Sabtu, 01 Desember 2018

Widi dan Jalan Menuju Ke Timur


Salah satu pulau di Kepulauan Widi | Credit: Reza Irsandy

Kurang lebih sembilan belas tahun yang lalu, Herman Hesse menulis buku berjudul Journey to the East. Buku ini menceritakan tentang perjalanan Herman ke belahan timur dunia yang penuh dengan tantangan, namun membuatnya mendapatkan begitu banyak pelajaran penting tentang kehidupan. Ia bertemu begitu banyak orang, singgah pada begitu banyak tempat dan mendapatkan begitu banyak kebijaksanaan dan pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.
Paragraf pembuka tulisan saya di atas, dimaksudkan untuk menganalogikan bagaimana seandainya saat ini kita juga melakukan perjalanan ke timur Indonesia untuk sebuah tujuan wisata, pastilah akan ada tantangan yang harus kita atasi, orang yang kita temui dan tempat yang kita hampiri pasti juga menyediakan kejutan-kejutan yang tidak terduga. Indonesia Timur memang selalu menjanjikan kita pengalaman dan tempat-tempat yang sangat mengagumkan, hal-hal tersembunyi yang tidak semua orang bisa dapatkan.
Di antara tak terhitungnya tempat-tempat dengan keindahan luarbiasa yang ada di timur Indonesia, mungkin Kepulauan Widi adalah salah satu yang paling menakjubkan. Destinasi yang baru muncul dalam kampanye Wonderful Indonesia ini disebut oleh banyak media nasional sebagai ‘Maldives’-nya Indonesia. Tentu ini adalah istilah yang tidak berlebihan, karena menurut mereka, Widi memang sangat mirip dengan Maldives. Meski begitu sebutan mereka terhadap Widi masih keliru, menurut saya Maldives lah yang mirip dengan Widi, bukan sebaliknya. 

Indah Itu Sulit
Kepulauan Widi berada di kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, jaraknya dengan kota Ternate kurang lebih 200 kilometer. Kepulauan indah yang terdiri dari dua gugus dan 99 pulau-pulau kecil serta dua atol ini, nyaris tidak berpenghuni. Kecuali satu pulau yang didiami oleh masyarakat nelayan, itu pun hanya beberapa puluh orang. Masing-masing pulau ditumbuhi oleh pohon kelapa dan vegetasi pantai tropis.
Pesona Kepulauan Widi | Credit: Ika Fuji Rahayu
Karena keterbatasan infrastruktur, perjalanan menuju ke Widi terhitung sulit, wisatawan harus menyeberang lautan dari kota Ternate ke kota Sofifi di pulau Halmahera, dari sana perjalanan diteruskan melalui jalur darat dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam menuju Gane Barat (Gane Dalam) sebelum kemudian ‘membelah’ pulau Halmahera ke arah Gane Timur (Gane Luar) kurang lebih 3 jam perjalanan.
Rute Perjalanan Ke Widi | Kreasi Pribadi | Credit: Google Maps
Dari pesisir Gane Timur kita sudah bisa melihat kepulauan Widi di seberang laut, untuk menuju ke sana kita bisa menyewa katinting (perahu nelayan), perjalanan menyeberangi laut untuk menuju ke Daga (pulau utama yang berpenghuni) ditempuh kurang lebih selama 2 jam. Sebenarnya, perjalanan ke kepulauan Widi juga dapat dilakukan melalui jalur laut dari kota Ternate menuju ke Babang di pulau Bacan sebelum kemudian langsung ke Widi, hanya saja rute tersebut tidak rutin dan hanya sesekali tiap bulannya, di samping itu juga memakan waktu hingga dua hari.
Melelahkan sekali perjalanan menuju ke kepulauan Widi bukan? Tentu saja! Pepatah kuno mengatakan; “berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Sakit dulu, baru deh senang kemudian”. Untuk menikmati keindahan Widi, kita harus berjuang. Seperti halnya Archer dan Solomon yang berjuang mendapatkan berlian langka di film Blood Diamond, kita yang berjuang ‘mendapatkan’ keindahan Widi juga harus menempuh perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan, mulai dari ombak yang sesekali membuat perahu melompat diatas buih-buihnya, hingga perjalanan darat yang sangat ‘adventure’ karena harus melewati jalanan rimba Halmahera yang berlubang, berdebu dan berlumpur, sebab sebagian besar jalanannya belum diaspal.
Suasana Salah Satu Pulau di Widi | Credit: Ipang Mahardika
Namun begitu, saya menjamin bahwa perjalanan panjang nan melelahkan itu pasti akan terbayarkan dengan hamparan pemandangan yang terdiri dari gradasi warna biru langit dan warna tosca dari laut yang jernih. Di pulau-pulaunya terdapat pasir pantai yang seputih susu dan sehalus mentega, ayunan daun kelapa dan tanaman pantai akan menjadi pemandangan menarik yang ditangkap oleh kamera ketika kita sedang berlari di sepanjang pantai salah satu pulau.
Jika laut surut maka saat itu pasir timbul, alhasil beberapa pulau yang berdekatan pun dapat diseberangi tanpa perlu membasahkan telapak kita. Widi adalah tempat yang cocok untuk aktivitas snorkeling dan diving. Tak berhenti sampai di situ, di setiap pulau-pulau kecil di Widi, kita juga dapat menyaksikan warna keemasan ketika percikan cahaya matahari yang terbit dari samudera Pasifik, sekaligus pemandangan ‘maha romantis’ ketika akhirnya matahari yang sama hendak terbenam di balik pulau Halmahera di barat. Sebelum datang gelap, ia mempersembahkan warna jingga paling syahdu yang tak mungkin ada di tempat lain. 

