisasi untuk saling membantu, terutama selama kematian dan penyakit menyerang mereka.
Gereja mengatur kehidupan pedesaan mereka menjadi 'normal' untuk bisa dikatakan lari dari situasi di mana orang kulit hitam di pedesaan pun hidup dalam keterbelakangan dibanding masyarakat kulit putih yang umumnya hidup di perkotaan. Meski begitu, orang kulit hitam yang hidup di pedesaan bagian selatan memiliki nilai-nilai hidup dan sistem kekerabatan yang cukup baik dan terjaga.

MIGRASI KE KOTA DAN PERUBAHAN SOSIAL
Migrasi ke kota-kota menciptakan krisis sosial, karena memisahkan penduduk kulit hitam dari gaya hidup pedesaan mereka dan menghancurkan organisasi sosial yang memberi makna bagi masyarakat pedesaan selatan yang memiliki andil dalam menyatukan mereka sebagai unit-unit sosial. Pada kenyataannya kota-kota di utara ternyata bukan "tanah perjanjian" yang dicari, tetapi bagaimanapun itu adalah perbaikan atas kondisi sosial merekadi selatan yang miskin, yang menjadi musabab mereka 'melarikan diri' ke utara. Rata-rata penduduk kulit hitam dari pedesaan Selatan ini tidak terampil, dan pekerjaan mereka pada umumnya terbatas pada pekerjaan-pekerjaan umum, seperti layanan rumah tangga, dan bagi hasil di perkebunan. Minimnya keterampilan membuat nasib mereka di perkotaan utara bahkan tidak lebih baik dibanding nasib mereka di Selatan.
Di lingkungan kota, keluarga orang-orang Negro dari daerah pedesaan tidak memiliki basis kelembagaan dan hanya disatukan oleh kerja sama untuk mencari nafkah atau simpati dan sentimen yang dihasilkan oleh hidup bersama di rumah yang sama, mereka nyaris tidak mampu bertahan dan sebagian besar dihancurkan oleh kerasnya kehidupan perkotaan di utara.
Dalam lingkungan impersonal yang begitu dingin di kota, institusi dan asosiasi yang telah memberikan keamanan dan dukungan untuk Negro (kulit hitam) di lingkungan pedesaan tidak dapat lagi dibangkitkan. Masyarakat tidak bisa lagi saling membantu bahkan untuk mengatasi krisis besar yang paling ditakuti orang-orang Negro. Bahkan, di daerah kumuh yang padat di kota-kota utara, tetangga dan persahabatan tidak lagi memiliki arti. Orang Negro tidak dapat lagi menemukan bahkan kehangatan dan simpati dari organisasi persaudaraan yang telah menjadi warna dan ornamen ketika berada pada situasi yang menjemukan di Selatan. Krisis lain yang signifikan dalam kehidupan migran kulit hitam adalah hilangnya gereja mereka. Gereja telah menjadi titik pusat kehidupan sosial mereka dan sampai batas tertentu telah memberi makna pada hidupnya, yang sebagian besar terisolasi dari mainstream Amerika dengan gaya hidup modern yang sangat kompleks.
Perasaan keterasingan membuat kekosongan di dalam kehidupan dan proses sosial mereka, hal yang sama digambarkan oleh Usman Pelly (1994: 13) dalam buku berjudul Urbanisasi dan Adaptasi, buku ini membahas tentang bagaimana masyarakat Minangkabau dan Mandailing mencoba untuk bertahan dari tantangan kehidupan di kota Medan, ketika manusia secara individu merasa jauh dari situasi di mana mereka telah terbiasa dengannya, maka akan terjadi kekosongan, kehidupan pasca migrasi benar-benar memperkenalkan mereka dengan kehidupan baru dan orang-orang baru, maka mereka di sisi yang lain harus mencari alternatif untuk keluar dari situasi tersebut. Satu-satunya cara adalah kembali melahirkan nuansa di kampung halaman ke kota perantauan, dan yang paling mungkin adalah berkumpul dengan orang-orang dari tempat asal.
Hal yang sama terjadi juga pada orang kulit hitam dari selatan seperti yang dibahas oleh Melvin D. Williams, mereka merindukan suasana selatan ketika harus dihadapkan pada masalah perkotaan di utara yang serba kompleks. Mereka tidak mampu mengatasi perubahan total yang begitu kencang di perkotaan, oleh karena itu mereka membuat rekayasa dengan melibatkan komunitas yang dapat membawa mereka pada suasana kehidupan di kampung halaman. Dalam hal ini, Sion menghidupkan kembali gambaran daerah pedesaan di Selatan serta asosiasi religius intim yang kondusif untuk menciptakan status sebagaimana yang mereka dapatkan di selatan.
