Ilustrasi


PENDAHULUAN

Alasan kenapa teori Adam Smith dan Karl Marx dipilih adalah karena pertentangan di antara kedua teori ini telah sejak lama berlangsung, di mana Karl Marx yang muncul belakangan mengajukan teori-teori yang secara tegas dan substansial bertolakbelakang dengan teori Smith. Dalam bukunya Wealth of Nation, Adam Smith mendapatkan kritikan dan penolakan yang tajam dari Karl Marx, di mana kapitalisme sebagai bentuk baku yang senantiasa diangkat dalam buku tersebut, menurut Marx dianggap sebagai keegoisan tanpa kontrol, meskipun di lain hal, Adam Smith mengajukan sebuah filosofi moral yang dijelaskan dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments.

Karl Marx di sisi yang lain dianggap sebagai candradimuka yang teori-teorinya menentang teori Adam Smith dan juga para pemikir sebelumnya yang berepisentrum pada pola kapitalisme yang individualistik, meski karya-karya Marx tidak hanya mengkritisi sistem ekonomi kapital. Dalam hal yang lain, karya-karya Marx telah dianggap sebagai kitab suci yang dapat dikaji dalam berbagai sudut pandang dan diulas dalam perspektif subjektif seperti ideologi, filsafat, dan lain sebagainya (Rudyansjah, 2011).



KEYAKINAN LIBERAL ADAM SMITH

Adam Smith dalam bukunya The Theory of Moral sentiments mengatakan dalam diri manusia ada yang Namanya moral sentimen yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Dari moral sentimen itulah manusia dapat saling bersimpati antara satu dengan yang lainnya, berproses dan kemudian berkembang dalam suatu dinamika sosial. Berdasarkan teori inilah, Smith mengembangkan pandangan antropologisnya mengenai individualitas sosial manusia (Rudyansjah, 2011).

Smith dalam karya ini juga menjabarkan apa yang menjadi problematika utama ilmu filsafat kontemporer, yakni tentang konstitusi diri (constitution of self). Di mana dalam penjabarannya, Smith menggunakan pendekatan yang intersubjektif, dalam persepsinya Smith berangkat dari pertanyaan bagaimana seseorang memahami orang lain dan apa yang dipahaminya dari orang lain (Smith, 1790). Pembahasan Smith ini berangkat dari teori cermin Leibniz, di mana manusia melihat dirinya sendiri sebagai cara bagaimana dia melihat orang lain. Sederhananya, dalam teori Smith, dikatakan bahwa untuk memahami orang lain, kita harus menempatkan diri kita ke dalam situasi orang lain melalui kemampuan imajinatif yang kita miliki. Smith mengatakan dalam pandangan teoritis tentang cerminnya, bahwa orang lain didefinisikan sebagai sumber dari berbagai nilai yang kita anut, di mana proses yang sama juga terjadi dalam kaitannya dengan diri kita sendiri. Di sisi yang lain, orang lain juga mengembangkan nilai mereka dengan cara mengamati bentuk, perilaku dan penampilan kita. 

Dalam buku selanjutnya yang berjudul Wealth of Nation, Adam Smith merumuskan teorinya yang kemudian menjadi titik berangkat dari teori kapitalisme yang dianut oleh sistem ekonomi liberal. Obsesi yang ditampilkan dalam buku ini adalah bahwa aktifitas ekonomi merupakan suatu aktifitas yang tidak membutuhkan apapun selain kecintaan terhadap diri sendiri (self love), tentu saja ini sangat bertolakbelakang dengan pandangan Smith di buku sebelumnya, The Theory of Moral Sentiments. Menurut Smith dalam Wealth of Nation, manusia sejatinya hanya mengejar kepentingan yang berlandaskan pada kecintaannya terhadap dirinya sendiri, meskipun begitu, pada akhirnya ia melalui kepentingan individual itulah justru telah tanpa sengaja bekerja demi kebaikan bersama.

Teori inilah yang kemudian melahirkan konsep invisible hand, teori yang menjadi dasar pijak dari sistem ekonomi kapitalis. Teori ini menyatakan bahwa setiap konsumen dapat dengan bebas memilih untuk menjual dan membeli barang apapun serta pasar akan mengatur harga barang dan jumlah barang secara tepat. Teori ini mengenal bahwa akan ada efisiensi pasar karena persaingan untuk mendapatkan konsumen dan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Teori ini juga menyatakan bahwa dalam pasar yang dikendalikan oleh invisible hand, di mana pasar bergerak secara bebas melalui kontrol swasta (private control), memberikan keuntungan bagi semua pihak dalam pasar itu sendiri karena setiap keinginan dan kebutuhan untuk mendapatkan dan menjual barang akan membawa keuntungan serta persaingan dalam pasar akan memberi manfaat selama masih dalam kondisi wajar.

Menurut Smith, konsep invisible hand adalah sebuah penilaian moralitas yang diabaikan dan digantikan oleh self-love, di mana manusia dalam berinteraksi menggunakan dua prinsip yang mengkonstitusikan diri orang lain, yaitu impartial spectator without dan impartial spectator within. Merujuk pada konsep authenticity, Smith juga mengungkapkan bahwa atas dasar ketentuan-ketentuan yang berlandaskan pada aspek moralitas, maka penilaian hati nurani (Impartial spectator within) harus ditempatkan lebih tinggi dari impartial spectator without. Sebab melalui cara inilah, manusia dapat menemukan dan menilai intensionalitas situasi yang dihadapinya, sehingga peningkatan diri untuk perbaikan untuk menjadi semakin baik dapat terealisasi.

Di dalam buku Wealth of Nation juga, Smith menyatakan bahwa dalam aktifitas komersial, ada dorongan terhadap peningkatan diri yang memiliki fungsi memberikan suatu dasar yang baik bagi perluasan sistem perdagangan dan manufaktur (Smith, 1904). Prinsip ini bermuara pada lahirnya pembagian kerja yang dilandasi pada pandangan, jika manusia mengerjakan sesuatu, sebagai contoh jika 10 orang diberikan tugas untuk membangun pesawat utuh, maka pekerjaan itu pasti sulit, berbeda dengan ketika 10 orang diberikan tugas masing-masing untuk membangun bagian-bagian dari pesawat itu, ada yang mengerjakan sayap, ada yang mengerjakan mesin, bodi pesawat, hingga kerangkanya, tentu saja akan lebih mudah. Menurut Smith, dinamika ini menyediakan energi yang cukup dan diperlukan bagi kelangsungan sosial masyarakat dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ekonominya. Pada dasarnya, Wealth of Nationsberupaya mendemonstrasikan  bahwa usaha menghilangkan berbagai hambatan terhadap tenaga kerja, harga, dan persediaan barang akan melahirkan kebebasan serta keluasan kepentingan diri (self-interest) yang akhirnya melahirkan kesejahteraan bagi semua orang.

Kelemahan dari teori Adam Smith adalah masifnya ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat, di mana hanya segelintir orang saja yang dapat memperoleh akses terhadap alat-alat produksi untuk kemudian mempergunakannya dalam memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri. Muaranya kemudian adalah terciptanya persaingan bebas, di mana manusia saling berupaya untuk mengalahkan antara satu dengan yang lain demi sebuah tujuan yang cenderung individualistis. Dinamika ini kemudian mereduksi peran negara, sebab negara hanya sebagai pengatur, bukannya pemain. Celah inilah yang gencar dikritik oleh Karl Marx yang bersikeras bahwa sistem liberal-kapitalis sudah seharusnya digantikan dengan sosialis yang lebih humanis dan kolektif.


MATERIALISME HISTORIS DAN HUMANISME MARX

Karl Marx dalam teori awalnya memfokuskan pada kritik teori Hegel dalam bukunya Philosophy of Right. Menurut Marx, pandangan filsafat Hegel adalah konsep lain dari religi, dimana Tuhan dimanifestasikan dalam realitas kekuasaan. Kritik Marx ini dipengaruhi oleh Feuerbach yang menentang idealisme Hegel menuju materialisme. Kritik inilah yang kemudian melahirkan pandangan Marx tentang konsep negara. Di mana dalam pandangan Marx tentang negara, kita bisa melihat bahwa Marx menganggap pada hakikatnya negara adalah negara kelas, yaitu negara secara langsung atau tidak langsung dikuasai oleh orang-orang yang menguasai bidang ekonomi (Marx, 1963). Jadi menurut Marx, negara bukanlah sebuah Lembaga yang mensubordinasi masyarakat tanpa tujuan, tetapi sebuah alat yang dipakai oleh pemilik modal dalam mempertahankan kekuasaannya.

Filsafat “naturalisme atau humanisme” yang menjadi proyek pengetahuan Marx, membangun pemikiran Marx mengenai masyarakat dan realitas sosial dengan bantuan metode dialektika Hegel yang ia fabrikasi sedemikian rupa. Marx melihat kehidupan masyarakat yang tersubordinasi oleh negara dan hukum-hukum yang ada didalam negara tersebut tidak boleh hanya dipahami dari ide-ide yang hanya dibayangkan dalam pikiran, tetapi juga harus memperhatikan dengan cermat kondisi-kondisi kehidupan materialnya. Secara tegas Marx menyatakan eratnya hubungan antara situasi ekonomi dan politik suatu negara dengan anatomi masyarakat yang tersubordinasi oleh negara tersebut.

Dengan begini, kita melihat bahwa pandangan Marx berbeda secara substansial dengan pandangan Hegel yang mengatakan bahwa kekuasaan adalah jembatan penghubung antara masyarakat dan negara, menurut Marx kekuasaan atau birokrasi tidak lebih dari alat yang digunakan oleh orang yang menguasai bidang ekonomi untuk mewujudkan kepentingan sekelompok kecil orang. 

Pada perkembangan selanjutnya, Marx kemudian membangun kritik yang konsisten terhadap sistem ekonomi liberal yang ditelurkan oleh Adam Smith, dalam sebagian besar pemikirannya, Marx mengargumentasikan akibat yang ditimbulkan dari sistem ekonomi liberal dan kapitalis, di mana Marx sendiri menggunakan begitu banyak pendekatan dalam kritikannya itu, yakni moral, etika, sosial, politik, sejarah, falsafah, serta aspek ekonomi itu sendiri (Marx, 1983). Marx mengemukakan bahwa sistem kapitalisme menciptakan adanya kelas borjuis yang merupakan pemegang modal dan faktor produksi yang mendapatkan kekayaannya dari kelas proletar yang merupakan kaum buruh dan pekerja. Pada akhirnya, menurut Marx, berbagai dampak buruk yang muncul karena diterapkannya kapitalisme harusnya diatasi dengan menerapkan sistem sosialis/komunis dimana tidak akan ada perbedaan kelas dan semua orang mendapatkan kedudukan serta kekayaan yang sama.

    Menurut Marx, sistem sosialis/komunis adalah sistem yang paling baik dalam menjalankan mekanisme pasar karena sistem kapitalis telah terbukti menciptakan ketidakadilan yang kemudian akan membawa masyarakat ke arah kondisi ekonomi dan sosial yang tidak bisa dipertahankan. Marx mengatakan bahwa sistem kapitalis-liberal dapat menjadi sumber konflik antara kelas borjuis dan kelas proletar sehingga untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan sistem sosialis/komunis sebagai usaha untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas (Deliarnov, 2003). Menurut Marx, pembangunan tidak akan terkendala apabila hubungan yang lebih manusiawi tercipta sehingga dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Di sisi yang lain, meski keras mengkritisi kelas borjuis, menurut Marx, kelas tersebut masih mungkin untuk meraih kemampuan untuk bisa memahami relasi mereka dengan bentuk masyarakat sebelumnya (Rudyansjah, 2011).

Sebagai kelanjutan dari kritikan Marx terhadap kapitalisme, lahirlah teori alienasi, yaitu teori yang berkaitan dengan situasi yang dijalankan oleh tenaga kerja selama berproduksi berkaitan dengan peran yang mereka jalankan dalam sosialnya yang dibatasi oleh batasan-batasan yang mengungkung. Poin penting dari teori alienasi lainnya adalah perhatian besar Marx terhadap kemanusiaan yang tidak lagi manusiawi dalam sistem ekonomi kapitalis. Hal inilah yang mendasari Marx untuk menyatakan sikap ketidaksetujuan terhadap sistem ekonomi ini dan memprediksi akan terjadi revolusi sosial di kepemimpinan kelas pekerja. Kelas yang dipercaya Marx sebagai kelas yang paling tereksploitasi, teralienasi, dan sisi kemanusiaannya yang paling mengancam. Revolusi dalam usaha pengembaliaan kemanusiaan dan pembebasan, menurut Marx akan dimulai dari kelas ini.

Marx dalam tulisannya senantiasa ‘mengagungkan’ kelas proletariat yang ia sebut sebagai penyandang tugas historis untuk membebaskan manusia dari alienasi yang mendera mereka. Kenapa harus proletar yang menyandang tugas tersebut dan bukannya borjuis? Sebab kelas proletar ketika ditekan dalam suatu kondisi tertentu, di mana hingga kesemuanya dari yang ada pada diri mereka habis, maka tetap saja, yang tersisa adalah aspek kemanusiaan atau humanisme. Pada akhirnya, konsep-konsep yang ingin disampaikan oleh Marx berkiblat pada isu-isu humanisme kolektif yang berbeda dengan liberalisme individualistik yang diajukan oleh Adam Smith, yang kemudian menjadi cikal-bakal pertentangan dua ideologi besar dunia saat ini.

Meski demikian, terdapat beberapa kekurangan fundamental dari teori Karl Marx tentang kelas, yakni ketidakmampuannya menciptakan kesadaran kolektif kaum proletar secara permanen, di mana pada beberapa negara yang berhaluan komunis dan sosialis pun, kaum proletar tetap tidak mendapatkan tempat. Selain itu, cara Marx yang terlalu menyederhanakan konflik antar kelas dengan membangun argumentasi tunggal yang menghendaki pembubaran sebuah negara dengan sistem liberal-kapital untuk kemudian diganti dengan negara yang berhaluan komunis-sosialis, pada kenyataannya hal tersebut tidak sesederhana yang dikatakan Marx, sebab kemudian muncul konflik berkepanjangan yang tidak murni terlahir dari pertentangan antar kelas.

      



REFERENSI


Deliarnov. (2003). Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo

Marx, Karl. (1963). Early Writings. London: Mcgraw-Hill

Marx, Karl. (1983) Capital. 3 Jilid. Harmondsworth: Penguin Books

Marx, Karl., & Engels, F. (2009). The economic and philosophic manuscripts of 1844 and the Communist manifesto. Prometheus Books.

Rudyansjah, Tony. (2011). Alam, Kebudayaan & Yang Ilahi. Jakarta: Titian Budaya.

Smith, A. (1904). Wealth of Nations. Indianapolis: Liberty Fund.

Smith, A. (2006). The Theory of Moral Sentiments. 1790. Sao Paolo: MetaLibri.




Tags: ARTIKELFILSAFATSOSIAL

Posting Komentar

0 Komentar

Langsung ke konten utama