Membuka Jalan Ke Timur 
Kepulauan Widi bagi saya mewakili begitu banyak tempat menakjubkan di Indonesia Timur yang belum terjamah karena keterbatasan akses dan infrastruktur. Ketertinggalan multi-sektor menjadi masalah tersendiri yang sulit dipecahkan. Harus diakui bahwa tertinggalnya sebuah daerah dari segi pembangunan berbanding lurus dengan terbelakangnya sektor pariwisata.
Untunglah, pemerintah melalui kampanye Wonderful Indonesia, saat ini tengah berusaha mereduksi kesulitan-kesulitan tersebut dengan menawarkan destinasi-destinasi favorit di Indonesia Timur dalam setiap kesempatan di event-event internasional, harapannya tentu agar semakin dikenal dan dapat mengundang investor dan turis mancanegara agar tertarik menginvestasikan modal dan datang ke destinasi-destinasi tersebut. Bahwa Indonesia Timur bukan hanya Bunaken, Labuan Bajo atau Raja Ampat, masih ada Widi, Ora, Morotai, Halmahera, Guraici, Kei dan puluhan destinasi lain yang memiliki prospek besar untuk menjadi unggulan pariwisata Indonesia di masa depan.

Saya melihat bahwa masalah biaya perjalanan adalah masalah lain yang muncul pada pengembangan sektor pariwisata di daerah yang infrastrukturnya terbatas seperti Widi, orang bisa sangat tertarik untuk pergi ke sana tetapi bisa saja mengurungkan niat ketika tahu berapa biaya yang dibutuhkan untuk sampai ke sana. Widi contohnya, paling tidak membutuhkan total biaya sebesar Rp. 6.000.000 hanya untuk biaya perjalanan pergi-pulang dari Jakarta ke kepulauan Widi, tentu akan semakin membengkak apabila ditambahkan dengan biaya akomodasi dan lain-lain.
Biaya Perjalanan Minimal | Kreasi Pribadi dari Berbagai Sumber
Berangkat dari masalah tersebut, saya dan teman-teman, saat ini sedang berusaha menciptakan sebuah program di web dan android yang terintegrasi langsung dengan masyarakat lokal, usaha kecil dan menengah di bidang pariwisata atau tour guide perorangan dengan skema yang memungkinkan terpangkasnya biaya perjalanan serta ketersediaan pilihan akomodasi yang terjangkau.
Diharapkan, dengan skema ini juga dapat berkontribusi pada promosi destinasi wisata yang pada tahap selanjutnya mendorong perekonomian masyarakat setempat dan meningkatkan pendapatan daerah. Dengan begitu dalam jangka panjang, infrastruktur akan dibangun dan akses akan terbuka. Jadi dalam hal ini, kita tidak perlu lagi analogi Herman Hesse atau Archer dan Solomon sebagaimana yang saya umpamakan di awal, yang bersusah-payah untuk sampai pada tujuan mereka.
Kedepan, jika kita ingin ke Widi, maka tak ada lagi tantangan yang harus kita lalui untuk sampai ke sana.