Sebagaimana wilayah urban, ghetto penduduk kulit hitam di perkotaan secara kultur hidup dengan masalah seks bebas, kehidupan jalanan, pemerkosaan, prostitusi, perdagangan manusia, alkoholik, narkoba dan masalah sosial lainnya. Tetapi bagi orang-orang yang temperamen dan kecenderungannya tidak sesuai dengan orientasi-orientasi itu, isolasi seperti itu sangatlah mengerikan.
Selain itu, banyak orang kulit hitam telah dipaksa untuk mencari nafkah sebagai pekerja kasar dan rumah tangga. Dalam banyak contoh, struktur kehidupan mereka di lingkungan perkotaan belum memasukkan pola asosiasional yang bermanfaat, dan gereja-gereja dengan banyak ragam aliran telah datang untuk mewakili bagi mereka adalah bentuk kritis dari kehidupan sosial yang terorganisir, alih-alih menawarkan keintiman seperti yang mereka harapkan.
Gereja Kristus Suci (organisasi internasional gereja-gereja di mana Sion berada) memungkinkan ghetto Orang Kulit Hitam untuk mengatur kembali dan merevitalisasi ide-ide mereka tentang kultur, dunia, dan diri mereka sendiri. Karena itulah para anggota berusaha untuk mendirikan sebuah gereja yang secara intim milik mereka, sebuah gereja di mana mereka adalah para pemain daripada penonton.
Perasaan untuk merasa terlibat dalam proses sosial dibanding harus terpuruk dan termarjinalisasi adalah sumber depresi utama para migran. Alba dan Nee (2003: 57) mengatakan bahwa sumber dari masalah para migran adalah perasaan di mana mereka tidak terlibat dalam perputaran kehidupan di lingkungan barunya. Alih-alih terlibat, mereka justru termarjinalisasi dalam hal keterjangkauan terhadap akses-akses tertentu di lingkungan baru tersebut. Akibatnya, muncullah masalah-masalah sosial yang secara berkesinambungan menjadi prototype yang secara umum menggambarkan kehidupan para migran tersebut di lingkungan barunya. Mereka butuh dinamika, situasi di mana mereka juga menjadi ‘pemain’ dalam proses sosial.
Williams menggambarkan bahwa dinamika adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh orang kulit hitam, karenanya keintiman kelompok utama di Sion juga mengisi komunitas ini dengan kecemasan, tekanan, ketakutan, kecemburuan, dan persaingan yang diekspresikan dalam hubungan anggota-ke-anggota. Pada saat yang sama, ia memberikan cara hidup yang bermakna, menarik, memakan waktu, dan menyerap energi. Ambivalensi yang intens membuat hubungan ini sangat menarik bagi para anggota. Mereka mengekspresikan minat itu dan bereaksi terhadap dinamika kelompok melalui gosip, pembagian, dan ancaman perpecahan. Mereka melepaskan emosi yang dihasilkan oleh tekanan dan kecemasan dari hubungan intim ini melalui pembersihan pada ibadah gereja. Dengan demikian dinamika yang berpotensi mengganggu ini dipertahankan pada tingkat yang dapat ditoleransi oleh masyarakat.
Menurut pendapat Williams, bahwa dinamika yang intens dari hubungan-hubungan ini di Sion menciptakan suatu komunitas vital yang begitu menyerap minat anggota yang dapat mereka habiskan seumur hidup di Sion, dalam suatu subkultur yang mereka sendiri relatif terisolasi dari masyarakat yang lebih besar. Sebagian besar anggota dan semua anggota inti menghabiskan sebagian besar setiap hari untuk membahas, memikirkan, atau bekerja untuk Sion. Dengan demikian kualitas interaksi yang umum di antara orang-orang "miskin" ini diintensifkan di Sion untuk menciptakan komunitas yang layak dalam konteks urban yang aneh dengan cara kombinasi keintiman di daerah Selatan, doktrin cinta Alkitab, dan konsepsi yang diidealkan. peran dalam keluarga Amerika. Ini adalah dasar bagi subkultur mereka; ini telah menentukan struktur sosial mereka; ini pada dasarnya telah menciptakan komunitas. Jika dapat mendefinisikan komunitas sebagai interaksi yang terpola di antara kelompok individu yang digambarkan yang mencari keamanan, dukungan, identitas, dan signifikansi dari kelompok mereka, maka Sion adalah sebuah komunitas dan juga sebuah gereja.

KESIMPULAN
Williams mengatakan bahwa penelitannya mengkhususkan perhatian pada ghetto Pantekosta kulit Hitam miskin yang bermigrasi dari daerah pedesaan di Selatan, tetapi perhatian utamanya adalah pada perilaku manusia. Ia juga mengatakan bahwa ada Pertanyaan-pertanyaan yang diteliti dan dikhawatirkan belum sepenuhnya dijawab di buku ini, tetapi telah diklarifikasi dan digariskan sampai batas tertentu.
