Ilustrasi AI | Sumber: www.inbenta.com

Pendahuluan

Semenjak internet diperkenalkan kepada publik dan semenjak Silicon Valley di California, Amerika Serikat berkembang pesat dengan berbagai penemuan baru di bidang teknologi, laju perkembangan sejarah umat manusia di bidang informasi dan komunikasi semakin tidak terbendung.

Perkembangan di ranah ini dimulai pada tahun 1947 ketika  sebuah transistor ditemukan di laboratorium Bell di Amerika Serikat yang kemudian berlanjut pada penemuan chip mikroprosesor pada tahun 1960. Pada tahun 1980, telepon seluler diperkenalkan untuk pertama kalinya, berlanjut pada 1991 ketika sistem komunikasi satelit diperkenalkan ke publik. Semuanya seakan mencapai puncak akselerasinya ketika memasuki tahun 2000, penemuan Google, Friendster, Facebook dan berbagai perangkat canggih mengubah dunia 1990-an yang serba manual menjadi lebih terdigitalisasi.

Saat ini, dunia sedang memasuki babak baru dari ketidakterbatasan terhadap akses teknologi, proses tersebut dinamakan dengan Revolusi Industri 4.0. Era ini menandai konektifitas yang tidak terbatas dengan dunia berada pada ‘satu atap’. Akses informasi serba dipercepat, teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dikembangkan untuk menggantikan peran manusia.

Integrasi teknologi informasi dan komunikasi ini secara langsung pada perkembangan sosial dan kebudayaan manusia dalam satu dekade terakhir, di setiap aspek perubahan itu nampak jelas, seseorang dapat dengan mudah berhubungan dengan semua orang yang berada di belahan dunia lain kapan saja ia mau. Era ini diramalkan oleh Howard Rheingold (1994: 39) sebagai ‘proses digitalisasi manusia’ dengan kebudayaan baru yang benar-benar unik serta jauh berbeda dengan dunia yang kita kenal sebelumnya.


Perubahan Kehidupan Sosial-Budaya

Perubahan yang menyangkut kehidupan manusia di sebut perubahan sosial dan budaya, perubahan ini dapat mengenai nilai-nilai sosial, nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Karena luasnya bidang di mana mungkin terjadi perubahan-perubahan tersebut. Menurut Wibert Moore (dalam Jacobus Ranjabar 2008:15) perubahan sosial bukanlah suatu gejala masyarakat modern tetapi sebuah hal yang universal dalam pengalaman hidup manusia. Ini berarti bahwa perubahan dapat terjadi dalam kondisi apa saja.

Telah disebutkan di awal bahwa perkembangan teknologi yang disebut internet, telah mengubah pola interaksi masyarakat, yaitu; interaksi bisnis, ekonomi, sosial, dan budaya. Internet telah memberikan kontribusi yang demikian besar bagi masyarakat, perusahaan atau industri maupun pemerintah. Hadirnya internet telah menunjang efektifitas dan efisiensi, terutama peranannya sebagai sarana komunikasi, publikasi, serta sarana untuk mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan.

Dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi paling mutakhir yang demikian pesat, salah satu aspek kehidupan sosial dan budaya yang terdampak langsung adalah aspek pergaulan manusia, bagaimana interaksi mereka, bagaimana implikasinya pada kelangsungan kehidupan sosial. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang melahirkan media sosial memiliki andil besar dalam perubahan pola sosial dan budaya ini.

Media sosial telah berkontribusi penting pada proses ‘unifikasi’ manusia ke dalam suatu ruang tunggal yang tidak terbatas. Di ruang tersebut, intensitas komunikasi massal tidak terbendung dan berlangsung secara dinamis dari waktu ke waktu. Manusia tanpa pernah bertatap muka bisa saja menjadi akrab dan membangun keterikatan personal satu sama lain. Komunikasi mereka dihubungkan melalui teks yang dikirimkan sistem yang terdiri dari algoritma-algoritma komando perpesanan. Di sisi yang lain, komunikasi melalui video dan virtual reality dapat memangkas jarak dan waktu. Hal ini tentu berdampak pada bagaimana proses interaksi antar manusia dapat terjadi.

Kita tahu bahwa interaksi manusia adalah elemen penting pembentuk kebudayaan, disanalah proses sosial terjadi. Ketika terjadi perubahan pola interaksi, maka sudah pasti kebudayaan dan proses sosial pun akan berubah. Dengan melihat fakta perkembangan media sosial saat ini, kekhawatiran Sherry Turkle (2017: 23) bahwa media sosial mengendalikan kehidupan sosial manusia nampaknya sudah terwujud. Dalam lima tahun terakhir, terjadi peningkatan yang sangat signifikan dalam hal penggunaan media sosial. Berbagai infensi di bidang ini terus berlangsung, sejalan dengan dinamikanya yang terus melahirkan banyak hal-hal baru yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sosial.

Perubahan yang dihadirkan oleh media sosial tidak hanya merambah unit keluarga, di mana kehidupan keluarga dan keterikatannya tidak lagi seintim ketika media sosial belum ditemukan. Proses aktualisasi diri di media sosial oleh individu-individu memunculkan persoalan baru berupa renggangnya ikatan kekeluargaan, di mana seseorang lebih memilih bermedia sosial daripada bergaul secara sosial.

Di sisi yang lain, media sosial juga telah menginisiasi terjadinya gerakan politik baru, revolusi di Libya, Mesir dan Tunisia adalah contoh kongkrit bagaimana sebuah pergerakan sosial dimulai untuk kemudian berkontribusi pada proses peralihan kekuasaan yang sejak dulu hanya dapat terjadi secara evolusioner dan terstruktur oleh tokoh penggerak perubahan. Munculnya komunitas cyber dengan jenis interaksi virtual adalah warna lain dari pola interaksi massal ini, sebab dari sinilah proses sosial ditentukan secara cepat, dimulai dari pergantian kepemimpinan, perubahan kebijakan, protes terhadap sesuatu, semuanya serba bisa hanya dengan melakukan petisi daring yang berujung pada gerakan-gerakan yang lebih kongkrit.

Di balik kemudahan-kemudahan yang disediakannya, media sosial pada aspek yang lain juga berperan serta dalam mengeliminir kebudayaan fisik, berikut artefak-artefak yang menjadi produk turunannya. Proses digitalisasi besar-besaran dilakukan untuk mereduksi dampak ini, tetapi ancaman terhadap punahnya proses interaksi yang bersifat riil tidak terhindarkan.


Kecerdasan Buatan dan Implikasinya

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) adalah penemuan baru yang terus dikembangkan untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan beberapa pekerjaan tertentu. Kecerdasan buatan dianggap sebagai salah satu dari empat penemuan umat manusia yang paling penting, selain api, roda dan listrik. Melihat fungsinya, tentu saja penemuan ini akan mengubah sejarah peradaban spesies ini di masa akan datang. Cepat atau lambat, penemuan ini akan merevolusi kehidupan umat manusia. Artificial Intelligence yang saat ini masih lebih banyak digunakan di dunia digital akan jauh merambah ke kehidupan sehari-hari ketika mobil, pesawat, dan kapal sudah bergerak tanpa perlu diawaki.

Saat ini, hampir semua sektor industri di bidang teknologi informasi telah menggunakan Artificial Intelligence, perusahaan raksasa teknologi informasi seperti Google, Facebook, Alibaba dan Amazon adalah beberapa diantara yang telah menerapkan teknologi AI di produk-produk mereka. Bahkan pada tahun 2017 perusahaan jasa asuransi Jepang, Fukoku Mutual Life Insurance, mengumumkan akan mengganti lebih dari 30 karyawannya dengan peranti lunak berbasis kecerdasan buatan yang diproduksi oleh IBM Watson. Keputusan itu diambil manajemen untuk mengefisienkan pengeluaran, sekaligus mengoptimalkan kecepatan dan keakuratan informasi klaim asuransi bagi nasabah.

Kecerdasan buatan mendorong komputerisasi manusia, dengan demikian maka semua aktifitas manusia akan diinput kedalam program-program perintah yang kaku dan pasti. Hal ini tentu saja berpengaruh pada pola proses sosial manusia yang dinamis. Manusia memiliki kebudayaan yang menjamin ‘kemanusiaan’ itu sendiri, hadirnya kecerdasan buatan akan berdampak pada terhentinya proses sosial manusia pada beberapa bidang, hal ini secara jangka panjang akan mengakibatkan terhapusnya kebudayaan atau bahkan umat manusia itu sendiri.


Kesimpulan

Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi secara langsung berdampak pada efisiensi dan kemudahan dalam melakukan banyak hal, manusia dapat saling terhubung dengan mudah satu sama lain. Disamping itu, kemudahan untuk mendapatkan akses informasi semakin terbuka, berita tentang suatu kejadian kecil yang terjadi di suatu desa bisa saja tersebar ke seluruh dunia dan diketahui oleh banyak orang bisa tejadi hanya dalam hitungan detik. Meski begitu, ada beberapa dampak negatif yang secara langsung mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya umat manusia, beberapa di antaranya adalah:

  • a. Perilaku individual, dalam lima tahun terakhir, muncul fenomena di mana manusia lebih memilih untuk bermedia sosial daripada masuk ke dalam kehidupan sosial yang riil.
  • b. Memudarnya adab-adab dalam berinteraksi, banyak diantara proses sosial manusia terjadi ketika berinteraksi antara satu sama lain. Hadirnya media sosial membuat interaksi antar manusia tidak lagi mengenal adab yang menjadi kekhasan yang berbeda di setiap tempat di dunia. Pada akhirnya, seluruh umat manusia disatukan oleh adab global yang jauh dari keharusan.

Perubahan sosial dan budaya juga semakin nyata dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Dalam jangka waktu tertentu, ini akan berdampak pada komputerisasi umat manusia di mana semua pekerjaan yang secara tradisional dilakukan manusia diambil alih oleh robot yang diperintah oleh sistem kecerdasan buatan. Hal ini akan berdampak secara langsung pada proses sosial dan kebudayaan umat manusia yang lambat laun terus terjadi.


Referensi

Ranjabar, J. (2008). Perubahan sosial dalam teori makro: pendekatan realitas sosial: perubahan sosial kontemporer di Indonesia: kenyataan dan harapan kemajuan ke depan. Alfabeta, Bandung.

Rheingold, H. (1994). The virtual community: surfing the internet. Minerva, London.

Turkle, S. (2017). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Hachette UK.

Tags: ARTIKELESAISOSIAL

Posting Komentar

0 Komentar

Langsung ke konten utama