21 komentar:

  1. Wahhh.. MasyaAllah..idenya kece. Nice info nih....tulisannya juga ngalir banget ya...mantap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Wanda sudah membaca,tulisan di blog Wanda juga kece kok.. hehe..

      Hapus
  2. Wah keren sekali... ini pertama kalinya sy tau ttg widi. Ternyata ada tempat sekeren dan semenarik ini ya di Indonesia. Mantap bgt ulasannya. Jd pengen kesana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks bro sudah titip komentar, pankapan datanglah kesana.. kita atur aja..hehe

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Wahhh luar biasa keren sekali,
    Semoga PB Squad bisa jalan-jalan ke sana suatu saat nanti, aamiin.
    Mas gun siap2 jadi tour guide nya ya

    BalasHapus
  5. jujur aku baru denger pulau widi dari tulisan ini, berharap bisa ke sana tapi dengan biaya perjalanan dan akomodasi yang terjangkau ... indonesia timur emang pantas disebut serpihan surga yang jatuh di bumi ... indah :) pulau widi tunggu akuuuuuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kedepan biayanya semakin terjangkau.. Doakan semoga project kami bisa berhasil.. ^^

      Hapus
  6. Nambah lagi referensi tempat kece, mantapppp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kesana yaah, siapa tahu ada kesempatan..hehe

      Hapus
  7. Keren sekali pulau ini semoga next time bisa kesana, destinasi yang keren buat honeymoon atau babymoon supaya tidak penat dengan kepadatan ibu kota

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa banget tuh mbak, cus diatur sama calon suaminya.. hehe

      Hapus
  8. Asyik, pas baca tulisannya aja udah greget. Tak sabar berkunjung jadinya. Wajib ditemani yah Kak.

    BalasHapus
  9. Luar biasa tulisan-nya. Smoga kanda bisa menulis lebih banyak tempat eksotis di maluku utara khususnya.

    BalasHapus
  10. Salute buat kk Muhammad Guntur. Narasi ini tidak sakadar ber-destinasi di dalamnya.Namun memberi masukan untuk kebijakan.

    BalasHapus
  11. Narasi yang sarat makna, tidak sekadar menghadirkan potret dan potensi pariwisata, tetapi membuat pembaca seolah menjelajahi seluk-beluk Halmaera dengan sajian data dan fakta. Ini tulisan yang wajib menjadi salah satu rujukan arah kebijakan pemerintah dalam membangun dan mengembangkan destinasi wisata, Maluku Utara dan Indonesia

    BalasHapus
  12. Apresiasi besar buat penulis. Dikala para penulis kita fokus pada isu global, saudara guntur masih membuka mata ke belakang melihat besarnya potensi kawasan alam Maluku-Utara. Kita butuh jurnalisme Primordialis, yang memiliki beban moral akan tanggung jawab dirinya terhadap daerahnya. Lewat tulisan ini, kita harus sadar bahwa sulitnya akses informasi di timur, kecuali kita keluar dari zona nyaman. Mengutip pandangan Mahmud Ici (Ketua AJI Maluki-Utara) dalam dialog beberapa malam lalu pada kami, bahwa di timur Indonesia yg sarat akan geografis kepulauan, kita harus menumbuhkan semangat Jurnalisme Kepulauan, sebagaimana saudara Guntur memulainya, dan telah membuktikannya di tulisannya dalam sudut pandang Nature (alam) ..

    BalasHapus
  13. Tulisan yang enak, mengalir. Sangat realistis. Widi memang sangatlah indah, tapi butuh inovasi dan sentuhan untuk membuat orang-orang dapat ke sana.

    Dari tulisan ini jg, membuat saya semakin bangga menjadi orang Indonesia, kita memiliki banyak tempat2 indah, apalagi di timur Indonesia. Terima kasih ya, akhirnya saya dapat singgah di tulisan yang super keren ini.

    BalasHapus