Ilustrasi Dark Matter | Sumber: Livescience.com
Sebelum memulai, saya ingin menekankan bahwa tulisan ini adalah rangkuman-rangkuman yang disederhanakan dari berbagai temuan saintifik dan lompatan-lompatan yang sejauh ini telah dicapai oleh umat manusia dalam upaya mereka memahami alam semesta. Mungkin dengan membaca tulisan ini kita bisa tahu alasan kenapa para ilmuwan lebih banyak mengalienasi keberadaan Tuhan dari kepala dan hati mereka. Karena itulah, saya berharap agar anda mempertebal iman anda sebelum menyelami tulisan singkat ini.

Sepakati dulu jika Tuhan yang anda yakini berada di luar hukum-hukum fisika alam semesta yang dipahami oleh umat manusia selama ini.

Baiklah, sekarang mari kita mulai. Sebenarnya membahas tentang sains alam semesta dan bagaimana ia berproses dalam lingkup kesepakatan para ilmuwan adalah sesuatu yang sangat sulit, terlebih ada begitu banyak pandangan yang semuanya belum mencapai konklusi praktis untuk kita terima secara utuh.

Dalam pembahasan ini kita akan menemukan sudut pandang berkelindan tentang kemungkinan adanya campur tangan Tuhan dalam proses pembentukan alam semesta itu sendiri. Jadi saya akan mulai dengan proses pembentukan alam semesta dulu.

Sebagaimana kita tahu, proses pembentukan alam semesta dilandasi oleh dua teori besar, yang pertama adalah teori bigbang, teori ini tidak bertahan lama dan menjadi tidak populer sejak relativitas Einstein menyeruak. Dalam konsepsi teori bigbang, 13 miliar tahun yang lalu segala sesuatu meledak dari ketiadaan, sebelum terjadinya ledakan besar alam semesta adalah kehampaan.

Konsekuensi dari teori ini adalah ketidakmampuan para ilmuwan dalam menjawab pertanyaan jika ketiadaan ruang dan waktu sebelum bigbang maka tentu saja yang meledak ini apa? Dalam kehampaan, bagaimana bisa ada materi dan energi? Jika tidak ada materi dan energi, maka sudah tentu ada pelecut metafisis yang bekerja untuk menginisiasi ledakan besar tersebut. Siapa pelecut itu? Apakah Tuhan?
Ilustrasi Bigbang | Sumber: express.co.uk
Karenanya, untuk menggenapi teori ledakan besar tersebut, disesuaikanlah dengan teori relativitas Einstein. Maka kemudian muncullah teori kedua yakni teori rengkuhan besar. Berdasarkan teori rengkuhan besar, ledakan besar alam semesta sebenarnya berasal dari konstanta yang berhenti mengembang, lalu kembali ke pelecut awal. Sederhananya, seperti mengempis dan mengembang. Sebagai contoh, jika kita melempar batu ke atas, semakin jauh batu tersebut menuju ke atas maka akan semakin melambat, lalu ketika energi yang diberikan dari lemparan kita habis maka ia akan kembali ke tempat di mana ia berasal. Merengkuh, lalu kemudian meledak lagi, berulang, begitu seterusnya.

Namun demikian, ada celah yang menjadi sumber interupsi dari teori rengkuhan besar ini. Baru-baru ini para ilmuwan menemukan bahwa pergerakan meluasnya alam semesta justru lebih cepat dari keadaan ketika awal-awal terjadinya ledakan besar (bigbang). Semestinya, berdasarkan hukum dari teori bigbang maka saat ini pergerakan alam semesta harusnya semakin melambat seiring dengan semakin menjauhnya setiap materi dari titik ledakan.

Fakta baru ini kemudian melahirkan spekulasi tentang keberadaan energi gelap (dark matter). Energi gelap ini adalah energi yang diketahui keberadaannya melalui perhitungan matematis di bidang fisika kuantum tetapi kita belum bisa menemukan dan menjelaskannya lebih dari itu.

Secara saintifik, energi gelap disepakati oleh para ilmuwan adalah energi yang mendominasi alam semesta, melebihi dari segala bentuk energi yang secara faktual dan paradigmatik yang kita kenal sejauh ini. Keberadaan energi gelap secara esensial bisa jadi mendegradasi teori rengkuhan besar sebagai awal-mula bigbang atau ledakan besar.

Jika teori tersebut didegradasi, maka pertanyaan berikutnya adalah apa yang menjadi awal-mula terjadinya ledakan besar? Untuk menjawab ini, maka sains berusaha mengkorelasikan berbagai teori dan substansi yang sejauh ini telah diketahui di alam semesta. Keberadaan lubang putih (white hole) sebagai kebalikan dari lubang hitam (black hole) bisa saja menjadi kunci bagi teka-teki yang selama ini dicari oleh para ilmuwan.
Lubang Hitam Menelan Cahaya: Sumber: Nasa.gov
Keberadaan lubang putih memang baru dikonfirmasi dalam tataran persamaan matematis, belum dikonfirmasi secara faktual sebagaimana lubang hitam. Sama seperti lubang hitam yang telah lama diketahui keberadaannya secara matematis dan baru dikonfirmasi secara faktual manakala para ilmuwan dengan teknologi mutakhir mampu mengamati keberadaan lubang hitam.

Teknologi mutakhir memungkinkan para ilmuwan mengamati cakrawala peristiwa (event horison) dari lubang hitam, di mana substansi tersebut secara konstan menghisap apa saja di sekelilingnya. Gravitasi lubang hitam dianggap sangat kuat, sehingga bahkan cahaya pun tidak akan mungkin lolos dari tarikannya.

Proses terbentuknya lubang hitam adalah hasil dari luruhnya (collapse) materi seperti matahari menuju ke intinya. Keruntuhan gravitasi ke tengah dalam proses pembentukan lubang hitam ini dapat dijelaskan dalam prinsip-prinsip hukum fisika kuantum.

Sebagai gambaran, tubuh kita yang material ini sebenarnya 99,999% adalah ruang hampa, alias kosong. Jika kita direngkuh dalam proses atomik, maka kita akan nyaris tidak ada. Demikian halnya bintang-bintang yang kolaps ke intinya, bintang-bintang yang tadinya sebesar lima kali matahari termampatkan hingga menjadi sangat kecil, dengan semakin kecil dan padatnya substansi tersebut maka gravitasinya pun semakin besar dan menjadi sangat luarbiasa, sehingga ia akan menelan benda apa saja termasuk cahaya yang ada di dekatnya.

Diyakini, di dalam lubang hitam yang disebut juga singularitas, tidak ada ruang dan waktu. Segala sesuatunya menjadi ‘gaib’, hilang begitu saja jika sudah terjebak dalam cakrawala peristiwanya. Lubang hitam ada bermacam ukurannya, mulai dari yang paling kecil seperti yang digambarkan dalam film Interstellar hingga lubang hitam supermasif yang bahkan lebih besar ukurannya dibanding tata surya kita.

Pertanyaannya adalah ke mana semua materi yang terhisap ke dalam lubang hitam? Apakah benar-benar lenyap begitu saja? Secara teoritik, segala reaksi yang terjadi di alam semesta ini pasti akan memiliki jejak, meskipun strukturnya secara material bisa berubah total. Bahkan energi pun tidak bisa lenyap begitu saja, karena dalam suatu reaksi tentu ia akan berubah ke dalam bentuk lainnya. Oleh karena itu, menurut Stephen Hawking, segala sesuatu yang tertelan dan lenyap ke dalam lubang hitam, dihipotesiskan memiliki residu, ia akan berubah dalam bentuk yang lain, tidak hilang begitu saja.

Maka kemudian lahirlah persamaan matematis yang hipotetik tentang keberadaan lubang putih sebagai kebalikan dari lubang hitam. Jika lubang hitam menghisap apapun yang ada di dekatnya maka lubang putih menolak apapun yang mendekatinya, meski cahaya dan materi keluar darinya, tetapi apapun yang ada di dalam semesta ini tidak dapat memasukinya dari luar.

Lalu di mana keberadaan lubang putih? Ini adalah tugas panjang para ilmuwan dalam memvalidasi keberadaannya. Carlo Rovelli dalam publikasinya yang berjudul White-hole Dark Matter and The Origin of Past Low-entropy mengatakan keberadaan lubang hitam sebenarnya adalah titik awal pembuktian keberadaan lubang putih. Jika lubang putih ditemukan maka tentu saja ini akan menjawab begitu banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum bigbang.

Para fisikawan telah lama berdebat tentang efek dilasi waktu yang buruk di sekitar cakrawala peristiwa lubang hitam sehingga lubang putih tidak bisa dikonklusikan berada di sekitaran lubang hitam. Maka kemungkinan yang paling bisa diterima adalah lubang putih justru muncul di awal bigbang, sebab inilah situasi di mana materi dan energi bisa muncul secara tiba-tiba.

Hipotesis ini selaras dengan sifat lubang putih yang menolak/menyemburkan/melepaskan energi, materi, cahaya dan sebagainya. Jika dinamika ini benar adanya, maka bisa dikhayalkan jika alam semesta sebenarnya menjalani siklus pendauran ulang di setiap era, di mana lubang hitam menyerap apapun untuk kemudian dilepaskan lagi secara akumulatif oleh lubang putih pada permulaan ruang dan waktu.

Sebagai gambaran, Roger Penrose bersama Stephen Hawking dalam buku The Nature of Space and Time mengumpamakan kita sebagai partikel hipotesis yang masuk ke dalam cakrawala peristiwa lubang hitam, maka kita akan melihat masa lalu yang tak terhingga dari alam semesta kita yang tercermin dari singularitas repulsif gravitasi. Berikutnya partikel kita akan masuk pada cakrawala dalam lubang putih, di mana yang nampak kemudian adalah masa depan tak terhingga dari alam semesta kita. Begitu kita tiba pada cakrawala peristiwa sebelum dihempaskan oleh lubang putih, maka yang nampak adalah masa lalu tak terhingga dari alam semesta yang baru. Saat itulah alam semesta bermula dan bigbang baru saja terjadi.

Siklus lubang hitam dan lubang putih yang dikaitkan sebagai proses awal terjadinya bigbang kemudian melahirkan banyak rangkaian hipotesis baru tentang keberadaan alam semesta paralel (multiversum). Mengesampingkan pengulangan proses waktu yang menuju pada ekuilbrium, bisa jadi lubang putih adalah mekanisme tak terhingga yang berlangsung pada saat yang sama, sehingga prosesnya selalu melahirkan alam semesta-alam semesta lain yang berada pada dimensi yang berbeda dengan alam semesta kita saat ini.

Mengutip dari Hugh Everett, Hillary Greaves dalam publikasi berjudul Probability in The Everett Interpretation mengatakan bahwa tidak mungkin hanya ada satu alam semesta, bisa jadi alam semesta bercabang sebanyak kemungkinan yang dapat berlaku. Artinya, selain alam semesta kita, juga ada kemungkinan eksistensi alam semesta lainnya.

Alam semesta lain tersebut jumlahnya bisa tak terhingga. Setiap di dalamnya melangsungkan segala kemungkinan dari masing-masing alam semesta, sehingga bisa jadi presiden negara Indonesia di alam semesta ke-3000 adalah Tukul Arwana, atau bisa jadi juga negara Indonesia masih bernama Majapahit yang dipimpin oleh Aldi Taher di alam semesta ke-5000.
Ilustrasi dunia paralel | Sumber: Wionews.com
Pada tahap berikutnya, teori multiversum apabila diakui, di mana alam semesta paralel benar-benar ada, berarti akan menjadi jalan bagi perangkat teori simulation hypothesis yang secara gamblang menyatakan bahwa alam semesta kita dan juga alam semesta yang lain sebenarnya berbentuk matrix. Artinya kita bisa jadi hidup di dalam dunia data yang sangat besar dan dirancang atau diciptakan oleh suatu kecerdasan yang sangat luarbiasa. Salah seorang pencetus teori bigbang yakni Fred Hoyle yang takjub pada kebetulan gaya nuklir yang tepat sehingga mengisiasi pembentukan karbon di inti bintang yang jadi cikal-bakal makhluk hidup, Hoyle yang demikian terpesona mengatakan ini sebagai ‘a divine conspiration’ atau sebuah konspirasi terencana.

Kemungkinan bahwa kita hidup dalam dunia data atau dunia matrix diyakini oleh Elon Musk dengan melihat perkembangan yang telah dicapai oleh peradaban umat manusia di bidang rekayasa teknologi virtual, ada Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) yang bisa jadi gambaran bahwa sebenarnya manusia juga hidup di dalam dunia tersebut, Musk yakin bahwa kemungkinan manusia hidup dalam dunia realitas atau dunia nyata dengan segala kesadaran dan pengetahuan kita saat ini hanyalah ‘satu berbanding miliaran’. Itu berarti bahwa kita sebenarnya hidup di dalam ruang, waktu dan materi yang berbentuk data. Realitas yang kita kenal selama ini nyatanya hanyalah realitas palsu yang tersusun oleh impuls-impuls fatamorgana.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapakah yang menciptakan simulasi matrix ini? Para ilmuwan bekerja keras dengan memberikan nama sementara; yakni Para Simulator, yaitu yang diyakini sebagai suatu kecerdasan tak terbayangkan. Di sini para ilmuwan mengisyaratkan eksistensi ‘Perancang Cerdas’ tetapi mereka tetap berusaha menghindari penjelasan yang mencakup istilah ‘Tuhan’.

Apakah benar alam semesta berbentuk matrix? Bagaimana menjelaskan hipotesis aneh nan rumit ini agar bisa dipahami? Sebagai gambaran pengantar, bayangkan sebuah game komputer di mana kita hidup di dalamnya sebagai karakter-karakter yang sudah diciptakan spesifik. Gambaran lain adalah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang kita ciptakan, contohnya seperti komputer AI bernama Alice dan Bob yang diciptakan oleh Facebook pada 2017, kedua sistem komputer ini terpaksa dimatikan (shutdown) oleh Facebook karena semakin lama ternyata keduanya berbincang dengan bahasa mereka sendiri.
Ilustrasi Bentuk Kehidupan Matrix | Sumber: Nepthage.com
Dalam paradigma pencetus teori dunia simulasi matrix, kita adalah simulator yang menciptakan game-game yang hidup di alam semesta mereka sendiri dengan segelintir data yang menjadi ruang hidupnya. Sementara itu di atas kita, ada simulator yang menciptakan kita dengan kompleksitas yang luarbiasa agar dapat eksis dalam dunia matrix yang dapat mereka pantau, entah dengan motivasi apa.

Lantas bagaimana kehidupan matrix ini bekerja? Bagaimana ia berawal dan bagaimana ia berakhir? Kita ingat kata-kata Hawking yang percaya bahwa kematian adalah akhir dari segalanya, seperti sebuah komputer yang tiba-tiba dimatikan, gelap, selesai. Hipotesis False-vacuum (Vakum Palsu) mungkin adalah penunjang keyakinan Hawking. Jaume Garriga dalam artikel Recycling Universe melanjutkan keyakinan para ilmuwan tentang situasi runtuhnya pondasi mendasar dari kehidupan yang mengacu pada bentuk matrix, bayangkan alam semesta ini bisa secara tiba-tiba hilang, seperti televisi yang dicabut kabelnya.

Peristiwa ini dinamakan peluruhan vakum (vacuum decay), Jailson Alcaniz mengatakan ini bisa terjadi kapan saja, selama ini kita mengira bahwa struktur pondasi alam semesta bersifat stabil ternyata mungkin tidak stabil, bahasa kerennya adalah metastabil. Jika struktur ini tiba-tiba roboh, maka bayangkan seperti kita sedang menonton sebuah televisi yang tiba-tiba mati ketika listrik padam.
Para ilmuwan berkelakar, bisa jadi kiamat itu berbentuk seperti peristiwa vacuum decay, jadi ketika para ‘simulator’ dalam perspektif bentuk kehidupan matrix merasa bosan memainkan simulasi yang mana kita berada di dalamnya, mereka bisa saja mematikannya. Lalu semuanya selesai, tidak bersisa.
Ilustrasi Vacuum Decay | Sumber: Gfycat.com
Rangkaian hipotesis beserta pembuktian-pembuktian rumit seperti yang saya rangkumkan di atas adalah gambaran dari bagaimana para ilmuwan bekerja dan menemukan ‘Rupa Tuhan’, anomalinya adalah meski temuan-temuan tersebut mendekati pada kesimpulan tentang keberadaan 'Perancang Agung', mereka tetap menjauhi kesimpulan yang dianggap pragmatis tersebut, Tuhan oleh para ilmuwan masih seolah-olah terus disudutkan menjadi hanya sebatas produk kebudayaan manusia yang tidak relevan dengan penemuan-penemuan mereka.

Ini sangat sulit dimengerti, sebab dalam ketakjuban para ilmuwan-ilmuwan itu menemukan hal-hal baru di alam semesta, mereka terus saja mempertahankan keangkuhan humanistiknya.

Lantas sejauh mana kita bisa bergerak ke arah pembuktian pada hipotesis-hipotesis tersebut sementara kita masih dinaungi oleh berbagai batasan-batasan yang sangat sukar dilompati?

Untuk mengukur kemampuan umat manusia dalam ‘mendekati’ Tuhan, Kardachev Scale adalah sebuah indikator spekulatif yang mungkin bisa menjadi rujukan. Skala Kardachev dicetuskan oleh seorang astronom Uni Soviet bernama Nikolai Kardachev, menurutnya kemajuan teknologi umat manusia dapat dibagi ke dalam empat tipe; tipe 0, yaitu peradaban saat ini yang baru bisa memanfaatkan sumberdaya dan energi dari sumber organik, seperti kayu, batu bara dan minyak di planet bumi. Tipe I, adalah peradaban di mana manusia telah sepenuhnya memanfaatkan segala sumberdaya yang tersedia di planet asalnya. Tipe II adalah budaya peradaban di mana manusia telah memasuki ruang eksplorasi antar planet dan bintang.
Skala Kardachev | Sumber: Hhsbanner.com
Pada tipe III skala Kardachev, ia memprediksikan kemampuan manusia dalam menjelajahi galaksinya dan telah berdiaspora ke beberapa planet di zona Goldilocks yang nantinya akan ditemukan. Tipe IV atau tipe terakhir skala Kardachev adalah peradaban di mana manusia telah mencapai kemampuan menjelajahi ruang antar galaksi di seluruh penjuru alam semesta, hal ini dimungkinkan karena manusia telah mampu mengubah struktur ruang dan waktu. Tentu saja, skala Kardachev ini akan berlangsung dalam waktu jutaan tahun ke depan.

Demikian panjangnya perjalanan yang harus ditempuh oleh peradaban umat manusia dalam memahami hakikat alam semesta, menjadi gambaran tentang bagaimana spesies ini memanfaatkan dengan sebaik mungkin keistimewaan berupa akal dan pikiran yang ada padanya.

Meski pada perkembangan yang terus-menerus terjadi, perjalanan ini menempatkan logika manusia pada posisi seperti mengkonfirmasi ada tidaknya Tuhan sebagai perancang agung, tetapi satu hal yang perlu menjadi catatan paling krusial adalah logika manusia berbeda dengan logika Tuhan, sehingga nampaknya akan sangat lucu ketika manusia bernafsu mencari tahu ada apa dibalik lubang hitam (black hole) ketika mereka justru berulangkali gagal menyatukan konklusi saintifik tentang pertanyaan abadi; ada apa di balik sebuah peristiwa kematian mereka sendiri.

Sekali lagi, sangat lucu melihat manusia bernafsu mencari tahu ada apa dibalik lubang hitam (black hole) ketika mereka justru berulangkali gagal menyatukan konklusi saintifik tentang pertanyaan abadi; ada apa di balik sebuah peristiwa kematian mereka sendiri. 

Sekian. 

Tags: ARTIKELESAIFILSAFATSAINSSOSIAL

Posting Komentar

0 Komentar

Langsung ke konten utama