Senin, 01 April 2019

Telaah Buku Witchcraft, Oracles and Magic Among the Azande

Buku Witchcraft........ by E.E. Evans-Pritchard


Pritchard dalam karya etnografi klasiknya ini mengambil setting pada orang-orang Azande yang mendiami Negara Sudan Selatan, Zaire dan Afrika Tengah di mana tulisan ini berkutat pada kepercayaan orang Azande tentang aktivitas ilmu sihir, sehingga hampir keseluruhan dari perilaku mereka berkutat pada kepercayaan tersebut. Pritchard (1937: 3) mengatakan bahwa orang Azande percaya jika kemampuan menjadi seorang penyihir adalah kemampuan yang diwariskan secara unilinear, di mana apabila penyihirnya adalah seorang laki-laki, maka diwariskan kepada anak laki-lakinya, sedangkan anak perempuan di keluarga tersebut tidak, demikian sebaliknya apabila penyihir tersebut adalah seorang perempuan, maka kemampuan penyihirnya hanya diwariskan kepada anak perempuannya.
            Orang Azande menurut Pritchard dalam buku ini senantiasa mempercayakan setiap aspek dari kehidupan mereka pada aktivitas sihir, tabib dan peramal. Pritchard banyak membahas dalam bukunya tentang bagaimana seorang penyihir memandang dirinya dan bagaimana orang-orang di dalam lingkungan social melihatnya. Para penyihir Azande menurut Pritchard, meyakini bahwa kemampuan mereka bersemayam di perut, kadangkala mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menyakiti orang lain melalui kemampuan sihir yang dimilikinya, inilah yang kemudian membuat lingkungannya selalu membentuk stereotipe terhadap orang-orang yang dicurigai mewarisi ilmu sihir, sehingga jika terjadi sesuatu yang ganjil kemalangan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional, maka penyihir lah yang disalahkan, di mana orang-orang Zande sebelumnya mereka meminta pandangan terhadap peramal yang menunjukkan jalan keluar melalui nubuat-nubuat tertentu.
            Dikarenakan orang Azande percaya bahwa sihir selalu ada, mereka pun sering menjalankan beberapa ritual untuk mencegah atau membatalkan kekuatan sihir yang ditransmisikan secara lokal, mirip seperti ritual tolak bala yang ada di Indonesia. Meski sihir dalam perspektif orang Azande tidak ditransmisikan melalui mantra-mantra tertentu, orang Azande percaya bahwa sihir dapat ditransmisikan melalui benda-benda tertentu melalui kekuatan psikis seorang penyihir. Hanya ada satu cara untuk menetralkan sihir, yaitu dengan nubuat dari oracle dan dukun yang juga mengerti bagaimana cara menangkal ilmu sihir dengan ritual-ritual tertentu.
Sebagai salah satu contoh dari betapa pentingnya ilmu sihir dalam kehidupan masyarakat Azande sehingga membentuk sistem hukum dalam tatanan sosial mereka adalah dengan melakukan pembuktikan terhadap kasus perselingkuhan dengan menggunakan ayam, yang mana dengan perlakuan tertentu terhadap ayam tersebut apabila ayam tersebut tetap hidup, maka perselingkuhan yang dituduhkan tidak pernah terjadi, namun apabila ayam tersebut mati, maka berarti telah terjadi perselingkuhan, dan dengan demikian maka perkara dikembalikan kepada oracle untuk menentukan hukuman apa yang pantas akibat pelanggaran tersebut.
Saya melihat bahwa karya etnografi Pritchard ini bukan saja mendeskripsikan kehidupan orang Azande dalam kaitannya dengan keyakinan mereka yang kuat terhadap aktivitas sihir, namun juga merupakan karya paling awal yang mendeskripsikan keyakinan dan ritus-ritus yang berkaitan dengan magis dan ilmu gaib dalam masyarakat non-Eropa, tentunya dengan konsepsi yang berbeda, karena sudut yang digunakan adalah bagaimana orang Azande melihatnya sebagai suatu bagian dari kehidupan dan keseharian mereka.
Pendekatan Pritchard dikemukakannya secara jelas dalam pengantar bukunya yang menunjukkan bagaimana keyakinan-keyakinan mistik dan ritus membentuk suatu “sistem ideasional”, dan bagaimana sistem ini diekspresikan dalam aksi sosial. Dia menganggap tidak ada gunanya mendeskripsikan aspek-aspek lain dari kehidupan sosial orang Azande. Oleh karena itu penekanannya bersifat intelektual, memfokuskan bagaimana ilmu gaib berkaitan dengan nasib buruk sebagai suatu bentuk penjelasan yang distereotipkan. Dalam konteks ini, maka hampir dipastikan bahwa sihir dan nubuat serta aktor-aktor yang ada di lingkaran tersebut merupakan sentral dari keyakinan yang membentuk tatanan sosial orang Azande.
Pritchard berpandangan secara tegas bahwa keyakinan orang Azande tentang sihir dan nubuat tidak dapat dipahami tanpa konteks sosial dan fungsi sosialnya. Sihir dan nubuat memainkan peran besar dalam memecahkan perselisihan antara orang-orang Azande sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya. Dalam hal ini Pritchard setuju dengan pandangan beberapa peneliti sebelumnya tentang konteks keyakinan yang didefinisikan sebagai agama, bahwa agama mereka juga memiliki aspek intelektual jelas. Keyakinan orang-orang Azande dalam ilmu sihir dan nubuat cukup logis dan konsisten setelah beberapa prinsip-prinsip dasar yang dapat diterima dari kepercayaan mereka.
Membaca karya Pritchard tentang keyakinan orang Azande yang tersentralisasi pada dunia sihir dan magis rasanya tidak lengkap tanpa membuat perbandingan dengan fenomena empiris dengan contoh kasus yang terjadi di Indonesia. Bubandt (2014: 143) yang menggunakan contoh dua kematian mendadak dalam masa-masa menjelang Pilkada di Maluku Utara mencoba menampilkan keyakinan masyarakat Maluku Utara tentang fenomena sihir dan magis yang digunakan dan dipercayai oleh masyarakat, di mana keyakinan ini tumbuh kuat dalam tatanan sosial masyarakat yang meyakini keberadaan aktivitas sihir ini. Di Maluku Utara, persis sama seperti orang-orang Azande, di mana kemampuan sihir diwariskan, pengobatan menggunakan dukun dan ‘orang-orang pandai’ yang didengarkan nubuatnya untuk keluar dari situasi-situasi seperti mencari tahu siapa yang mencuri dengan ritual yang dinamakan ‘mawi’ serta menangkal santet.
Tidak berhenti disitu, kemiripan yang terjadi sebagaimana yang dijelaskan oleh Pritchard tentang orang Azande juga merambah pada aktivitas ekonomi dan matapencaharian, di mana nubuat-nubuat diperlukan untuk menjaga kelangsungan panen dan mengatur cuaca. Warisan-warisan kuno pra-Islam yang menjadi kepercayaan masyarakat Maluku Utara ini juga memberikan gambaran mendalam tentang keyakinan masyarakat pada kekuatan magis yang menguat melalui aspek-aspek tertentu yang membuktikannya, inilah yang kemudian membentuk struktur keyakinan dan pengetahuan masyarakat tradisional tersebut pada aspek metafisik yang kadang-kadang, bertahan, berlanjut dan bertransformasi bahkan hingga saat ini.

REFERENSI
Bubandt, N. (2014). Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Indonesia Kontemporer. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Evans-Pritchard, E. E. (1937). Witchcraft, oracles and magic among the Azande (Vol. 12). London: Oxford.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar