Minggu, 06 Januari 2019

Sebuah Institusi Bernama Cinta


Ilustrasi | Via Pribadi
Cinta adalah penemuan paling tua di kehidupan, sebuah perasaan yang memungkinkan terjadinya penyatuan segala hal. Sebuah perasaan tanpa alasan dan juga tanpa penjelasan. Kita dapat melihat cinta dari bagaimana hujan menurunkan rintiknya, bagaimana ia membuat kehidupan mendapatkan definisinya yang universal. Kita dapat melihat cinta dari deburan ombak di tebing pantai, bagaimana tebing yang perkasa harus ikhlas menerima dirinya yang terus-menerus tergerus.
Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa cerita tentang cinta adalah cerita tentang keindahan, sebuah perasaan yang membuat mata kita berkaca-kaca ketika melihat dan menjalaninya. Pertanyaan pun muncul, apakah cinta hanyalah sebuah keindahan? Entahlah, bahkan Shakespeare pun tidak berani mengklaimnya, karena Romeo dan Juliet saja berakhir sedih dan memilukan.
Apakah ukuran-ukuran keindahan dalam cinta itu terukur dalam kesenyapan yang sederhana? Sepasang kekasih yang mendorong sepeda motor mereka yang kehabisan bensin di tengah guyuran hujan? Ataukah sepasang suami istri yang saling menguatkan dengan cara membelai kepala mereka masing-masing karena kelaparan? Seorang suami yang cemas ketika menunggu persalinan istrinya? Entahlah.
Bagi saya, cinta adalah sebuah proses untuk saling menempa diri, memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, menerima dan mengkonsepsikan masa depan. Sebuah perjuangan maha berat yang harus dilewati dengan cara-cara kita sendiri. Bukankah Adam dan Hawa saja harus berkeliling dunia untuk saling menemukan ketika mereka dilemparkan Tuhan masing-masing ke belahan dunia yang berbeda!?
Meski begitu, cinta bukanlah sekedar sebuah pencapaian, cinta adalah proses dari semua yang bermula tapi tak berakhir. Adalah sebuah kesalahan apabila saya berkata pada seorang perempuan dengan pertanyaan seperti; “Maukah kau menjadi pendampingku, sebagaimana Ainun pada Habibie yang membuat kisah cinta mereka jadi panutan sebuah bangsa?” atau “Maukah kisah kita indah seperti Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, yang monumennya dipuja dunia sepanjang masa?”. Kisah cinta tiap orang memiliki tonggaknya sendiri, punya jalan ceritanya yang akan tetap indah meski tanpa pencapaian apa-apa.
Apakah cinta hanyalah sebuah penerimaan, sebagaimana seorang lelaki yang menyapu dadanya untuk menguatkan hatinya ketika, menerima kabar bahwa perempuan yang dicintainya tak lagi memiliki kehormatan di masa lalunya? Ataukah seorang wanita kaya yang mengabaikan kemiskinan seorang lelaki pekerja ladang yang dicintainya? Tidak! Cinta bukan saja sebuah penerimaan, cinta adalah bagaimana salah satunya mengulurkan tangan ke yang lain untuk keluar dari jeratan-jeratan peristiwa segala masa. Mengangkat ketika jatuh, memapah ketika tak mampu, menguatkan ketika lemah. Itulah cinta.
Di Jepang, ada sebuah kisah di mana seorang pemilik rumah sedang berusaha merobohkan tembok yang terbuat dari kayu, sebagaimana umumnya rumah di Jepang, kayu tersebut memiliki celah berupa ruang kosong. Ketika tembok kayu tersebut dibongkar, si pemilik rumah menemukan seekor kadal yang terperangkap di ruang kosong tersebut karena kakinya melekat pada sebuah paku.
Si pemilik rumah merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?.
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Si pemilik rumah berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!
Si pemilik rumah itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya.
Si pemilik rumah merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta… Cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban, begitu banyak keajaiban.
Kisah kadal di Jepang bagi saya adalah sebuah pelajaran sederhana yang luarbiasa, bahwa cinta adalah sebuah praktik saling menghidupkan, seperti ruang di antara waktu. Tanpa keduanya, tak mungkin tercipta sebuah dimensi. Di manapun, kapan pun, cinta selalu punya cara untuk menegaskan dirinya dalam sebuah kesemestian yang paling sejati.
Cinta adalah sebuah institusi di mana senyum dan nafas bisa menjadi sebuah pelajaran tentang bagaimana kita menangani keinginan terhadap sesuatu. Bahwa mestinya cinta membuat kita paham untuk semakin kuat dalam bahagia maupun dalam sedih, dalam ramah pun dalam marah, serta dalam gelisah maupun yakin.
Sebagaimana kisah kadal Jepang, cinta adalah perjuangan. Ketika perjuangan tersebut berhenti, maka disitulah batas cinta. Sekejap saja ia berubah. Itu bukan lagi cinta. Sesederhana itu. Ahh… saya penasaran dengan perasaan kedua kadal itu ketika perjuangan mereka saling bahu-membahu melewati masa sulit selama 10 tahun akhirnya pungkas.

5 komentar:

  1. "Bahwa mestinya cinta membuat kita paham untuk semakin kuat dalam bahagia maupun dalam sedih, dalam ramah pun dalam marah, serta dalam gelisah maupun yakin...," bagian ini, "enak" sekali. Pas di hati. Tulisan yang renyah.

    BalasHapus
  2. Terima kasih, menginspirasi. Bahwa cinta menuntut kita untuk bertahan dan berjuang.

    BalasHapus
  3. Luar biasa������

    BalasHapus