Williams prihatin tentang hubungan antara kehidupan kemiskinan, Kulit Hitam, ghetto dan masyarakat luas. Ia telah mencoba untuk menguji sifat interaksi yang menciptakan kehidupan yang hidup terlepas dari ekonomi dan apa yang disebut perampasan sosial. Williams berpikir bahwa dengan mencoba menggabungkan diri ke dalam pengalaman keanggotaan Sion dan menemukan bagaimana mereka berpikir dan apa yang mereka rasakan, ia akan menemukan beberapa petunjuk mengapa nilai yang diagungkan oleh masyarakat umum di luar Sion bukan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan manusia, dan mengapa sub-kelompok manusia di Masyarakat Amerika memiliki potensi untuk menentukan sendiri kepuasan khusus dalam hidup.
Tentunya semua komunikasi dan transmisi pesan-pesan subkultural akan memberikan indikasi perkembangan budaya yang unik dan proses sosial vis-a-vis proses Amerika pada umumnya. Sion tidak memiliki sistem nilai yang terpisah. Banyak cita-cita mainstream seperti pernikahan, stabilitas, pencapaian, mobilitas, pekerjaan, dll. dijalankan. Hirarki organisasi dan sistem penghormatan berdasarkan status, prestise, dan kepemilikan material adalah cara-cara Amerika pada umumnya, namun begitu yang membedakan adalah konten simbolis mereka.
Perspektif arus utama dan transvaluasi ini, ditambah dengan kekhususan Sion sendiri, memberi Williams beberapa bukti etnografi tentang subkultur apa yang ada di masyarakat modern. Ini mengarahkan perhatiannya pada pertanyaan tentang apa yang membuat Sion menjadi sebuah komunitas, Williams merasa harus ada pola interaksi yang mendukung konsepsi kelompok ini tentang diri mereka sebagai sesuatu yang unik, "berbeda," "aneh." Ia harus menemukan metode bagaimana mereka memotivasi dan menghargai untuk memahami bagaimana mereka mengabadikan komunitas ini selama lima puluh empat tahun. Bahkan setelah ia mengumpulkan banyak data, Williams masih ragu bagaimana itu menjelaskan fenomena sosial Sion.
Tugas Sion yang penting menurut Williams adalah untuk mengasimilasi jarak sosial yang biasanya menyertai mobilitas sosial dengan kasih, persekutuan, dan kesetaraan yang akan membangun dan memelihara kohesi Sion. Tugas ini menuntut upaya Sion yang gigih untuk memerangi jarak sosial dan mempromosikan kohesi di antara anggotanya.
Williams mengakui, mungkin ia telah menggambarkan fenomena ini secara cukup untuk membawa pembaca ke posisi yang telah ia capai dengan keterlibatan personal. Namun demikian, menurut Williams, dengan analisis perilaku manusia selalu ada risiko perspektif yang tidak cukup memperhitungkan semua variabel dan kemungkinan untuk menjawab semua pertanyaan ketika penelitian dimulai.
Dengan demikian, Sion adalah salah satu entitas sosial yang diciptakan oleh tekanan dan ketegangan orang-orang yang terkilir dari daerah pedesaan di Selatan yang menetap di daerah utara perkotaan. Sebagai komunitas kecil yang dinamis dan interaksional, ia tidak hanya memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan anggota aslinya, tetapi juga karena kemampuannya untuk menarik kaum kulit hitam miskin lainnya yang temperamen, karakter, kemampuan, dan perspektif hidupnya lebih cocok ke gereja ini daripada ke subkultur lain yang tersedia di ghetto kulit hitam di Pittsburgh.
Bagi Williams, kemiskinan bukanlah persoalan utama masalah orang kulit hitam, sebagaimana yang selama ini diklaim oleh para akademisi melalui publikasi hasil penelitiannya terhadap ghetto atau masyarakat kulit hitam Amerika. Kemiskinan hanya berperan kecil dari masalah penduduk kulit hitam yang serba menjadi 'senjata' dalam praktik politik Amerika secara umum. Bukan itu! Orang kulit hitam membutuhkan sebuah komunitas dan keintiman yang menjadi kehidupan mereka di selatan. Ini sangat berbeda dengan bagaimana orang Amerika umumnya.

REFERENSI
Alba, R., & Nee, V. (2009). Remaking the American mainstream: Assimilation and contemporary immigration. Harvard University Press.
Pelly, U. (1994). Urbanisasi dan adaptasi: Peranan misi budaya Minangkabau dan Mandailing. Pustaka LP3ES Indonesia.
Peluso, N. L. (2006). Hutan kaya, rakyat melarat: Penguasaan sumber daya dan perlawanan di Jawa. Simatupang L, penerjemah.
Sakai, M. (2017). Kacang Tidak Lupa Kulitnya: Identitas Gumay, Islam, dan Merantau di Sumatra Selatan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Williams, M. D. (1974). Community in a black Pentecostal church: An anthropological study. Waveland Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar